"Martua ma sibahen dame, ai goaron do nasida anak ni Debata!

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Mateus 5:9

Pelatihan dan Penyuluhan Kepada Pengurus dan Voluntir HKBP AIDS Ministry Distrik Sumbagsel

Hari ini, Sabtu 9/10/2021, Kepala Departemen Diakonia HKBP Pdt. Debora Purada Sinaga bersama tim dari HAM ketua dr. Tihar Hasibuan, juga Sekretaris Eksekutif Diak. Berlina Sibagariang melakukan pelatihan dan penyuluhan kepada pengurus dan voluntir HKBP AIDS ministry Distrik Sumbagsel.



Pelatihan ini dilakukan untuk penguatan pengurus dan voluntir HKBP AIDS Ministry (HAM) Distrik XV Sumbagsel dan dihadiri 40 orang utusan dari setiap Ressort. Turut hadir para pelayan dan pemuda HKBP. Kegiatan ini diawali dengan kebaktian yang dipimpin oleh Bapak Praeses Pdt. Oloan Nainggolan, S.Th sebagai pengkhotbah, dan Pdt. Warso Jhon Siahaan, S.Th sebagai liturgis. Dalam khotbahnya Praeses mengarahkan agar kita tetap melakukan pelayanan HIV AIDS dan pendampingan kepada ODHIV, gereja menjadi bagian dunia untuk bersama-sama menuju akhir dari AIDS 2030, sehingga tidak ada lagi HIV baru di tahun 2030.


Setelah kebaktian, acara resmi dibuka oleh Bapak Praeses, kemudian dilanjut dengan kata sambutan dari ketua HAM Distrik XV Sumbagsel, Ibu Mandelina br. Sinaga, Amd. Farm. Beliau mengatakan bahwa kegiatan pelayanan HIV AIDS di Sumbagsel sudah berjalan dengan melakukan pendampingan kepada ODHIV jemaat HKBP sebanyak 6 orang, pelayanan konseling di Rumah Sakit, dan aksi donor darah setiap bulan ditiap-tiap ressort. Beliau berharap melalui pelatihan ini semakin banyak voluntir dan konselor yang aktif dalam pelayanan HIV AIDS untuk pengembangan pelayanan HAM ditingkat distrik.

Turut juga hadir dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan yang diwakili oleh Kabid P2M Bapak H. Muyono, M.Kes, menjelaskan tentang kebijakan pengendalian HIV, dalam materi yang disampaikan bahwa angka kasus HIV AIDS di Sumatera Selatan terbilang tinggi. Pemerintah menyambut baik pelayanan HAM Distrik untuk bersama berkolaborasi menuju ending AIDS 2030. Pemerintah dan tokoh agama, dalam hal ini HKBP harus bersama-sama melakukan pelayanan HIV AIDS.





Kegiatan selanjutnya adalah pemberian materi oleh dr. Tihar Hasibuan, MARS tentang informasi HIV dasar, infeksi opurtunistik, dan terapi ARV, dan peranan VCT dalam pencegahan, beliau menjelaskan bahwa HIV akan bisa dikendalikan jika dikelola dengan baik, patuh/disiplin ARV, pola hidup sehat dan diterima di masyarakat. HIV tidak menular dengan kontak sosial biasa, HIV hanya hidup di empat cairan yaitu darah, cairah sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Untuk mempercepat penemuan kasus HIV juga bisa dilaukan VCT mobile, dengan menjangkau kelompok-kelompok berisiko.

