"Jadi dapothonon ni angka bangso parbegu ma panondangmu dohot angka raja mandapothon sinondang naung binsar di ho.

Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu."

Jesaya 60 : 3

Menko Luhut Binsar Panjaitan Hadiri dan Beri Materi pada Peserta Pembinaan Pendeta Ressort HKBP

Pembinaan Pendeta Ressort HKBP dengan tema Building Up Transformational Leadership yang diusung oleh Biro Personalia dan KPSDP HKBP, hari ini (20/7) dengan istimewa dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI, Jend. (Purn) Luhut Binsar Panjaitan sebagai pemateri pukul 10.30 WIB di Perkampungan Pemuda HKBP Jetun Silangit.






Dalam paparannya, Menko Luhut menjelaskan tentang perjalanan bangsa Indonesia pada awal tahun 2020 silam. Indonesia dan beberapa negara lainnya mengalami krisis global akibat terpaan virus Covid-19. Dunia menghadapi krisis besar-besaran, terutama di bidang kesehatan dan ekonomi. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tentu harus bekerja keras untuk keadaan di tengah masa pandemi, dan perlahan-lahan mampu mencapai kondisi baik dan bangkit dari keterpurukan. Dari penjelasan tersebut, Menko Luhut mengatakan bahwa kemampuan bangsa Indonesia keluar dari krisis global adalah karena kemampuan untuk bersinergi dan bekerja sama. Kemampuan untuk bersinergi tentu bertumpu pada manajemen kepemimpinan yang baik. Berkaca dari bangsa Indonesia, HKBP sebagai tubuh Kristus dan persekutuan orang percaya yang cukup besar, harus mampu bersinergi dan unggul dari kepemimpinan segi manajemen. Manajemen kepemimpinan tentu memerlukan proses yang bertahap dan harus dimulai dari tingkat kesadaran kecil (huria). Ini menjadi tanggung jawab bersama, termasuk pimpinan gereja tingkat resort. Melalui pembinaan Pendeta Resort HKBP - Building Up Transformasional Leadership, HKBP membekali para pimpinan agar mampu membantu dan membimbing gereja untuk membangun spiritualitas dan kompabilitas HKBP dalam menghadapi berbagai krisis. 




Seorang pemimpin harus tahu membedakan antara "menjadi pemimpin" dan "menjadi bos". Menjadi pemimpin harus bergerak bersama dengan yang dipimpin untuk memecahkan masalah, bukan hanya memberi perintah tanpa mau ikut campur tangan. Seorang pemimpin harus mau turun dan berdiri sama tinggi dengan orang yang dipimpin. Seorang pemimpin juga harus terbuka, mau menerima pendapat, dan masukan.




Harapan kedepannya, HKBP tidak hanya survive bdi tengah krisis dan tantangan, namun mampu menjadi gereja yang sustainable (bergerak maju secara kontiniu dan terus bertumbuh). Kesatuan hati diperlukan untuk mewujudkannya, maka para pimpinan yang dipersiapkan untuk mampu membina dan mendampingi jemaat secara holistik. Menko Luhut menutup paparannya dengan mengutip surat 1 Timotius 4:12: jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang yang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.



Diakhir Luhut juga menyempatkan diri mengunjungi gedung convention hall HKBP yang saat  ini masih dalam tahap pembangunan. (B-TIK)