"Tungki do rohangku di bagasan, dibahen i marningot do ahu di Ho sian luat martopihon Jordan, dohot sian Hermon, sian dolok Misar.

Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Jordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar."

Psalmen 42: 7

Ephorus: Walau Belum Ada Uji Kelayakan Tutor, tapi Mereka adalah Perpanjangan Tangan Pusat


Memperlengkapi Calon Pelayan HKBP supaya menjadi pelayan yang tangguh serta mampu menghadapi tantangan jaman tidak cukup hanya melalui Latihan Persiapan Pelayanan (LPP) yang diadakan dengan materi LPP yang ditetapkan, tetapi disadari juga pengaruh peran tutor cukup berpengaruh bagi calon pelayan tersebut. Demikian pentingnya, mengoptimalkan pembinaan Calon Pelayan bukan saja dikhususkan kepada calon pelayan tetapi juga kepada para pembimbing calon pelayan yang disebut dengan tutor, inilah yang sedang berlangsung saat ini. Pimpinan HKBP Ompu i Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing memberikan bimbingan kepada para tutor bertempat di Perkampungan Pemuda HKBP – Jetun Silangit 16 Mei 2019.

Pembinaan Tutor Gelombang Kedua ini diikuti dari beberapa Distrik diantaranya Distrik VI Dairi, Distrik X Medan Aceh, Distrik XXIII Binjai Langkat, Distrik XXIX Deli Serdang, dan Distrik XXXI Medan Utara, dengan jumlah keseluruhan 61 orang peserta. Pembinaan yang berlangsung sejak kemarin Rabu (15/05/2019) sampai Sabtu (18/05/2019), diisi dengan arahan – pembinaan dari para narasumber baik dari Pimpinan HKBP, demikian sharing dengan Biro – biro Kantor Pusat, demikian dilanjut dengan lokakarya .


Mengingat pentingnya peranan tutor dalam mendampingi, memperlengkapi, mengawasi, dan membimbing calon pelayan HKBP melaksanakan praktek pelayanan sesuai dengan tohonannya masing – masing, maka HKBP menyelenggarakan lokakarya khusus bagi para tutor untuk duduk bersama selain memikirkan upaya pengembangan calon pelayan tetapi terlebih dahulu dibekali dengan arahan bagaiman realita peranan para tutor di tengah – tengah pelayanan.

Ompu i Ephorus HKBP mengupas secara detail bagaimana pengaruh seorang tutor bagi calon pelayan. Di lapangan pelayanan, ada banyak praktek pelayanan yang bisa dikatakan tidak seragam, misalnya tentang teknis pelayanan memberkati, apakah calon pelayan bisa atau tidak memberkati menutup ibadah minggu? Lalu adanya perbedaan teknis pelaksanaan Sakramen Perjamuan Kudus ketika sudah menjadi Pendeta, adanya beragam cara memakai jubah, perangkat pelayanan, bahkan juga gaya berkhotbah, dan ada banyak lagi yang berbeda di lapangan pelayanan, ketika dipertanyakan kenapa begitu caranya, dominan jawaban calon pelayan atau pendeta muda yang baru menerima tahbisan adalah karena itu yang diterima dari seniornya masa praktek, yang saat ini kita katakan dengan nama tutor. Jadi perilaku, gaya pelayanan, dan pemahaman akan pelayanan pun seolah diwariskan secara turun temurun dari senior (tutor) kepada calon pelayan yang nantinya menjadi pelayan tahbisan di HKBP, lalu itu akan terulang kembali bahkan ada penambahan masing – masing yang ikut diwariskan. Ini membuktikan peran seorang tutor sangat penting bagi calon pelayan. Misalnya saja, ada yang di masa praktek sudah ada yang memberkati menutup ibadah minggu, tetapi ada yang tidak diizinkan tutornya. Bahkan ada yang di masa praktek sudah melayani agenda acara pemakaman, dan ada pula yang di masa praktek telah memberkati pernikahan, itu dikarenakan ada izin dan perintah dari tutor, padahal sebenarnya belum ada kesepakatan atau keputusan tentang ini di HKBP. Akhirnya sesama calon pelayan pun memperbincangkan perbedaan tersebut, bahkan juga kadang saling tuding menuding kesalahan bagi para tutor atau pelayan lainnya. Oleh karena itu, kami memanggil para tutor bukan untuk mendengar kritikan tetapi duduk bersama membicarakan bagaimana upaya pengembangan calon pelayan HKBP dengan membuka realita pelayanan yang bisa kita pakai untuk mengevaluasi apa yang perlu dibenahi. Memang dengan lamanya usia HKBP, ini menjadi evaluasi bagi kita karena belum ada panduan atau pedoman untuk pendampingan calon pelayanan ataupun sebagai tutor, kata Ompu i Ephorus HKBP.

