Doa Pembuka: Allah Bapa yang kami sembah di dalam Anak-Mu, Tuhan Yesus Kristus. Kami bersyukur atas semua nikmat hidup yang telah Tuhan berikan pada kami. Tuntunlah kami, ya Tuhan, agar terus mensyukuri hidup kami dan senantiasa terhubung pada-Mu. Terlebih, dalam memahami dan menghidupi Firman-Mu. Amin.
Bapak/ Ibu, saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus.
Firman Tuhan yang menjadi renungan kita pada hari ini terambil dari Ezra 1:3, demikian:
Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, Allahnya menyertainya! Biarlah ia berangkat pulang ke Yerusalem, yang terletak di Yehuda, dan mendirikan rumah TUHAN. Allah Israel, yakni Allah yang diam di Yerusalem.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berada dalam situasi yang membuat kita merasa kecil, tidak berdaya dan seolah kehilangan arah. Mungkin karena tekanan ekonomi, hubungan keluarga, tuntutan pekerjaan, atau masa depan yang terasa tidak pasti, membuat kita sering berkata dalam hati, “ya sudah, jalani saja yang hidup ini.” Perkataan ini sering memupuskan harapan dan cita-cita kita, sehingga kita berhenti untuk berjuang dan berharap.
Terlebih, di zaman ketika kebahagiaan diukur dari siapa yang paling kaya, paling pintar, paling berkuasa dan paling tenar, kita kerap merasa lemah, gagal, bahkan perlahan kehilangan harapan. Kita terbiasa menyesuaikan diri dengan keadaan dan berdamai dengan kenyataan yang sebenarnya tidak kita inginkan. Tanpa sadar, kita sedang hidup dalam “pembuangan” versi kita sendiri, yang kehilangan harapan dan menuduh bahwa Tuhan telah meninggalkan kita.
Firman Tuhan dalam Ezra 1:3 ini mengajak kita melihat realitas hidup dari sudut pandang yang berbeda. Umat Israel berada dalam posisi yang lemah, hidup dalam pembuangan, Yerusalem hancur, Bait Allah rata dengan tanah, dan masa depan mereka tampak suram. Secara manusiawi, tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk berharap, apalagi berbahagia. Namun, justru di situasi itu, Firman Tuhan berbunyi, “Kiranya Allahnya menyertai dia! Biarlah ia pergi ke Yerusalem…,” sebuah suara pengharapan yang Tuhan nyatakan melalui Koresh, raja yang tidak mengenal Tuhan. Perkataan itu menegaskan bahwa sampai ke keadaan yang paling gelap sekalipun, Allah tetap bekerja dan membuka jalan bagi pemulihan umat-Nya.
Perintah untuk “berangkat pulang” dan “membangun” bukanlah perintah mutlak dari Tuhan, melainkan undangan terbuka bagi siapa saja yang mau merespons undangan itu. Pemulihan yang Ia tawarkan kepada kita menuntut keputusan kita, “Ya” atau “Tidak”. Berkata “ya”, berarti berani meninggalkan kehidupan lama dan memulai kembali dari awal di tempat yang baru, meskipun tidak mudah. Sebaliknya, berkata “tidak” berarti memilih tetap tinggal dalam kehidupan lama dan menolak kesempatan pemulihan yang Tuhan sediakan.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus.
Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk merenungkan di mana posisi kita saat ini, apakah kita masih terjebak dalam “Babel” kita masing-masing, ataukah kita berani melangkah menyambut pemulihan yang Tuhan tawarkan. Di tengah hidup yang terasa berat, gelap, dan penuh ketidakpastian, kebahagiaan adalah hal yang mustahil. Tapi Firman Tuhan hari ini menguatkan kita, bahwa Dia, Allah yang diam bersama dengan kita sedari dulu tetap menyertai sampai saat ini, bahkan di hari-hari berikutnya. Dan itulah kebahagiaan kita yang paling utama sebagai orang Kristen.
Mari percaya dan yakini bahwa Tuhan tetap bekerja dan menghadirkan pengharapan, bahkan melalui cara dan pribadi yang tidak pernah kita duga. Undangan itu masih terbuka sampai hari ini. Mari putuskan untuk berkata “ya” pada penyertaan dan kebahagiaan yang disediakan Tuhan kepada kita. Menyadari penyertaan Tuhan adalah dasar dari kita untuk menjalani aktivitas kita sehari-hari dalam kebahagiaan. Amin.
Doa Penutup: Kami memuji Engkau ya Allah yang tidak tinggal diam melihat pergumulan hidup kami. Engkau tetap setia pada janji-Mu untuk terus memulihkan dan menyertai kami dari dulu hingga saat ini, terlebih dalam Anak-Mu, Yesus Kristus yang menyelamatkan kami. Tolong hidupkan terus hati yang penuh pengharapan dalam diri kami, agar kami berani untuk menjalani kehidupan kami sehari-hari. Amin.
C.Pdt. Daniel R. Purba, S.Th- LPP I di Balitbang HKBP



