Epistel di Minggu Paskah I: Minggu, 5 April 2026

Nats: Hosea 6:1-6

6:1 “Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita.

6:2 Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya.

6:3 Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.”

6:4 Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim? Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda? Kasih setiamu seperti kabut pagi, dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar.

6:5 Sebab itu Aku telah meremukkan mereka dengan perantaraan nabi-nabi, Aku telah membunuh mereka dengan perkataan mulut-Ku, dan hukum-Ku keluar seperti terang.

6:6 Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.

 

Pernahkah Anda merasa doa-doa Anda seolah tak kunjung dijawab? Ada kalanya kita berada dalam fase hidup yang begitu menekan—mungkin itu himpitan ekonomi yang kian berat, tagihan yang menumpuk, penyakit yang tak kunjung membaik, atau hubungan keluarga yang mendingin. Di masa-masa seperti itu, rasanya kita sedang berjalan di lorong gelap tanpa ujung. Tepat di tengah perasaan putus asa seperti itulah, firman Tuhan melalui Nabi Hosea memberikan sebuah janji yang sangat indah: “Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya.” (Hosea 6:2)

Ratusan tahun setelah nubuat ini ditulis, janji tersebut digenapi secara sempurna dan menakjubkan: Yesus bangkit pada hari yang ketiga! Apa makna “hari ketiga” ini bagi pergumulan kita saat ini?

  1. “Hari Pertama dan Kedua” Adalah Masa Penantian

Ketika Yesus disalibkan, hari Jumat dan Sabtu adalah hari yang penuh keputusasaan bagi murid-murid-Nya. Harapan mereka hancur. Begitu juga dengan kita. “Hari pertama dan kedua” melambangkan masa-masa krisis dan penantian kita. Masa di mana kita menangis, berjuang, dan bertanya-tanya, “Tuhan, di mana Engkau?” Tuhan memahami rasa sakit di masa penantian itu.

  1. Kuasa Kebangkitan di “Hari Ketiga”

Kabar baiknya adalah: Tuhan tidak membiarkan kita terus berada di dalam kubur keputusasaan. Karena Yesus telah bangkit pada hari ketiga, Ia membuktikan bahwa tidak ada situasi yang terlalu mati, terlalu hancur, atau terlalu mustahil untuk dipulihkan oleh-Nya. Maut saja ditaklukkan-Nya, apalagi pergumulan finansial, sakit-penyakit, atau masalah keluarga kita. Ada waktu pemulihan yang sudah Tuhan siapkan bagi Anda.

  1. Apa yang Tuhan Rindukan dari Kita?

Selagi kita menantikan “hari ketiga” kita tiba, bagaimana seharusnya sikap kita? Hosea 6:6 memberikan jawabannya: “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”

Di tengah penderitaan, Tuhan tidak meminta kita bersandiwara seolah-olah semuanya baik-baik saja dengan melakukan rutinitas agama yang kosong. Tuhan menginginkan hati kita yang hancur namun tetap percaya teguh kepada-Nya. Ia menyukai kasih setia kita yang tetap bersandar kepada-Nya, meskipun jawaban doa itu belum terlihat.  Amin.

 

 

Pdt. Daniel Napitupulu, M.Min., M.Th- Kepala Biro Ibadah Musik HKBP

 

Scroll to Top