"Di ari uju na jongjong ho di adopan ni Jahowa, Debatam, di Horeb, uju na nidok ni Jahowa tu ho; paluhut ma bangso i di Ahu, asa Ahu patubegehon tu nasida hatangKu, angka siparateatehononnasida, asa marhabiaran nasida mida Ahu saleleng mangolu nasida di tano on, asa diajarhon huhut tu angka anakhonnasida.

Yakni hari itu ketika engkau berdiri di hadapan Tuhan, Allahmu, di Horeb, waktu Tuhan berfirman kepadaku: suruhlah bangsa itu berkumpul kepada-Ku, maka Aku akan memberi mereka mendengar segala perkataan-Ku, sehingga mereka takut kepada-Ku selama mereka hidup di muka bumi dan mengajarkan demikian kepada anak-anak mereka."

5 Musa 4:10

Pemberdayaan Kepala Bidang Koinonia-Marturia-Diakonia HKBP

Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) menyadari   Tri Tugas panggilannya yaitu Koinonia (bersekutu), Marturia (bersaksi) dan Diakonia (melayani). Ketiga panggilan itu  dilakukan pada setiap pelayanan, sekalipun situasi dan konteksnya berbeda sesuai tempat dan waktunya.

Di era ini, situasi cepat berubah yang menuntut gereja senantiasa memperbaharui dirinya agar pelayanan yang dilaksanakan  dapat menyentuh kehidupan jemaat. Untuk itu, pemberdayaan sangat perlu dilakukan untuk para Kepala Bidang (Kabid) yang melayani di 32 distrik. Para kabid sebagai penggerak transformasi di masing-masing distrik.

Memahami hal itu, HKBP melaksanakan pemberdayaan kepada Kepala Bidang Koinonia, Kepala Bidang Marturia dan Kepala Bidang Diakonia selama dua hari (17-18/6/2021) di Seminarium Sipoholon, Tapanuli Utara.

Saat berita ini dituliskan (17/6/2021), pemberdayaan telah resmi dibuka oleh Sekretaris Jenderal, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST mewakili  Ephorus yang saat itu mengikutinya secara virtual.

Dalam sambutannya, Sekjen menekan kepada para Kabid,  melalui pemberdayaan ini terjadi pelayanan yang berkualitas di semua aras. Maka pelayan yang baik perlu memperhatikan beberapa hal. Pertama, pelayan yang melayani selalu mengalami keterhubungan dengan Tuhan. Kedua, pelayan harus terbuka untuk diperlengkapi agar menjadi pelayan visioner atau visible servant. Dan ketiga, pelayan mampu menjadi solusi, bukan sebaliknya, pelayan menjadi masalah, bahkan sumber masalah.

Sebagai Keynote Speaker, Ephorus, Pdt. Dr. Robinson Butarbutar menyampaikan bahwa HKBP adalah gereja yang tranformatif. Demikian pelayan-pelayan yang diutus di huria, resort, distrik dan pusat menyadari dirinya merupakan pemimpin-pemimpin transformatif. Perubahan-perubahan yang dilakukannya sangat berarti bagi jemaat dan masyarakat luas. Semua pelayan dan gereja harus meneladani gerakan Yesus yang melakukan tranformasi di tengah kehidupan masyarakat Yahudi saat itu.

Tertibnya awal pelaksanaan  Pemberdayaan Para Kabid hari ini, karena kepiawaian Kepala Biro Pembinaan, Pdt. Dr. Enig. S. Aritonang sebagai Ketua Pelaksana menata dan mempersiapkan nya. (B-TIK)


Pustaka Digital