Bekasi (28/3) — Komitmen memperkuat tata kelola keuangan gereja yang transparan, akuntabel, dan berbasis digital kembali ditegaskan dalam kegiatan pembinaan Parhalado se-Distrik XIX Bekasi yang berlangsung di HKBP Pondok Ungu Permai, Sabtu (28/3). Kegiatan ini menghadirkan Pdt. Rikson M. Hutahaean, M.Th, Sekretaris Jenderal HKBP, sebagai narasumber utama. Sebanyak 168 peserta dari 42 gereja mengikuti pembinaan ini, yang terdiri dari Pimpinan Jemaat, Sekretaris, Bendahara, serta Majelis Perbendaharaan (Parartaon Huria).
Sekjend HKBP menegaskan bahwa tata kelola keuangan gereja bukan sekadar aspek administratif, melainkan bagian integral dari panggilan iman. Ia menekankan bahwa pengelolaan keuangan yang baik merupakan bentuk tanggung jawab langsung kepada Tuhan sebagai pemilik gereja. “Dalam tradisi dan teologi HKBP, hal ini telah ditegaskan secara jelas, khususnya dalam Poda Tohonan Hapanditaon yang pertama: ‘ramotanmuna ma arta na sian Tuhan Jesus’,” ungkapnya, menyoroti pentingnya integritas dan kesetiaan dalam mengelola setiap berkat yang dipercayakan.
Lebih lanjut, Pdt. Rikson Hutahaean menjelaskan bahwa tanggung jawab ini tidak hanya diemban oleh Pendeta, tetapi juga dijalankan secara kolektif melalui struktur pelayanan gereja yang melibatkan Pimpinan Jemaat, Sekretaris, Bendahara, dan Majelis Perbendaharaan. Sinergi antar-perangkat pelayanan ini dinilai menjadi kunci utama dalam menciptakan sistem keuangan gereja yang sehat dan terpercaya. Begitu juga dengan perkembangan sistem digitalisasi keuangan HKBP yang telah dirintis sejak tahun 2008. Sistem database ini dirancang terintegrasi dengan data jemaat, sehingga memungkinkan pengelolaan administrasi dan pelayanan gereja berjalan lebih efektif, transparan, dan terhubung secara menyeluruh.
Namun demikian, Sekjend HKBP mengakui bahwa pemanfaatan sistem ini belum optimal di banyak gereja. Oleh karena itu, ia mendorong seluruh gereja HKBP, khususnya di Distrik XIX Bekasi, untuk mulai menggunakan dan memperbarui data secara disiplin dan berkelanjutan. “Digitalisasi bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan pelayanan di era saat ini. Dengan database yang terintegrasi, gereja dapat melayani dengan lebih tertib, akurat, dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung dengan tertib dan penuh antusiasme. Para peserta menyambut baik materi pembinaan yang disampaikan, serta mengungkapkan sukacita atas kesempatan untuk memperdalam pemahaman mereka mengenai tata kelola keuangan gereja yang semakin berkembang dan modern.
Pada penutupan acara, Pdt. Henry Napitupulu menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas pembinaan yang diberikan. Ia menegaskan komitmen bersama untuk menindaklanjuti materi yang telah diterima melalui pelatihan lanjutan serta penerapan disiplin dalam pencatatan dan pengelolaan keuangan berbasis database HKBP. Pembinaan ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat tata kelola keuangan gereja yang tidak hanya profesional, tetapi juga berakar pada nilai-nilai iman dan tanggung jawab pelayanan, demi kemuliaan Tuhan dan pertumbuhan gereja yang berkelanjutan.






















