"Ia pangapoion, i ma; ia na mangansii, sian bulus ni roha ma; ia na mangulahon, marringgas ni roha ma; ia na marbasabasa, sian las ni roha ma!

Jika karunia untuk menasehati, baiklah kita menasehati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu , hendaklah ia melakukannya dengan hati yang iklas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita."

Rom 12: 8

Peletakan Batu Alas Gereja HKBP Ambarisan

Ephorus HKBP : Siapakah Aku menurut orang lain? Sekarang prioritas, SIAPAKAH ALLAH MENURUT KITA? Bukan lagi hanya kesaksian bersama tetapi juga pribadi

 

Pimpinan HKBP Ompu i Ephorus Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing meletakkan batu alas gereja HKBP Ambarisan Distrik V Sumatra Timur dalam ibadah yang dirangkai dengan ibadah Minggu (3/3/2019), Mameakhon Batu Ojahan (MBO), dan Mangompoi. HKBP Ambarisan dengan jumlah jemaat 495 jiwa yang dipimpin Calon Biv. Dian J. Saragih ini merupakah salah satu cabang dari Ressort Sari Matondang yang dipimpin Pdt. Simon S. Hutagalung, S.Th, M.PdK sebagai Pendeta Ressort. Gereja ini terletak sekitar 30 Km dari pusat kota Pematangsiantar, yang ditempuh dengan 60 Menit perjalanan menggunakan transportasi mobil.

Barisan prosesi yang diikuti oleh Pembawa Peti Perjanjian, demikian Ephorus HKBP, Praeses HKBP Distrik V Sumatera Timur, Kepala dan Wakil Kepala Biro Jemaat, Para Pendeta yang melayani di Distrik V Sumatera Timur serta Mantan Pelayan yang melayani jemaat Ambarisan, demikian panitia beserta para sintua, disambut oleh remaja dengan tarian tortor disaksikan seluruh jemaat demikian dengan penandatanganan prasasti dan membuka gereja dengan resmi.

Ephorus HKBP menjelaskan Firman Mateus 16: 13 – 20 dengan topik Yesus adalah Mesias Anak Allah Yang Hidup. Ada banyak jenis kesaksian yang bisa kita lihat di dalam kehidupan ini, baik secara tindakan nyata, perkataan, bahkan di dalam hati. Firman mengajak kita, bukan percaya di perkataan, tetapi percaya di dalam kesaksian hidup ini. Bukan hanya sebatas pengakuan saja seperti pengakuan iman, tetapi juga pengakuan iman itu juga harus nyata di dalam kehidupan kita sehari – hari, kata Ephorus.

Banyak yang mengira Dia adalah Yeremia atau Elia, sehingga Yesus bertanya, siapakah Aku menurut kalian? Ada yang katakan, kalau Dia adalah Yeremia, kalau Dia adalah Elia, tetapi Yesus tidak menegur pengenalan yang salah itu. Yesus menekankan, tidaklah cukup percaya kepada Yesus kalau hanya berdasarkan pengakuan orang lain, tetapi harus sampai kepada pengenalan – pemahaman dari diri sendiri. Diawali, “siapakah Aku menurut orang lain?, lalu berikutnya, Siapakah Aku menurut kamu?”

Petrus menyaksikan kalau Dia adalah Kristus Mesias, Raja yang dinubuatkan, Anak Allah. Penting sekali kita menyaksikan iman kita kepada siapa kita percaya. Demikian juga di gereja, kebiasaan di kita ketika pengakuan iman, “tahatindanghon ma haporseaonta songon na hinatindanghon ni angka donganta sahaporseaon di sandok portibion”, itu tidak salah tetapi tidak cukup karena pengakuan orang lain saja, lalu sekarang menegaskan kepada kita bagaimana pengakuan kita pribadi dan keluarga, tutur Ephorus.

Demikian juga dengan ibadah minggu, tidaklah cukup kita hanya mengikuti ibadah minggu saja, tetapi ibadah itu juga mencakup keseharian kita pribadi lepas pribadi. Siapakah Yesus di dalam kehidupan kita, bukan hanya di gereja, bukan hanya di keluarga, tetapi juga di tempat kita masing – masing, apakah itu bekerja, mengikuti adat dan pesta, serta lainnya, tetap dipertanyakan siapakah Yesus bagi kita? Apakah kita percaya atau tidak? Percayakah atau tidak? Mau atau tidak melakukan Firman Tuhan? Tuhan menginginkan dari kita, untuk menjawab siapakah Dia bagi kita ketika beraktifitas, di ladang, di pajak/pasar, di rumah, di kantor, dan lainnya? Kesaksian kita secara kolektif sudah cukup bagus, kita bersama – sama menyaksikanNya, tetapi bagaimana dengan pribadi masing – masing?, kata Ephorus.

