"Dung i ninna Jahowa ma tu ibana: “Dame ma di ho! Unang ho mabiar, ndang mate ho ala ni i. Dung i dipauli si Gideon ma disi langgatan sada di Jahowa, jala dibahen goarna: Jahowa haroroan ni hatuaon”. Rasirasa sadarion sai disi dope i di Opra, pinompar ni Abieser nampunasa.

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Selamatlah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati.” Lalu Gideon mendirikan mezbah disana bagi TUHAN dan menamainya: TUHAN itu keselamatan. Mezbah itu masih ada sampai sekarang di Ofra, kota orang Abiezer."

Panguhum 6: 23-24

MBO HKBP Cinta Damai, Ephorus HKBP Ajak Jemaat untuk Setia dalam Firman Tuhan

Ephorus HKBP : Jangan hitung – hitungan untuk berbuat baik, karena Tuhan memberikan berkatNya kepada kita secara gratis. Tuhan meminta kita untuk hidup di dalam kesetiaan akan FirmanNya.

 

Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing melayani Ibadah Minggu yang dipadu dengan Ibadah Mameakhon Batu Ojahan (MBO) dan Pesta Perak 25 Tahun HKBP Cinta Damai Stapal Ressort Bukit Tua Balam Distrik XXX Riau Pesisir pada Minggu (11/11/2018). Gereja Cinta Damai Stapal yang berjemaatkan 282 Jiwa ini berdiri tahun 1993 dan kini dilayani oleh Pdt. Hagai Simamora (Pendeta Ressort).

Gereja Cinta Damai ini beralamatkan di Kepenghuluan Bangko Balam, Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau. Awalnya gereja ini bergabung dengan Ressort Simpang Padang Duri – Distrik I Tabagsel Sumbar Riau diawali dengan rapat perdana tanggal 1 Nopember 1993. Lokasi gereja ini berada sekitar 50 Km dari Kota Baganbatu, dan 10 Km dari Jalan Lintas Riau Balam Km 22 sebelah Selatan. Ibadah perdana terjadi tanggal 7 Nopember 1993 yang sekaligus tanggal ini ditetapkan menjadi hari lahirnya gereja HKBP Cinta Damai Stapal dengan jemaat berjumlah 13 KK (35 Jiwa). Bangunan gereja Cinta Damai Stapal ini berukuran 10 x 20 Meter Persegi di atas tanah yang berukuran 20 x 55 Meter Persegi.

Seorang Sintua pembaca sejarah gereja ini, juga menyampaikan beberapa pergumulan jemaat diantaranya berkaitan dengan Perkebuhan PT. Gunung Mas Raya, PT. Murini, lalu ketika masa itu pula daerah gereja ini disebut dengan Stapal yang berarti (Terminal Balok). Sejak berdirinya gereja ini, sudah ada 12 orang Sintua yang telah melayani di gereja ini (kini ada 3 orang Sintua aktif). Pelayan yang pernah melayani selain Sintua; Rotulus Silaban (Mahasiswa STT HKBP), Supriadi Siringoringo (Mahasiswa STT HKBP), Agustina br. Silalahi (Calon Diakones, LPP II), dan Marettina br. Boangmanalu (Calon Bibelvrouw, LPP 1).

Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing memberitakan firman dengan mendasarkannya dari Mika 6: 6 – 8 sebagaimana yang telah diaturkan HKBP dalam Almanak tahun 2018 ini. Diawali dengan menyampaikan salam dari Pimpinan, staff, dan pegawai Kantor Pusat HKBP kepada seluruh jemaat dan pelayan HKBP Cintai Damai demikian dengan para jemaat dan pelayan dari Distrik XXX Riau Pesisir beserta undangan, Ompu i Ephorus menjelaskan ada banyak jemaat HKBP menjadi Kristen karena keluarganya, orangtuanya, sejak kandungan, dari anak – anak telah menjadi Kristen. Tetapi ada yang baru menjadi Kristen sejak dibaptis, bukan karena orangtua, dan bukan pula sejak di kandungan, tetapi karena terjadi satu peristiwa spiritual.

Pertanyaan nabi Mika dalam Firman ini seperti pertanyaan kita pada umumnya, bagaimanakah aku harus memuji Tuhan? Apakah melalui persembahan, minyak wangi, emas dan perak, atau korban persembahan? Pertanyaan itu muncul karena sering sekali orang – orang bertanya – tanya, sepertinya Tuhan tidak mendengar doa – doanya, sepertinya persembahan yang diberikan kepada Tuhan tidak tepat dan tidak diterima. Melalui banyak hal cara yang mau kita lakukan, tetapi sering sekali sepertinya Tuhan tidak mau mendengar doa kita. Mazmur 50 mengatakan Tuhan tidak berkenan akan korban persembahanmu itu. Tuhan berkata kepada bangsaNya, apa yang telah kau persembahkan itu? Bukankah domba? Bukankah daging? Apakah Aku kekurangan itu? Bukannya Aku yang menjadikan itu semua bagimu? Bukankah yang kau persembahkan berasal dariKu? Sering sekali kita seperti mau membayar hutang kepada Tuhan. Apakah kita mampu membayar yang kita terima dari Tuhan? Hanya udara ketika kita bernafas saja, ini tidak akan terbayar kita. Hanya Anugerah Tuhan saja. Sedangkan apa yang dilakukan orangtua kita saja, tidak terbayar kita. bukankah perhatian seorang ibu kepada anaknya itu luar biasa? Kata Ephorus HKBP.

