"Ai Ahu do donganmu,” ninna Jahowa, “laho paluahon ho; ai sun siap do bahenonHu saluhut bangso parbegu haambolonganmu na Hubahen i na sai laon, alai anggo ho ndang siap bahenonHu; ingkon pinsangonHu do ho nian hombar tu uhum, jala ndang tarbahen so toruanHu ho.

Sebab Aku menyertai engkau, demikianlah firman TUHAN, untuk menyelamatkan engkau: segala bangsa yang ke antaranya engkau Kuserahkan akan Kuhabiskan, tetapi engkau ini tidak akan Kuhabiskan. Aku akan menghajar engkau menurut hukum, tetapi Aku sama sekali tidak memandang engkau tak bersalah."

Jeremia 30:11

Kadep Koinonia: Tugas Penginjilan adalah Eksistensi HKBP sebagai Gereja

JETUN SILANGIT – Pelatihan Misionaris HKBP yang dimulai pada 14 Maret 2022 telah memasuki hari ketiga. Para peserta yang hadir berjumlah sekitar 33 orang, yakni 22 orang calon pendeta, 2 orang calon guru huria, 2 bibelvrouw, dan 7 orang calon diakones.



Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt. Dr. Deonal Sinaga hadir sebagai narasumber pada pelatihan tersebut dengan topik “Penginjilan dan Oikumene.” Beliau memaparkan bahwa penginjilan pada dasarnya adalah gerakan bersama orang percaya. Memberitakan Injil ke seluruh dunia, sebagaimana Yesus ajarkan dan impikan (envision) adalah gerakan bersama. Karena itu, sebagaimana sifat dasar dari gerakan oikumene adalah kesatuan. Kesatuan dalam rangka memberitakan Injil. Atas dasar pemahaman tersebut, terciptalah cikal bakal gerakan oikumene yang dikenal sebagai Dewan Gereja-gereja Sedunia (World Council of Churches – WCC). Gerakan bersama gereja-gereja lintas denominasi dan lintas negara dalam rangka penginjilan.


“The Evangelization of the world in this generation – Penginjilan dunia di generasi ini”, merupakan sumbu penyemangat para misionaris saat Konferensi Penginjilan di Edinburgh. Semangat inilah yang terus berkembang hingga terbentuk Dewan Penginjilan Internasional (International Missionary Council) pada 1921. Kemudian tahun 1984, WCC resmi berdiri sebagai bentuk formal organisasi dalam upaya bersama untuk penginjilan di dunia ini.


Lebih lanjut, Pdt. Dr. Deonal Sinaga memaparkan bahwa HKBP memahami tugas penginjilan merupakan bagian integral dan eksistensi HKBP sebagai gereja. Karena itu, melalui gerakan oikumene, HKBP tetap menyuarakan supaya penginjilan tidak dimarginalkan, melainkan menjadi sentral dari gerakan oikumene itu sendiri. Dalam perkembangan pemahaman penginjilan, perlu perubahan paradigma dalam cara atau metode melakukan misi, dimulai dari pelayanan kepada anak-anak sekolah minggu, remaja, pemuda, dan semua kategori.

Mengakhiri sesi, Pdt. Dr. Deonal Sinaga menyampaikan pesan-pesannya terhadap para calon pelayan yang mengikuti pelatihan misionaris. Diharapkan para calon pelayan berupaya mengembangkan kemampuan melayani dengan menjaga dan merawat hati, mengembangkan kecerdasan spiritual dan kemauan melayani dengan segenap hati (marhobas sian nasa roha). (DK-AAS)


Pustaka Digital