Renungan Harian, 12 Februari 2026

Efesus 1:4–5

“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,”

 

Pengantar

Sering kali kita bertanya: “Siapa saya di mata Allah?” Dunia bisa saja menilai kita dari pencapaian, status, atau popularitas. Namun, Paulus dalam Efesus 1:4–5 mengingatkan bahwa identitas kita jauh lebih dalam daripada sekadar apa yang kita capai. Kita adalah orang-orang yang telah dipilih Allah sejak semula.

 

Isi Renungan

Berbicara tentang pilihan tentu berangkat dari keputusan, maksud dan tujuan tertentu. Tetapi tidak semua maksud dan tujuan itu berdampak baik. eklegomai berarti “memilih dengan tujuan dan kasih.” Ketika Allah memilih kita, ternyata ia tidak memilih kita secara acak, melainkan dengan maksud kekal: agar kita hidup kudus dan menjadi anak-anak-Nya.

Sebelum dunia ada, Allah sudah menetapkan kita. Ini berarti nilai kita tidak ditentukan oleh dunia, melainkan oleh kasih Allah. Di tengah tekanan zaman yang menuntut kita untuk selalu membuktikan diri, kita boleh beristirahat dalam kepastian bahwa Allah sudah memilih kita.

Pilihan Allah bukan hanya status, tetapi panggilan. Kekudusan berarti hidup berbeda, berintegritas, dan menjadi terang di tengah kegelapan. Dalam konteks masa kini, kekudusan bisa berarti kejujuran di tempat kerja, kesetiaan dalam keluarga, atau keberanian menolak korupsi dan ketidakadilan.

Jelas Paulus menekankan bahwa kita “ditentukan untuk menjadi anak-anak-Nya.” Dalam budaya Romawi, adopsi memberi hak penuh sebagai ahli waris. Demikian juga, kita bukan sekadar tamu di rumah Allah, melainkan anggota keluarga dengan hak istimewa. Di tengah rasa kesepian dan keterasingan yang banyak dialami di masa kini, kebenaran ini meneguhkan bahwa kita memiliki rumah dan identitas di dalam Kristus.

 

Penutup

Pilihan Allah (eklegomai) adalah dasar iman kita. Kita dipilih bukan untuk hidup biasa-biasa saja, melainkan untuk hidup kudus dan menjadi saksi kasih Kristus. Saat dunia menuntut kita membuktikan diri, kita boleh beristirahat dalam kepastian bahwa Allah sudah memilih dan mengasihi kita sejak semula. Kiranya Tuhan memampukan kita menjalani hidup sebagai umat pilihanNya. Amin.

Pdt. Hasiholan Nababan

Scroll to Top