"Ia parholong ni roha, ndang diulahon na jahat tu angka dongan;

Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia"

Rom 13:10a

Pembinaan Parhalado HKBP se-Ressort Kwala Bekala


Senin (3/6), Kepala Departemen Marturia menyampaikan materi Parhalado na Marmarturia kepada 28 majelis jemaat dalam pembinaan Parhalado HKBP se Ressort Kwala Bekala di Gedung Nommensen Christian Center, Kompleks Seminarium HKBP, Kecamatan Sipoholon, Tapanuli Utara. Pembinaan ini berlangsung selama dua hari kedepan yang dipimpin oleh Pdt. Pluner Simamora. Pada sesi ini ibu kadep memulai dari pertanyaan kepada beberapa majelis jemaat. Pertanyaan yang disampaikan oleh Ibu kadep: Bagaimana panggilan kita menjadi parhalado sampai saat ini? Seorang majelis laki-laki sebut St. Manik memberikan respon pribadinya bahwa beliau menjadi parhalado karena dukungan dan dorongan dari teman majelis yang selalu meningatkan beliau untuk rajin beribadah. Respon salah seorang majelis perempuan yaitu St. Simanjuntak juga terdengar sedikit unik, yaitu karena nazar. Sebab belaiu pernah mangalami sakit yang cukup parah hingga beliau berdoa untuk kesembuhan kepada Tuhan, jika Tuhan memberikan kesembuhan beliau siap menjadi koster di gereja. Pada waktu yang kesembuhan terjadi pemilihan mejelis gereja. Maka kesempatan itu diterima olehnya untuk melayani Tuhan.

Respon dari majelis ini melanjutkan materi yang disampaikan oleh ibu kadep akan sesi parhalado na marmarturia. Penjelasan ini dimulai dari pengertian mejelis gereja yang dipilih oleh Tuhan melalui jemaat yang berada dilingkungannya. Pada tahun 1940 majelis gereja menerima tujuh tugas di dalam gereja yang tertulis di agenda HKBP. secara umum tugas itu sangat mengarahkan majelis untuk hidup bersaksi akan kasih Kristus. Inilah dasar dari majelis yang bermarturia di HKBP. Tugas kesaksian tersebut mencakup melayani diibadah minggu, melayani diibadah lingkungan, pelayanan kategorial, pelayanan diakonia sosial dan pelayanan bermasyarakat. Tetepi saat ini, tugas itu semakin bertambah, dimana dari tujuh uraian tugas para majelis ditambahkan melalui materi ini yaitu: politik, hukum dan ekonomi. Hal ini mempunyai dasar dari keadaan gereja yang bersentuhan dengan politik, hukum dan ekonomi. Majelis diajak untuk bersaksi juga melalui sentuhan politik, hukum dan ekonomi di gereja kita saat ini. Disamping itu, tugas dari majelis adalah memperlengkapi jemaat yang tertulis di Epesus 4:11-12, majelis diajak untuk memperlengkapi jemaat dan sesama majelis di dalam pekerjaan yang diemban saat ini.


Bagaimana menjadi majelis yang bermarturia? Mari kita mulai dari data yang harus menjadi pedoman dalam pelayanan kita menjalakan uraian tugas kita sebagai majelis. Ada banyak kita yang tahu jumlah kepala keluarga dari lingkungan yang kita layani tetapi dari jumlah jiwa, masih belum akurat dari data kita. Data ini sangat penting untuk memulai pelayanan kita yang bermarturia. Setelah itu, majelis juga harus mempunyai jadwal kunjungan kepada jemaat, baik dimulai dari jumlah kepala kelauarga maupun dimulai dari hari yang telah ditentukan secara bergantian dari setiap majelis yang berada di lingkungan tersebut. Disinilah hubungan kerjasama anatara pendeta resort dengan majelis yang dilihat dari laporan setiap majelis. Laporan ini berasal dari kunjungan dari kegiatan: memelihara jemaat, memperhatikan tingkah laku jemaat, memberikan teguran kepada jemaat yang salah, dan menggembalakan jemaat.

Setelah penjelasan yang dipaparkan oleh ibu kadep marturia, beberapa pertanyaan dilontarkan oleh parhaldo kepada ibu kadep, salah satu pertanyaan yang unik yaitu: bagaiamana seni Marturia ini ditengah-tengah pelayanan kami ditengah-tengah gereja saat ini? Jawaban ibu kadep menjelaskan bahwa semua unsur tugas gereja ini termuat dalam satu kegiatan gereja. Salah satu contoh yaitu, pelayanan diakonia sosial kepada orang sakit atau yang baru berduka. Menyampaikan bantuan atau bentuk dari perhatian persekutuan itu adalah muatan diakonia, sedangkan kumpulan itu disebut dengan koninioa, dan muatan Firman Allah yang disampaikan disana adalah Marturia. Ketiga unsur ini tidak dapat dipisahsakan satu dengan yang lainnya. Bahkan, parhaldo dituntut untuk lebih memahami marturia dari seluruh muatan poda tohonan penatua. Oleh karena itu, pelayanan diakonia sosial terhadap yang sakit atau yang baru berduka, adalah bentuk panggilan gereja terjadi disana, hanya saja yang mengakomodir kegiatan itu adalah dewan diakonia.

Pertanyaan berikutnya dari perhalado, bagaimana mengingatkan anak-anak jaman sekarang, kita tahu perkembangan jaman sekarang sudah sangat luar biasa? Penjelasan ibu kadep, mendidik anak-anak saat ini tidak lepas dari keteladanan yang kita berikan kepada mereka. Jika kita meneladani yang baik, maka yang baik pula diteladani mereka dari kita. Oleh karena itu, perlunya meneladani firman Allah dan bergaul dengan firman Allah agar kita mampu memberikan teladan yang kita pahami dari firman Allah. Dengan begitu anak-anak tidak mempunyai alasan untuk tidak meneladani kita sebagai orang tua dan orang yang dituakan. Setelah selesai memberikan sesi dan pertanyaan, acara selanjutnya ibu kadep menyampaikan bulletin marturia secara simbolis kepada Pdt. Pluner Simamora sebagai tanda resminya bulletin marturia dilaunching oleh ibu kadep yang berisikan, khotbah dari bulan juli sampai September, berita pelayanan, artikel, dan lainnya. Sebanyak 32 buah bulletin Marturia, HKBP Kwala Bekala membelinya langsung dari Departemen Marturia. Kiranya pembinaan parhaldo HKBP Kwala Bekala memberikan semangat yang baru dan kecintaan dalam pelayanan semakin mendalam untuk meningkatkan pelayanan di HKBP Kwala Bekala dan sekitar lingkungan. (JLS)









comments

Leave a Reply