"Di ari uju na jongjong ho di adopan ni Jahowa, Debatam, di Horeb, uju na nidok ni Jahowa tu ho; paluhut ma bangso i di Ahu, asa Ahu patubegehon tu nasida hatangKu, angka siparateatehononnasida, asa marhabiaran nasida mida Ahu saleleng mangolu nasida di tano on, asa diajarhon huhut tu angka anakhonnasida.

Yakni hari itu ketika engkau berdiri di hadapan Tuhan, Allahmu, di Horeb, waktu Tuhan berfirman kepadaku: suruhlah bangsa itu berkumpul kepada-Ku, maka Aku akan memberi mereka mendengar segala perkataan-Ku, sehingga mereka takut kepada-Ku selama mereka hidup di muka bumi dan mengajarkan demikian kepada anak-anak mereka."

5 Musa 4:10

Gerak Bersama Memperjuangkan Alam dari Kehancuran

Pematangsiantar, 8/6/2021

Kepala Departemen Diakonia HKBP, Pdt. Debora Purada Sinaga, M.Th bersama Team  Yayasan Diakonia Pelangi Kasih (YDPK) Diak. Sarah Naibaho, Diak. Santun Sinaga, C.Diak. Devi Romauli Sianipar dan seorang perwakilan masyarakat adakan diskusi terkait perjuangan mempertahankan alam dari kerusakan karena kehadiran tambang PT Dairi Prima Mineral (PT.DPM) milik bumi resources (keluarga Bakrie) dan  NFC  China  di Sopokomi, Kec. Silimpapungga, Kab.Dairi, Prov. Sumatera Utara.

Percakapan dilaksanakan di Kantor Departemen Diakonia HKBP, Pematangsiantar

yang berlangsung 3 jam. Pdt. Debora Purada Sinaga menyambut hangat kedatangan team YDPK dan duduk bersama mendengarkan upaya perjuangan penyelamatan ruang hidup dan keselamatan lingkungan  dari hadirnya tambang yang akan mengekploitasi perut bumi Dairi

Yang menjadi keterancaman besar adalah rencana pembangunan Bendungan Limbah beracun yang dekat dengan pemukiman dan lahan pertanian, ada potensi jebolnya bendungan limbah beracun karena berada dikawasan rawan Gempa, jebolnya bendungan limbah akan beresiko mengalir ke sungai sopo komil, bahkan bisa  berdampak sampai Aceh, karena aliran sungai sopo komil  mengalir sampe ke Aceh.

Demikian juga potensi  terganggunya akses masyarakat atas air, karena di areal lokasi proyek dekat dengan sumber air yang menjadi sumber air min bagi 8 desa.

Pembangunan bendungan Tailing ini bahkan akan mengancam tegusurnya gereja HKBP Sikhem, gereja ini akan direlokasi untuk kepentingan pembuangan limbah beracun.

Memperkuat akan keresahan tersebut, Diak. Sarah Naibaho memaparkan kajian ahli dari  luar negeri yang telah berpengalaman mempelajari dampak buruk hadirnya tambang.

Doktor Steven H. Emerman, seorang ahli gelar M.A.di bidang Geofisika dari Universitas Princeton dan gelar Oh.D. di Geofisika dari Universitas Cornell. Selama 31 tahun memiliki pengalaman mengajar hidrologi dan Geofisika dan Ia memiliki Malach Consulting  dalam mengevaluasi dampak lingkungan dari pertambangan. Ia menyampaikan bahwa usul proyek pertambangan tanpa sedikit pun punya kepedulian terhadap hidup manusia sebab aspek paling berbahaya dari setiap proyek pertambangan adalah penyimpanan secara permanen tailing tambang di atas permukaan tanah. Tailing tambang adalah pertikel batuan hancur yang tersisa setelah mineral yang diinginkan diekstraksi yang mengandung rancun yang sangat berbahaya bagi daerah sekitar bahkan dapat mencemari sungai yang mengalir. Oleh sebab itu, ia memberikan rekomendasi untuk menolak proposal tambang PT.DPM.

Richard Meehan seorang insinyur sipil sejak tahun 1960-an sebagai ahli desaind dan analisis keamanan bendungan termasuk bendungan tailing tambang. Sebagai pengalamannya bahwa aliran air bawah tanah bisa membahayakan bendungan karena ketika hujan lebat mengalir dapat merusak bendungan limba. Demikian juga daerah Dairi merupakan daerah rawan gempa dan banjir yang rentan berdampak bagi lingkungan sekitar yang sangat berbahaya. Richard telah mengumpulkan analisis berbasis fakta mengenai kondisi yang tidak stabil dan berbahaya dan siap berdiskusi jika diperlukan.

 https://bakumsu.or.id/en/advokasi-tambang/

Harapan dari pertemuan tersebut berharap HKBP melalui kebijkan pimpinan dapat membantu bersama memperjuangkan akan kelestarian alam demi kelangsungan kehidupan dan masa depan masyarkat di sekitar Dairi. (SKD-DAT)


Pustaka Digital