Ephorus juga menyampaikan terimakasih kepada Keluarga Gultom yang telah memberikan perhatian serius untuk perbaikan gereja ini, karena perhatian ini, seluruh jemaat dan pelayan juga turut merasakan sukacita. Dengan kebersamaan baik keluarga Gultom bersama seluruh jemaat dan pelayan, tentu ini menjadi tanda sehati sepikir dalam pelayanan memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Kita patut bersyukur kepada Tuhan, karena ini kesempatan baik dari Tuhan untuk membangun gereja. Kita bisa buktikan dengan apa yang dikatakan Firman, Daud yang berkeinginan membangun Bait Suci tanpa kekurangannya tentunya dari dirinya dan jabatannya, tetapi Tuhan justru berkehendak lain, harus di masa Salomo lah berdirinya Bait Suci dengan megah. Tuhan mampu menjadikan apa saja, Tuhan juga yang bertahta di Kerajaan Sorga berkenan turun untuk berdiam bersama dengan kita melalui gerejaNya. Dengan peletakan Batu Alas gereja ini, bukan semakin sedikit jemaat bergereja, justru harus semua antusias memuji nama Tuhan, mulai dari anak – anak, remaja – pemuda/i, demikian dengan orangtua. Kiranya Tuhan mendengar semua permohonan kita, gereja ini bukan hanya parsaoran orang Kristen tetapi juga dengan Allah, kata Ephorus HKBP.

Usai ibadah, acara dilanjut dengan rangkaian kegiatan ramah – tamah, mangulosi seluruh jemaat, Ketua Panitia beserta keluarga Ny. Ir. Anna Ch. Br. Hutabarat, Ketua – ketua Pembangunan, Parhalado Sintua yang pernah melayani, Pendeta yang pernah melayani di Ambarisan, Pemberi tanah gereja, pemerintah, Praeses, dan Pendeta Ressort, demikian para pendiri gereja dan simpatisan yang turut mensukseskan pembangunan tersebut.

Dalam kata sambutan, Ketua Panitia Ny. Ir. August Gultom St. Anna R. Ch. Hutabarat memperkenalkan dirinya serta kesaksian hidupnya. Sudah sudah 9 tahun saya rutin cuci darah. Selama satu tahun proses pembangunan gereja ini saya sering sakit tetapi satu doaku, Tuhan... sapala naung dipaloas Ho au mambangun gerejaMi, patulus ma Tuhan”. Saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh jemaat karena kesatuan kita selama ini. Saya melihat begitu banyak punguan Ina dan Sekolah Minggu di gereja ini, saya berharap semuanya pelayanan bangkit. Secara khusus, saya mengucapkan terimakasih kepada Ompu i Ephorus HKBP karena telah berkenan datang ke gereja ini, dan pelayanan Ompu i khususnya khotbah yang telah kami dengar. Demikian dengan punguan – punguan koor yang telah datang mengumandangkan persembahan pujian. Ompung, orangtua kamilah yang membuka gereja ini yaitu St. Op. Yohannes Gultom, karena Sintua jadi adalah kerinduan anaknya menjadi Pendeta dan jadilah anaknya Penseta yaitu Mertua kami Pdt. Mula Luther Gultom. Mertuaku inilah yang melantik Pdt. G.H.M. Siahaan menjadi Ephorus dulunya. Saya sendiri juga adalah keturunan Pendeta, Ompungku Pdt. Frederik Hutabarat yang berperan membuka gereja HKBP Hutabarat Partalitoruan Tarutung. Ketika Pensiun mertuaku menerima Emas ukuran besar, lalu mertuaku mengatakan, kalau ada Pahompuku menjadi Pendeta maka Emas ini akan kuberikan untuknya, rupanya sampai sekarang belum ada yang menjadi pendeta. Jadi saya berharap, kalau tidak ada dari keturunan kami atau keluarga kami, tetapi kiranya ke depan bisa ada yang menjadi pendeta dari kampung ini khususnya dari gereja ini, kata St. Anna Hutabarat.

