"Molo ingkon mamujimuji ahu, angka hagaleonki ma hupapujipuji.

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku."

2 Korint. 11:30

Diskusi Nasional Transformasi Pendidikan HKBP

Yesus Kristus memberdayakan para murid-Nya terlebih dahulu sebelum memerintahkan mereka untuk bermisi. Konsep tersebut diadaptasi HKBP dan dikenal sebagai Tahun Pemberdayaan. Dalam Tahun Pemberdayaan, HKBP terus-menerus berupaya menyentuh berbagai bidang kehidupan. Kali ini HKBP memberi perhatian pada bidang pendidikan. BPP HKBP (Badan Penyelenggara Pendidikan HKBP) bersama Distrik VIII DKI Jakarta mengadakan Diskusi Nasional Transformasi Pendidikan HKBP secara virtual (Sabtu, 11/9/2021).


Jend. TNI (Purn.) dan Menteri Kemaritiman RI, Luhut Binsar Panjaitan, serta perwakilan Menteri Pendidikan RI turut mengikuti jalannya diskusi nasional ini. Diskusi turut mengundang narasumber berkualitas sebagai pembicara. Hasil perbincangan akan diterbitkan dalam bentuk buku, bertema: transformasi pendidikan HKBP. Buku ini akan memuat sumbangan pemikiran tokoh-tokoh penting terkait pendidikan HKBP. Peluncuran buku akan dilakukan pada bulan November 2021 mendatang.



Diskusi nasional membahas berbagai poin terkait pendidikan HKBP. Mulai dari kondisi pendidikan HKBP terkini, perkembangan, tantangan, serta harapan bagi pendidikan HKBP di masa yang akan datang.



Para narasumber setuju, bahwa pendidikan HKBP mengalami kemunduran. Kemunduran disebabkan oleh banyak faktor. Narasumber Ivan Tambunan, S. H, M.Sc mengatakan bahwa salah satu faktor penyebab adalah lemahnya daya saing. Hal ini mengakibatkan berkurangnya jumlah murid, berdampak pada penurunan finansial sekolah dan rendahnya kualitas pendidikan. Melihat dari sisi lain, Prof. Dr. Miranda Gultom, S.E., MBA memaparkan faktor penyebab lainnya. Kurangnya jumlah dana dan alokasi yang kurang tepat sasaran turut menjadi titik lemah pendidikan di HKBP. Tidak dapat dipungkiri bahwa fasilitas dan kesejahteraan para guru perlu ditingkatkan. Berbicara tentang dana, banyak cara yang dapat dilakukan untuk menambah dana di bidang pendidikan.


Pdt. Binsar Pakpahan, memaparkan isu lain penyebab kemunduran pendidikan di HKBP.Lembaga-lembaga Pendidikan Tinggi HKBP kurang mampu sejajar dengan peraturan terbaru dari pemerintah. Inti dari semuanya adalah kesatuan hati dalam membenahi Pendidikan HKBP.


Lalu, apa yang harus dilakukan HKBP maupun pihak-pihak terkait guna memajukan pendidikan HKBP? CEO Citi Indonesia, Batara Sianturi, menjawab bahwa kemampuan beradaptasi harus ditingkatkan. Kepekaan terhadap lingkungan sekitar harus diasah. “Perkembangan zaman tidak dapat dihentikan. Sikap manusia yang adaptif dan usaha merelevansikan diri sangatlah diperlukan”. Batara Sianturi juga menganggap perlunya ketakwaan kepada Tuhan. Iman kepada Allah Sang Pencipta akan menuntun tenaga pengajar dan pelajar untuk bersikap benar, baik selama masa proses belajar maupun Ketika terjun di lapangan pekerjaan. Dukungan dari keluarga juga diperlukan sebagai motivasi pengembangan diri.


Wakil Ketua BPP HKBP, Prof. Dr Robert Sibarani juga turut menekankan perlunya daya juang generasi muda dalam menghadapi tantangan dan perkembangan zaman. Upaya tersebut harus dibarengi dengan pihak penyelenggara pendidikan dalam memaksimalkan tenaga pengajar dan fasilitas penunjang proses belajar. Membangun hubungan dengan berbagai pihak, termasuk dengan pihak pemerintah merupakan jalan keluar yang baik dalam meningkatkan kualitas pendidikan HKBP.


Menambahi, Letjend. (Purn.) Hinsa Siburian menyampaikan bahwa poin penting yang tidak boleh dilupakan dalam membangun karakter manusia adalah kedisiplinan. Kisah awal dari ketidakdisiplinan adalah peristiwa di Taman Eden. Adam dan Hawa mendapat murka Allah karena tidak disiplin terhadap perintah-Nya. Selain itu, ketidakdisiplinan juga terdapat dalam kisah Nabi Nuh. Nuh dengan patuh dan disiplin pada perintah Allah pada akhirnya memperoleh keselamatan atas kejadian air bah. Ini dapat dijadikan pembelajaran bagi generasi penerus agar mempertahankan kedisiplinan dan ketaatan dalam menempuh proses pendidikan dan memajukan bangsa agar lebih baik lagi. “Sikap adaptif manusia terhadap paradigma baru, digitalisasi misalnya, merupakan aktualisasi pemanfaatan ciptaan Allah. Allah menciptakan bumi dan segala isinya, serta akal budi bagi manusia untuk dapat menyesuaikan diri dalan hidupnya dan mengatasi masalah dalam kehidupan”, ungkapnya.


Rektor Universitas Prasetiya Mulya dan tokoh sentral di CSIS, Prof. Jisman Simantuntak turut memaparkan tugas penting dalam memberdayakan pendidikan di HKBP. Adalah hal baik jika sekolah-sekolah HKBP memberikan fasilitas kewirausahaan bagi para murid. Perlu untuk menjadikan sekolah sebagai ladang tumbuhnya kewirausahaan, sebagai modal menghadapi tantangan zaman dan membentuk kemandirian.


Meskipun pendidikan HKBP memiliki tugas besar dalam meningkatkan kualitas, tidak dapat dipungkiri bahwa HKBP saat ini tetap dalam proses pengembangan pendidikan. Hal ini turut diperjelas oleh Dirut BPODT, Jimmy Panjaitan. Beliau menyampaikan proses yang sedang dan akan ditempuh dalam rangka memberdayakan fakultas dalam bidang pariwisata Universitas HKBP Nommensen. Banyak program yang sedang dikembangkan oleh Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) dengan mengikutsertakan mahasiswa-mahasiswa lulusan Universitas HKBP Nommensen. 


Anggota DPR RI 2019-2024, Putra Nababan, turut menyemangati para generasi muda batak dalam diskusi nasional ini. Hendaknya para generasi muda dapat lebih menyadari minat dan bakat masing-masing, serta memaksimalkan keahlian yang dimiliki. Mampu beradaptasi dan semangat bersaing yang positif dapat meningkatkan kesejahteraan, baik secara personal maupun komunal.

Pustaka Digital