Ompu i Ephorus menambahkan, pengamatan kami terkesan banyak jemaat maupun Pendeta yang menginginkan Calon Pelayan dikaenakan karena kebutuhan balanjo yang murah, mudah diganti bila tidak cocok karena hanya setahun tetapi kalau cocok diminta untuk tetap, bisa menjadi suruhan karena masih calon pelayan. Kondisi ini membuktikan sasaran kehadiran calon pelayan tidak tercapai. Misalnya, bila ada Calon Pelayan di depan seorang tutor, belum ada gagasan atau inisiatif apa yang perlu mereka lakukan dan dilakukan untuk mereka sebagai tutor, belum ada yang ditetapkan apa yang perlu dicapai seorang tutor untuk pendampingan calon pelayan, seperti hanya melakukan hal – hal rutinitas pelayan saja.

Kelemahan pada kita, kita belum sampai pada kriteria kelayakan siapa yang layak menjadi tutor. Tetapi realitas di pelayanan HKBP, jemaat maupun pendeta ataupun tutor meminta atau menerima calon pelayan bukan dikarenakan kelayakan menjadi tutor tetapi masih dikarenakan kebutuhan dan kemampuan jemaat untuk menyediakan balanjo untuk calon pelayan. Kalau jemaat tidak mampu, tidak akan menerim dan meminta calon pelayan, tetapi kalau mampu maka akan diupayakan meminta dan menerima calon pelayan, masih dikarenakan kemampuan kehidupan jemaat. Lalu bagaimana dengan kita saat ini, marilah kita jujur, kenapa kita meminta calon pelayan?


Ompu i Ephorus juga menegaskan kalau Para Tutor merupakan perpanjangan tangan dari Ephorus HKBP untuk memberikan pendampingan, pengamatan, dan pembinaan calon pelayan di tempat pelayanan masing – masing. Pimpinan HKBP pasti mempertimbangkan hasil pengamatan dan penilaian bahkan saran – saran dari masing – masing para tutor tentang calon pelayan, bisa saja di masa praktek pertama calon pelayan itu menerima pujian dari tutor tetapi pada masa praktek kedua calon pelayan itu justru menerima nasehat bahkan catatan khusus tentang kelemahan dari tutor keduanya, ini bisa saja terjadi. Oleh karena itu, para tutor sangat diharapkan benar – benar untuk melaksanakan pendampingan agar calon pelayan menjadi lebih baik baik dalam perilaku maupun pelayanannya, tutur Ompu i Ephorus.

Kepala Biro Pembinaan Pdt. Darwin Sihombing sebagai moderator melanjut acara dengan memandu acara sesi tanya jawab yang disambut antusias para tutor diantaranya, Pdt. Ramses Lumbangaol, membenarkan dan setuju dengan arahan Ephorus HKBP karena belum ada pedoman atau panduan pendampingan calon pelayan sehingga terjadi perbedaan di pelayanan. Hal senada juga disampaikan Pdt. Predlin Bancin perihal panduan dan pedoman untuk para tutor. Lalu Pdt. Kana Silitonga, meminta arahan bagaimana fungsi tutor bisa sinergi dan kesejajaran bukan hanya teknis pelayanan tetapi juga teologinya. Dilanjut dengan Pdt. Daminna Lumbansiantar mengutarakan kami memahami kalau kehadiran kami sangat berarti sekali seperti yang diutarakan Ompu i Ephorus tadi, kalau kami merupakan perpanjangan tangan pusat menjadi tutor. siapa tutor sejati yang boleh dihadirkan untuk pendamping calon pelayan? Siapa tutor kepada pendeta yang masih muda? Dan siapa tutor yang dipersiapkan untuk pendeta yang masa tahbisannya 5 – 10 tahun? Sangat perlu dipersiapkan selain Praeses masing – masing. Banyak terbentur mengenai moral karena apa yang disampaikan tutor tidak sejalan dengan apa yang menjadi aksi pelayanan tutor itu sendiri.


Selain itu Pdt. Elzas Siahaan mengatakan kalau boleh penempatan calon pelayan harus sejak awal di satu jemaat, bukan di pertengahan misalnya sebentar lagi mau penahbisan. Bahkan kalau boleh, di Surat Penugasan pun ada baiknya diterakan dengan pastinya jumlah balanjo. Demikian kriteria beban jemaat untuk memberangkatkan penahbisan dan lainnya. Kemudian Pdt. Martin Manullang berharap diperketat perekrutan calon mahasiswa STT HKBP karena kedepannya mereka juga akan menjadi calon pelayan, karena ada yang jemaat HKBP tetapi meminta rekomendasi bukan dari HKBP. Lebih rinci juga Pdt. Maridup Purba mengatakan mungkin ada baiknya kesinambungan STT HKBP dengan Biro Pembinaan menyangkut Calon Pelayan. Lalu Pdt. Victor Sihotang membenarkan kalau apa yang diutarakan Ompu i Ephorus, mulai dari prolog tadi sudah membuka pola berpikir kami para pendeta disini, ternyata banyak yang terjadi di pendampingan calon pelayan masih sekedar kearifan lokal saja. Jadi penting sekali ada barometer para tutor, kami para pendeta pun kadang masih terjadi kearifan lokal, misalnya siapa yang bisa maragenda. Di jemaat, begitu lulus dari STT dianggap sudah serba bisa, demikian perlunya ada kebakuan tentang balanjo Calon Pelayan.