Pernah seorang anak membuat hitung – hitungan kalau orangtuanya menyuruhnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Bila disuruh maka orangtuanya harus membayarnya misalnya bila menyapu rumah, Rp. 20.000,-, mencuci piring 25.000,- , kalau menyapu halaman Rp. 25.000, kalau menyetrika Rp. 30.000,- lalu dituliskannya ini ke satu kertas dan diletakkan di meja agar dibaca ibunya.

Setelah ibunya membaca tulisan itu, ibunya kembali menjawab surat itu dengan surat juga sebagai jawaban. Ibu itu menjawab kepada anaknya, 9 bulan saya mengandung kau dan membawa kau kemana saja saya pergi, bayarnya itu gratis. Ketika kau sakit, saya membayar sendiri, ibumu dan bapakmu tidak tidur, tetapi kau membayarnya gratis. Ketika kau opname, kami pergi sana sini membeli obat tetapi kau membayarnya gratis. Keterangan itu dituliskannya kepada anaknya dan kemudian dibaca anaknya.

Anak itu membaca dan heran, lalu bertanya kepada ibunya kenapa gratis? Ibunya menjawab karena kami sangat mengasihimu. Lalu anak itu memeluk ibunya. Belum seberapa kasih anak itu kepada ibunya, tetapi Ibunya itu sangat mengasihi anaknya, memberikan yang dibutuhkan dan yang terbaik kepada anaknya. Itu masih kasih antara Ibu dengan anak, Yesus Sang Kepala Gereja, Empunya kehidupan kita, sangat mengasihi kita, yang mencipta kasih sehingga ada kasih di dalam kehidupan kita, telah mencipta kita, telah memberikan nafas kehidupan, telah melindungi, dan bahkan telah menebus kita dari dosa, karena Dia sangat mengasihi kita, karena Dia tidak rela kita menjadi milik dosa itu.

Dalam 1 Korint 6: 20, kita telah ditebus dengan sangat mahal, karena Tuhan yang empunya kehidupan kita. bukankah itu sebabnya ada lagu Buku Ende yang mengatakan “ndang au nampuna ahu”? Oleh karena itu, kita adalah milik Tuhan. Bila kita masih berpikir, bagaimana kita memuji Tuhan? Jawaban yang diungkapkan Mika itulah jawabannya, Tuhan telah memberikan yang terbaik kepadamu hai manusia. Tugas kita adalah melaksanakan perintah yaitu Holong Ni Roha. Jangan hitung – hitungan untuk berbuat baik, karena Tuhan memberikan berkatNya kepada kita secara gratis. Tuhan hanya meminta kita untuk hidup di dalam kesetiaan akan FirmanNya. Kita harus mengasihi Tuhan dari segenap hati, tenaga, dan pikiran kita. Ibadah yang kita laksanakan harus berdasarkan dari hukum Kasih itu sendiri. Dibutuhkan totalitas hidup kita untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan. Kita memuji Tuhan dari kerendahan hati kita masing – masing, ungkap Ephorus HKBP.

Berdirinya gereja ini menjadi bukti cinta kasih Tuhan kepada kita semua. Sudah 25 tahun gereja ini berdiri, bukan berdiri begitu saja, tetapi sudah ada sejarah panjang di dalam kehidupan jemaat HKBP. Saya selalu mengatakan, jemaat HKBP adalah jemaat yang misionar karena dimana ada jemaat HKBP maka akan ada gereja HKBP di tempat itu. Pasti jemaat disini tidak pernah menerima surat perintah dari Kantor Pusat HKBP untuk mendirikan gereja disini. Sejak awal, tidak ada jalan ke tempat ini, tetapi dibangun gereja, ada penatapan jauh ke depan, hingga saat ini dan ke depan, kita patut bersyukur atas kesempatan ini.

