"Dibahen i, ndang marnaloja hami; ai lam tu burukna pe hajolmaonnami parduru i, anggo parbagasan i ariari do dipaimbaru.

Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari."

2 Korint 4:16

Disebutkan Pada Gerakan Masyarakat Tutup TPL : HKBP Pro-Kelestarian Alam Dan Lingkungan Hidup


Sekitar 600 orang yang menamakan dirinya "Gerakan Masyarakat Tutup TPL" datang dan berorasi di depan Kantor Pusat HKBP, Pearaja Tarutung (7/7/2021). Gerakan masyarakat mengakui HKBP sebagai gereja dan organisasi keagamaan selalu di depan dalam pelestarian alam. Kehadiran mereka meminta dukungan dan doa Pimpinan HKBP atas aksi mereka.   


Kepala Biro Jemaat, Pdt. Tumpak Siahaan, S.Th mewakili Pimpinan HKBP didampingi kepala-kepala biro lainnya datang menemui ratusan massa. Pdt. Tumpak menyapa massa yang hadir dengan mengucapkan “salam sehat.” Sebab situasi kondisi masyarakat Indonesia beberapa pekan terakhir banyak terpapar Covid-19.  Pdt. Tumpak mengatakan “HKBP terus mengacu kepada Konfesi HKBP tahun 1996, Pasal 5 mengenai Kebudayaan dan Lingkungan Hidup dan Pimpinan HKBP akan tetap di depan untuk kemajuan, kesejahteraan masyarakat.”

Ketika para jurnalis dari beberapa media mempertanyakan sikap HKBP terhadap aksi Gerakan Masyarakat Tutup TPL, Pdt. Tumpak dengan tegas menyebutkan landasan teologi HKBP sangat jelas, yaitu HKBP mendukung pemeliharaan lingkungan yang sehat. Demikian Kepala Biro Pembinaan, Pdt. Dr. Enig S Aritonang dengan lugas menyebutkan “HKBP bertanggungjawab  memelihara lingkungan dan itu tidak perlu diragukan.” Saat itu juga, Pdt. Enig mengajak rekan-rekan media berkenan menyuarakan kepada masyarakat agar ikut berpartisipasi menjaga dan melestarikan alam.


Sebenarnya sikap pimpinan HKBP saat ini sangat jelas. Pada  pers realease Ephorus usai banjir bandang di Parapat (14/5/2021) disebut, “sesuai konfesinya, HKBP pro lingkungan hidup. Ephorus di sana mengajak dan mendorong semua pihak untuk melestarikan hutan di sekitar Danau Toba. Perihal menegakan  hukum pada pelanggar kelestarian lingkungan merupakan tugas, tanggung jawab, hak dan kewenangan pemerintah.


Aksi gerakan masyarakat diakhiri doa yang dipimpin oleh Kepala Biro Ibadah, Pdt. Eden Ramses Siahaan, S.Th, M.Min. Dan sebelum beranjak pulang, para kepala biro dan  massa  secara serentak mengucapkan “horas….horas…horas”. Itu pertanda, masyarakat Batak dalam setiap aksinya  tetap menunjukkan kultur budayanya (B-TIK)

Pustaka Digital