Menyangkut Skill Calon Pelayan, Pdt. Games Purba juga berharap sangat dibutuhkan pembekalan kemampuan calon pelayan selain berkhotbah misalnya dengan kemampuan bertani, demikian dengan pembekalan pentingnya supaya aktif di TLP dan Dana Pensiun HKBP supaya tidak menjadi penunggak. Selain tentang harapan panduan pendampingan Calon Pelayan, Pdt. James Pakpahan juga mengutarakan tentang harapan kalau pindah calon pelayan agar ada juga pengganti kembali. Lalu Pdt. Guntur Simanjuntak mengatakan kalau sudah saatnya dipikirkan kesinkronkan persiapan Calon Pelayan sampai ke menerima tahbisan serta penempatannya ke tempat yang belum tersentuh pelayanan gereja.   


Ompu i Ephorus memberikan respon, memang perlu ada keberanian berteologi bagi kita para pelayan HKBP dan sangat diperlukan ada koordinasi pelayanan. Tutor itu bisa dikatakan sebagai pembina dikarenakan membina bukan sekedar verbal tetapi juga action, itu sebabnya peranan tutor sangat penting. Penempatan Calon Pelayan itu pun bukan ditentukan dikarenakan siapa tutornya tetapi dikarenakan tergantung kepada jemaat. Karena tutor pun terkadang masih juga dipertimbangkan karena jejak rekam pelayananya sendiri. Dalam keberadaan kita sekarang ini, masih ada yang benar – benar layak memberikan bimbingan kepada Calon Pelayan. Mengenak finansial, memang ada jemaat yang sangat memanjakan pelayan dengan balanjo yang baik, tetapi ada pula memprihatinkan karena balanjo pelayan sangat minim. Untuk Calon Pelayan, ini salah satu perhatian dari tutor untuk benar – benar melihat kebutuhan calon pelayan dengan baik.

Menanggapi tentang lulusan STT HKBP, Ompu i mengatakan memang kehidupan seorang Calon Pelayan ketika masa mahasiswa tidak sebanding luruh dengan ketika masa calon pelayan, bisa saja terjadi perubahan setelah di lapangan pelayanan baik itu ke arah yang lebih baik atau jangan – jangan justru menjadi kurang baik. Demikian dengan hal – hal yang berkaitan dengan SOP, ini penting dibicarakan dan dirumuskan dengan baik dan benar dengan mempertimbangkan kearifan lokal. Lalu perihal penempatan Calon Pelayan, pengamatan kami, bukan hanya Calon Pelayan tetapi juga Pelayan Tahbisan, hampir tidak ada yang berminat ke pelayanan Zending. Sementara kalau dibandingkan dengan gereja Korea, mereka sudah memberikan perhatian serius tentang zending. Kenapa di HKBP seperti minim, bisa saja dikarenakan karena seperti ada kekuatiran bahkan jera kalau ditempatkan ke Zending. Kalau di gereja luar, mereka yang di Zending juga dilengkapi dengan kebutuhan yang memadai tentang kebutuhan hidup lebih rincinya tentang dana. Sementara di HKBP, sudah menderita di pelayanan Zending, setelah kembali dari Zending pun tetap menderita, memang ini perlu dibenahi secara serius termasuk pelayanan diakonia sosial, itu pentingnya ada revitalisasi, kata Ompu i.


Lebih detail, Ompu i Ephorus menawarkan konsep buku panduan pendampingan calon pelayan yang sudah ada dipersiapkan dengan baik, dan bahkan bukan hanya kepada tutor tetapi juga kepada Calon Pelayan itu sendiri dan kepada jemaat dimana calon pelayan itu berada untuk masa prakteknya. Disinilah diaturkan teknis demikian dengan rancangan dimana tempat pelayan praktek pertama, kedua, dan menyelesaikan prakteknya diaturkan termasuk masukan sumbangsih pemikiran yang diutarakan tadi supaya sasaran yang ditetapkan bisa tercapai. Kesinkronan antara Kampus dengan Kantor Pusat memang perlu dikembangkan, itu sebabnya juga diadakan Koordinasi Kelima Sekolah Lembaga Teologi HKBP dengan Pimpinan HKBP yang sudah ada dan masih terus dikembangkan, kata Ompu i. Ompu i Ephorus juga menegaskan kalau di HKBP, jangan ada pengelompokan tahbisan apalagi penolakan pelayan, ini harus dimulai dari kita sendiri. Selain itu tidak ada juga di HKBP pembedaan antara Tahbisan Perempuan dan Laki – laki, supaya jangan ada perbedaan apalagi penolakan karena HKBP sudah jelas dengan sikapnya. Oleh karena itu di Calon Pelayan pun, hendaknya bukan memilih – milih apakah perempuan atau laki – laki, tetapi berorientasi untuk pembinaan calon pelayan tersebut. Demikian pula diharapkan para tutor serius melakukan pendampingan calon pelayan termasuk dalam penggunakan IT yang terus semakin maju, kata Ompu i. Sesi Ompu i Ephorus selesai Pkl. 13.00 Wib dan tak lupa juga diabadikan dengan foto bersama. (APS)

















comments

Leave a Reply

Pustaka Digital