Renungan Harian HKBP, Jumat 13 Maret 2026

Doa Pembuka: Ya Bapa di surga, kami bersyukur kepadaMu atas kesempatan yang Engkau berikan kepada kami untuk mendengarkan dan merenungkan firmanMu. Kami memohon agar Engkau membuka hati dan pikiran kami, supaya kami dapat mengerti kehendak-Mu dan menerima firman-Mu dengan iman. Kiranya firman-Mu menuntun dan menguatkan kehidupan kami setiap hari. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

 

Renungan: Obaja 1 : 3

“Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: “Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?”

Amang/inang dan saudara yang terkasih, kesombongan sering muncul secara halus dalam kehidupan manusia. Kadang seseorang merasa aman karena posisi, kekuatan, kekayaan, atau pengetahuan yang dimilikinya. Bangsa Edom pada masa nabi Obaja juga memiliki rasa aman seperti itu karena mereka tinggal di pegunungan yang sulit dijangkau musuh. Mereka merasa tidak ada yang dapat menjatuhkan mereka. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa kesombongan hati dapat menipu manusia dan membuatnya merasa lebih kuat daripada kenyataannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kesombongan juga dapat menyelinap tanpa kita sadari. Ketika segala sesuatu berjalan baik, kita bisa mulai merasa bahwa keberhasilan itu semata-mata karena kekuatan dan usaha kita sendiri. Secara teologis, Alkitab mengingatkan bahwa manusia adalah ciptaan yang bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Ketika hati menjadi sombong, manusia cenderung melupakan Allah sebagai sumber kehidupan dan berkat.

Firman ini mengajak kita untuk selalu memeriksa hati kita. Tuhan tidak berkenan kepada hati yang meninggikan diri, tetapi Ia berkenan kepada orang yang rendah hati. Karena itu, sikap yang benar di hadapan Tuhan adalah kerendahan hati menyadari bahwa segala yang kita miliki berasal dari anugerah- Nya. Melalui pengajaran ini, kita belajar untuk tetap rendah hati dalam segala keadaan. Keberhasilan, kedudukan, dan kemampuan bukanlah alasan untuk meninggikan diri, melainkan kesempatan untuk memuliakan Tuhan. Dengan hati yang rendah, kita dapat hidup lebih dekat dengan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama.

 

Maka dari situ amang/inang serta saudara yang terkasih, Kerendahan hati juga membuka hati kita untuk terus bergantung kepada Tuhan setiap hari. Ketika kita menyadari keterbatasan kita, kita akan lebih mudah mencari tuntunan Tuhan dalam setiap keputusan hidup. Dengan demikian, hidup kita tidak dipimpin oleh kesombongan manusia, tetapi oleh hikmat dan kasih karunia Tuhan yang menuntun kita di jalan yang benar. Amin.

 

Doa Penutup: Ya Tuhan, kami bersyukur atas firman-Mu yang telah kami dengarkan dan renungkan. Tolonglah kami supaya kami dapat melakukan firman-Mu dalam kehidupan kami sehari-hari. Pimpinlah langkah kami, kuatkan iman kami, dan sertai kami dalam setiap aktivitas kami. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa, Amin.

 

C.Pdt. Adelbert Y. Simangunsong, S.Th- LPP II di Kantor Biro TIK HKBP

 

 

Scroll to Top