Diak. Berlina Sibagariang sebagai sekretaris eksekutif HAM juga menyampaikan materi: Mitos, Fakta, dan Penggunaan Bahasa dalam HIV AIDS. Dikatakan bahwa banyak informasi beredar dimasyarakat yang tidak benar atau sering disebut mitos, yang menakut-nakuti masyarakat, bahkan memberikan stigma diskriminasi terhadap ODHIV. Dijelaskan juga bahwa pelayanan HKBP AIDS Ministry ditingkat hatopan yang sudah berjalan 18 tahun, sudah menemukan kasus HIV dan AIDS sebanyak 925 dari 2003 hingga September 2021 kasus. Rata-rata masih diusia produktif, dan risiko penularan tertinggi dari heteroseksual. HAM memaparkan beberapa kegiatan yang telah dilakukan selama ini. Upaya HKBP AIDS Ministry saat ini untuk pengendalian HIV, seperti: pendekatan pendidikan melalui tokoh agama, sekolah teologi, kelompok masyarakat, KIE: Komonikasi informasi Edukasi HIV AIDS, seminar, sosialisasi, dan sosial media, advokasi: pembelaan kepada hak-hak ODHIV, capacity building: Pendampingan dan pemberdayaan ODHIV, pemberdayaan masyarakat untuk VCT test & ARV treatment, pembentukan pendidik sebaya di sekolah dan gereja, strengthening Prevention of Mother-to-Child HIV Transmission (PMTCT) program dan pelayanan di Shelter anak dengan HIV dan rumah singgah bagi ODHIV.


Sesi pertama dimulai oleh Kepala Departemen Diakonia HKBP, Pdt. Debora Purada Sinaga, M.Th. Beliau mengapresiasi panitia pelaksana kegiatan pelatihan pengurus dan voluntir HAM Distrik XV Sumbagsel yang menjadi salah satu Distrik aktif dalam pelayanan isu HIV AIDS. Dalam materinya “Pandangan HKBP Terhadap HIV AIDS dan Pelayanan Kepada Orang dengan HIV AIDS”, dijelaskan bahwa HKBP sejak awal konsisten pada pelayanan HIV AIDS HKBP, dengan selalu mendukung pelayanan di HKBP AIDS Ministry yang dulu dinamakan Komite AIDS. Setiap tahun diadakan peringatan hari AIDS Internasional dengan melakukan ibadah/refleksi, pembacaan surat seruan AIDS, juga mengumpulkan persembahan untuk mendukung pelayanan HIV AIDS, memberikan pengajaran HIV AIDS kepada peserta yang akan menjadi Calon Pelayan di HKBP yaitu khusus LPP 1, memberikan pengajaran tentang HIV AIDS terhadap curriculum sidi, memberikan pemahaman tentang HIV AIDS kepada counselling pra nikah, memberikan pegajaran HIV AIDS kepada sekolah-sekolah yang dimulai dengan anak usia Dini yaitu TK/PAUD lewat film animasi, SD, SMP, SMA sampai ke perguruan tinggi. Beliau juga menjelaskan bahwa ODHIV adalah sesama kita, yang harus kita terima dan layani, direfleksikan dari Firman Tuhan tertulis di Matius 25:40 2, Matius 20:28 1 Korintus 12:25-26 4, Matius 22:37-39 5 dan Galatia 6:2.

Dalam kegiatan ini, HAM dari hatopan juga mempromosikan hasil karya dari dampingan HAM di Toba, komunitas Santosa, berupa hiasan kayu dan gantungan kunci, dengan harapan karya-karya ODHIV semakin dikenal banyak orang dan banyak meminatinya, sehingga nanti menjadi usaha mereka untuk meningkatkan ekonominya.


Sesi terakhir adalah pembuatan rencana tindak lanjut dari pelatihan, dipandu oleh ketua HAM Distrik XV Sumbagsel dan dr. Posma Siahaan, SPPd sebagai koordinator divisi Komunikasi, Informasi dan Edukasi. Disimpulkan bahwa kegiatan edukasi ke setiap gereja-gereja, khususnya kepada pemuda, pelajar sidi akan tetap dilakukan, juga pendampingan kepada ODHIV akan dimulai dilakukan, serta aksi donor darah akan tetap berkelanjutan untuk membatu banyak orang, dan langkah awal kita mengetahui status kesehatan kita. Skrining penyakit menular, atau IMS, salah satunya. Semakin banyak orang yang mau mengikuti donor darah, semakin cepat kita sampai pada akhir AIDS 2030.

Diakhir kegiatan Kadep Diakonia menutup pertemuan dengan refleksi dan doa.



Pustaka Digital