Kemudian Tagor Sitanggang mewakili anak rantau dalam sambutannya mengatakan harapan agar jemaat di Ambarisan ini tetap solid, dan bersungguh – sungguh untuk bergereja. Lalu Op. Japerson Malau mewakili ruas menyampaikan ungkapan kebanggaannya bersama jemaat atas kedatangan Ompu i Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing bersama rombongan dan para tamu lainnya. Sementara mewakili undangan Parluhutan Simarmata menambahkan dengan pembangunan yang sudah ada ini, gereja bagus, dan tentu kemajuan juga akan semakin cepat di daerah ini kalau jalan juga bagus. Sekarang pergumulan kita kelihatnnya jalan kita ini cukup memprihatinkan, sudah selayaknya PTPN memperbaiki jalan ini karena ini jalan kebun dan masyarakat banyak berdomisili disini. Camat br. SImarmata juga menambahkan agar kiranya bisa mereka bisa dibantu oleh pihak – pihak terkait demikian dengan media yang bisa menyampaikan aspirasi masyarakat.

Ephorus HKBP dalam bimbingan pastoralnya menyampaikan, berdirinya gereja ini menjadi bukti konkret penyertaan Tuhan kepada kita semua di daerah ini. Di zamannya masing – masing, ada tantangan yang begitu sulit membangun gereja. Tadi disebutkan ada 2 orang Pendeta diantaranya, Pdt. Frederik Hutabarat (Pendeta HKBP Ressort Simorangkir dulunya), yang saya perkirakan beliau adalah generasi ketiga Pendeta Batak, demikian Pdt. Mula Luther Gultom yang terus memberikan perhatian ke gereja sampai kepada generasi sekarang. Ini bukti konkret dan perhatian khusus bagi kalangan Pendeta, bahwa keturunan Pendeta serius memberikan bantuan kepada gereja dimanapun berada dan ini menjadi harapan juga bagi para pendeta dan keluarga. Pdt. ML. Gultom adalah Pendeta yang melantik Pdt. G.H.M. Siahaan menjadi Ephorus HKBP di Periode Kedua, sempat menjadi TPE (Team Pembantu Ephorus). Tentunya HKBP tidak melupakan biografi pelayanan Pdt. ML. Gultom ini demikian dengan HKBP Dame di Pematangsiantar yang juga merupakan buah tangan dari keturunan Pdt. ML. Gultom, dan sekarang juga gereja HKBP Ambarisan ini menjadi buah tangan pelayanan dari keturunan Pdt. ML. Gultom. Memang benar, tidak semua orang punya kesempatan untuk membangun gereja maupun pelayanan gereja. Ada Pelayan yang ketika mau mengadakan MBO, justru dia harus pindah tugas, demikian jemaat, ketika ikut serta dalam pembangunan tetapi bisa saja dikarenakan pindah tugas atau domisili sehingga tidak bisa lagi aktif membangun dan banyak faktor lainnya.

Bila Gereja mengharapkan bantuan/partisipasi dari kita semua, jangan sampai kita menolak. Karena apa yang kita pakai untuk membantu adalah justru yang berasal dari Tuhan. Yang terpenting, bagaimana kesediaan kita memberikan yang terbaik bagi gereja ini. Ini kedua kalinya saya ke gereja ini, ketika itu ada Pesta Pembangunan yang saat itu dipimpin Pdt. C. Hutahaean, sungguh menjadi sukacita bagi saya dan apalagi sekarang perbandingan kondisi bangunan sudah sangat jauh berbeda, lebih bagus saat ini. Penahbisan gereja ini telah berlangsung sebagaimana yang diaturkan di Agenda HKBP, ini menjadi tempat yang dikuduskan Tuhan sebagaimana kesaksian dan janji jemaat tadi. Keindahan gereja ini menjadi tugas tanggung – jawab besar kita semua seperti janji, bukan berjanji kepada Ephorus maupun Para Pendeta, tetapi kepada Tuhan agar memakai gereja ini untuk memuliakan Tuhan, kata Ephorus HKBP.

Oleh karena itu, kepada Ketua Umum, dan seluruh keturunan Pdt. ML. Gultom, kami sebagai Pimpinan HKBP mengucapkan terimakasih atas pelayanan dari keluarga bukan hanya di Ambarisan ini saja juga termasuk di tempat lainnya. Kiranya Tuhan memberikan kekuatan dan sukacita kepada Inang St. Anna R Ch br. Hutabarat dan semua keluarga, pungkas Ephorus HKBP. (APS)

 

 

 

 

 

 

comments

Leave a Reply