Renungan Harian HKBP Jumat, 06 Maret2026

 

Doa Pembuka:

Allah Bapa yang kami sembah di dalam Anak-Mu, Tuhan Yesus Kristus. Kami bersyukur atas semua nikmat hidup yang telah Tuhan berikan pada kami. Tuntunlah kami, ya Tuhan, agar terus mensyukuri hidup kami dan senantiasa terhubung pada-Mu. Terlebih, dalam memahami dan menghidupi Firman-Mu. Amin.

Bapak, Ibu, Saudara, Saudari yang dikasihi Tuhan, yang menjadi ayat renungan kita hari ini tertulis di dalam Hosea 2 : 18-19. Beginilah bunyi Firman Tuhan,

“Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN”.

Bapak, Ibu, Saudara, Saudari yang dikasihi Tuhan.

Dalam kehidupan kita, pengkhianatan bukanlah hal yang asing. Kita sering menjumpainya di sekitar kita. Ada teman yang mengkhianati sahabatnya. Ada pasangan yang tidak setia kepada pasangannya. Bahkan ada mereka yang telah terikat dalam janji suci pernikahan yang tetap saja mengkhianati komitmen yang pernah diikrarkan di hadapan Tuhan dan manusia. Namun di era ini, era yang dipenuhi dengan berbagai kecanggihan teknologi dan informasi, kita pun kerap berkhianat kepada Tuhan, yaitu ketika kita lebih mempercayai, menyukai dan lebih setia dengan teknologi. Kita memandang teknologi memiliki kemampuan untuk menjawab kebutuhan kita dengan cepat, memberi rasa aman, dan menyediakan hiburan tanpa batas. Di saat itulah, kita sering mengkhianati Tuhan.

Demikianlah yang terjadi dalam firman Tuhan hari ini, ketika Hosea yang diperintahkan Allah untuk memperistri Gomer, yang merupakan perempuan sundal yang tentu akan jauh dari kesetiaan (bnd. Hos. 3:1). Hal ini menjadi gambaran relasi Israel dengan Allah. Bangsa itu mencampur penyembahan kepada TUHAN dengan penyembahan berhala. Mereka lebih mempercayakan keamanan pada aliansi politik dan ritual kesuburan Baal daripada kepada Allah. Mereka lebih mempercayakan kehidupan mereka kepada berhala daripada Tuhan yang telah memelihara kehidupan mereka. Namun di tengah pengkhianatan tersebut, Allah justru menyatakan respons yang mengejutkan, “Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya.” Kalimat “menjadikan engkau isteri-Ku” (Ibrani: ʾāras) berarti bertunangan secara sah, atau sebuah ikatan perjanjian yang resmi dan mengikat. Ungkapan ini bahkan diulang tiga kali (ay. 18–19) sebagai bentuk penegasan dan kepastian. Sekalipun Israel tidak setia dan mengkhianati Allah, Ia tidak membatalkan perjanjian-Nya.

Namun, respons Allah berbeda dengan insting bertahan hidup manusia. Allah bukan memutus hubungan, tetapi memperbaruinya. Ketika manusia tidak setia, Allah tetap setia. Kasih Allah tetap berdiri dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang, dalam kesetiaan. Semua sifat ini hanya ada dalam diri-Nya, yang artinya Dia memberikan seluruh diri-Nya. Dalam wujud kasih Allah yang demikianlah, kita dapat mengenal Dia secara intim. Masalah utama saat ini adalah hati kita yang mudah berpaling karena tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan secara intim, layaknya pasangan. Ketika relasi kita dengan-Nya dangkal, kita mudah mencari sandaran lain. Karena itu, sesungguhnya yang kita butuhkan adalah pembaruan relasi, yakni supaya kita sungguh mengenal Dia dan hidup dalam kesetiaan kepada-Nya.

Bapak, Ibu, Saudara, Saudari yang dikasihi Tuhan,

Di Minggu Reminiscere, di tengah suasana Pra-Paskah ini, kita diingatkan bahwa karya keselamatan lahir bukan karena kesetiaan kita, tapi karena kesetiaan Allah yang tidak berubah. Dan ini tampak dari pengorbanan anak-Nya, Yesus Kristus di kayu salib menebus dosa kita. Itu sebabnya, Firman Tuhan ini mengajak kita untuk mengingat kasih setia Tuhan yang tidak pernah berubah itu dengan cara mengenalnya lebih dalam. Mari memperbarui relasi kepada Allah dengan cara lebih mengenalnya secara intim, karena dengan begitu, kita tidak akan mudah berkhianat. Sebab ketika kita mengenalnya lebih dalam, hati kita hanya akan tertuju padanya, dan ketika di hati kita hanya ada Dia, kita dimampukan untuk hidup kembali dalam kesetiaan kepada-Nya. Amin

Doa Penutup

Kami memuji Engkau, ya Allah Bapa, yang setia mengasihi kami di tengah kerapuhan hati kami. Kami sering mengecewakanmu karena pengkhianatan kami. Karena itu, tolonglah kami, ya Tuhan, agar kami senantiasa mengenal-Mu semakin dalam dan hidup dalam kesetiaan pada-Mu. Amin.

 

CPdt. Rosmauli Sianipar

Scroll to Top