Nabi Mika menekankan pentingnya evaluasi, karena penting sekali untuk menjadi lebih baik ibadah kita, kehidupan kita, hanya untuk kemuliaan nama Tuhan saja. Mameakhon Batu Ojahan, ada Bibel, Buku Ende, Konfessi, RPP, Kidung jemaat, Sejarah gereja, Daftar Jemaat, Padan Na Robi dan Padan Na Imbaru na pinajempek, dan lain – lain, membuktikan gereja ini, jemaat ini ditahbis menjadi tempat kudus berdiamnya Tuhan, tempat dimana jemaat bersekutu dengan Tuhan dan menerima berkatNya. Satu harapan dari ibadah MBO, adalah peningkatan kualitas pelayanan di gereja ini. Jemaat yang menyaksikan imannya dan janjinya adalah jemaat itu berjanji untuk membawa saudara – saudarinya, anak – anaknya untuk memuliakan nama Tuhan. Jemaat bukan semakin sedikit tetapi semakin banyak. Kita bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan  berkenan untuk menemui dan menyelamatkan kita dalam rangka menjadi pewaris kerajaan Tuhan, tambah Ephorus HKBP. Turut hadir juga dalam acara ini utusan jemaat- jemaat yang berdomisi di Bagan Batu Balam dan sekitarnya.

Acara khusus mameakhon batu ojahan, seluruh jemaat HKBP Cinta Damai yang dipimpin Pdt. Hagai Simamora memberikan kesaksian janji iman dihadapan Pimpinan Gereja Ompu i Ephorus HKBP, Seluruh jemaat dan undangan, demikian secara khusus di hadapan Tuhan. Jemaat berjanji untuk setia belajar kebenaran Firman Tuhan dalam Alkitab, setia dan berjanji untuk mengajarkan kebenaran Firman Tuhan kepada keturunan untuk percaya kepada Yesus Kristus Raja Gereja, berjanji untuk menjaga kekudusan gereja dan melarang siapapun yang berkeinginan untuk merusak kekudusan kompleks gereja, dan menyerahkan gereja ini bersama asset lainnya menjadi kepemilikan Kantor Pusat HKBP sesuai Aturan Peraturan HKBP. Janji jemaat dan pelayan ini didokumentasikan yang ditanda-tangani oleh Pimpinan Jemaat St. Edi Halomoan Sinaga, Utusan Jemaat Kostan Napitupulu, Pendeta HKBP Ressort Bukit Tua Balam Pdt. Hagai Simamora, S.Pak, Praeses HKBP Distrik XXX Riau Pesisir Pdt. Jefrin Sipahutar, S.Th, dan Ompu i Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing lengkap dengan Stempel Pusat.

Acara ramah – tamah, pesta 25 tahun, dan makan bersama dilanjut usai ibadah, yang kemudian juga menyambut kehadiran Bupati Rokan Hilir H. Suyatno, AMP yang didampingi oleh beberapa orang Anggota DPRD Provinsi dan beberapa Staff Bupati. Kesempatan ini juga, tampak kalau Bupati Rokan Hilir “mangolopi” Ompu i Ephorus HKBP bersama para Pelayan Penuh Waktu ketika acara tortor. Dalam sambutannya, Bupati Rokan Hilir mengatakan kalau di daerah Rokan Hilir ini semakin maju dikarenakan adanya kehadiran warga yang datang dari Sumatera Utara khususnya orang Batak. Daerah – daerah yang tidak terjangkau menjadi terjangkau di terisi oleh warga. Harapan kami dan harapan bersama, kita mau membangun bangsa dan negeri ini secara bersama – sama sebab bagi warga disini, Rokan Hilir inilah tanah tumpah darahku yang dari sini kita berjuang bersama membangun negeri ini, kata Bupati. Bupati Rokan Hilir juga menegaskan kalau Rokan Hilir ini adalah salah satu daerah yang rukun dan damai, ada 13 Suku di Rokan Hilir ini dan semuanya bisa hidup rukun dan damai. Saya sering bertemu dan berbicara dengan para Ulama, Pendeta, dan tokoh agama lainnya untuk memelihara toleransi umat beragama. Kami sebagai Pemkab Rokan Hilir menyampaikan selamat datang kepada Ompu i Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing bersama rombongan, kata Bupati Rokan Hilir.  Sembari memperkenalkan rombongan bupati yang turut hadir, Bupati juga mengapresiasi semangat untuk hidup dan berkembang baik itu secara umum maupun secara khusus gereja HKBP. Bupati juga mengajak agar seluruh warga termasuk jemaat HKBP agar bersatu padu untuk mengembangkan Kabupaten Rokan Hilir ini, sebab Pemerintah tidak bisa sendiri demikian sebaliknya warga juga tidak bisa sendiri membangun, harus bersama – sama, kita patut berterimakasih dan mendukung program pemerintah yang akan membuat daerah – daerah semakin maju termasuk wilayah kita ini akan ada jalan tol dan pembangunan lainnya, tambah Bupati Rokan Hilir. Kehadiran Bupati Rokan Hilir ini disambut jemaat dan panitia, yang memakai kesempatan memohon kepada Ompu i Ephorus untuk menyandangkan Ulos kepada Bupati Rokan Hilir bersama rombongan. // Pdt. Alter Pernando Siahaan

 

 

comments

Leave a Reply

Pustaka Digital