"Tungki do rohangku di bagasan, dibahen i marningot do ahu di Ho sian luat martopihon Jordan, dohot sian Hermon, sian dolok Misar.

Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Jordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar."

Psalmen 42: 7

Ibadah Jumat Agung, Ompui Ephorus Kunjungi Jemaat HKBP Hutagalung Harean

Jumat (19/4), Ompu i Ephorus Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing memberitakan Firman Tuhan pada Ibadah Peringatan Kematian Yesus Kristus (Jumat Agung) HKBP Hutagalung Harean Distrik II Silindung. Turut melayani Pdt. Osban Ruddin Silitonga sebagai liturgist, demikian dengan para sintua yang bertugas sebagaimana biasanya. Jemaat HKBP Hutagalung Harean dilayani oleh Pdt. Osban Ruddin Silitonga sebagai Pendeta Ressort dan seorang Calon Guru Huria CGr. Romulus Simanungkalit. Gereja yang terletak di Jln. Lintas Tarutung – Pahae Km. 3 Desa Siraja Hutagalung, Kec. Siatas Barita – Taput ini merupakan induk dari Ressort Hutagalung yang terdiri dari tiga jemaat diantaranya HKBP Hutagalung Harean, HKBP Onan Gadugadu, dan HKBP Sosunggulon. Turut hadir bersama Ompu i Ephorus diantaranya Ompu Boru M. br. Siahaan beserta keluarga, Kepala Staff Kantor Pdt. Robert Hutapea, S.Th, Sekhus Pdt. Alter Pernando Siahaan, dan beberapa pegawai.

Pelayanan ibadah ini, merupakan kunjungan pastoral yang bisa dikatakan dadakan, dikarenakan tidak melewai warta jemaat minggu kemarin. Informasi yang diterima Pendeta Ressort beberapa hari lalu, menjadi kejutan dan berita sukacita atas rencana kehadiran Ompu i Ephorus. Tak disangka, Ompu i Ephorus memberikan waktu untuk menyapa jemaat Hutagalung Harean, ini sehubungan dengan adanya beberapa agenda kegiatan Ompu i di wilayah Silindung, termasuk rencana Baptisan Kudus kepada cucu Ompu i Ephorus di Paskah Pertama minggu ini, kata Staff.

Ompu i Ephorus menjelaskan Firman Tuhan dari Markus 15:22–32 dengan topik “Yesus terkutuk karena dosa kita”, yang diawali dengan menyapa seluruh jemaat. Kita sudah lama mendengar berita penderitaan Tuhan Yesus, bukan kali ini saja, dan bukan hanya di Peringatan Kematian Yesus saja. Ini kembali disegarkan kepada kita agar kita menghayati kalau Yesus datang ke dunia ini, Anak Allah, menderita, ditindas, dicela, tersalib di kayu salib, mati, tetapi bangkit di hari ketiga. Mungkin, kita sudah tahu sejak sekolah minggu, tetapi kita tidak bosan mendengar berita ini. Setiap kita mendengar Firman, seperti hal yang baru walaupun sering kita mendengar, karena kita sedih mendengar berita ini. Bukan seperti yang sering dibilang orang, lalu kita jawab, bolak balik berita itu, sudah bosan. Seperti tidak ada yang bosan mendengar berita ini. ini salah satu bukti iman yang hidup, Firman menyapa kita. Bagi orang yang mendengar Berita Firman ini, kalau bersedih dan menghayati, pasti dia menghidupi Firman, yang menjadi bukti iman kita hidup, kata Ompui.

Ini bukan hanya menyegarkan kembali, bukan hanya sekedar peringatan, bukan hanya supaya tidak lupa, bukan hanya supaya kita ingat, tetapi Roh Kudus menolong kita agar ini benar – benar dihayati setiap orang Kristen. Seperti nyanyian Buku Ende tentang Penderitaan Yesus, “Gorga ma tu rohangku, uhirhon ma tu bagasan ateatengku sitaononMi ale Tuhan”. Apa yang kita lakukan belumlah cukup seperti yang dikehendaki Tuhan kepada kita semua. Tuhan yang memberikan kehidupan kita, Dialah yang Empunya kehidupan kita, Tuhan tidak berkenan hidup manusia menjadi milik Iblis. Itu sebabnya kita dicari, kita dipimpin, dibimbing, karena kita berharga bagi Tuhan. Karena berharganya, tidak seorangpun dibiarkan hilang seperti Gembala yang mencari 1 ekor domba yang terpisah dari kawanannya 99 ekor lainnya. Bukan bicara untung rugi, sudahlah, hanya 1 ekor saja, masih ada banyak. Tetapi Gembala sangat mengasihi setiap dombanya. Allah juga sangat mengasihi kita semua, itu sebabnya, Dia mau menderita. Firman sudah menyaksikan penderitaan itu, khususnya di Injil, di Lukas disebutkan, sejak di kandungan Maria pun, Yesus sudah menderita. Maria telah direndahkan, sudah mau dibuang, tetapi ada Yusuf yang baik hati. Sejak menjadi manusia, kelahirannya, proses pertumbuhannya, ditolak di kampung halamannya, memberikan makan dan memberikan minum, menyembuhkan orang sakit, tetapi tetap juga menderita. Dihidupkan kembali yang mati, itu pun justru juga bagian dari proses penderitaanNya di dunia ini, sampai disalibkan dan mati. Ini semua karena dalam rangka penebusan lebih dalam lagi panghophopion ni Debata, kata Ompu i.

Apa yang disaksikan oleh Firman Tuhan bukan sekedar teori saja, tetapi itu adalah kebenaran dari Tuhan. Ada banyak bukti yang bisa kita lihat, kami baru dari Palu, disana terjadi yang tidak pernah terjadi, jemaat dan warga menyaksikan apa yang tidak pernah terjadi, tanah bergerak, tanah terbuka – terbelah dan tertutup kembali, ada gempa, ada tsunami, bukit beserta pepohononan bergeser, tetapi satu penegasan juga yang mana disaksikan Firman kasih karunia Tuhan tidak berhenti. Itu semua adalah kenyataan, demikian juga dengan penebusan umat manusia dari dosa oleh Yesus Kristus juga ada sejarah keselamatan yang nyata terjadi. 1 Korint 6:20: "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu, muliakanlah Allah dengan tubuhmu". Karena kita sudah ditebus, jangan ada seorang pun yang berpikir dia yang memiliki dirinya. Penebusan bukan dengan harga murah, kematian Yesus Kristus hanya untuk menebus kita. Marilah kita melakukan hal – hal yang berkenan dengan kehendak Tuhan supaya menjadi berkat hidup kita, dan kita masih menerima berkatNya ke waktu yang masih terus berjalan, pungkas Ompu i Ephorus.

Ibadah yang berlangsung sejak Pkl. 10.30 Wib tersebut berlangsung sukacita. Usai ibadah, Pendeta Ressort memandu agar seluruh jemaat dapat bersalaman dengan Ompu i Ephorus dan Ompu Boru diiringi dengan musik. Tampak sukacita, senyuman, dan canda tawa, baik Ompu i Ephorus demikian dengan jemaat dan parhalado ketika bersalaman demikian ketika dilanjut dengan acara ramah tamah di rumah dinas Pendeta Ressort. (APS)

comments

Leave a Reply

Pustaka Digital