"Minggu Pentakosta I
PESTA PARJOLO PARNINGOTAN ARI HASASAOR NI TONDI PARBADIA
Topik: JANGKON MA TONDI PARBADIA (TERIMALAH ROH KUDUS)"

Ev : Johannes 20 : 19-23/Ep : 1 Samuel 10 : 6 -13

Renungan Harian HKBP | 26 Maret 2023

Khotbah Evanggelium Minggu 26 Maret 2023

YEHESKIEL 45 : 9-17

LAKUKANLAH KEADILAN DAN KEBENARAN

(9) Beginilah firman Tuhan ALLAH: "Cukuplah itu, hai raja-raja Israel, jauhkanlah kekerasan dan aniaya, tetapi lakukanlah keadilan dan kebenaran; hentikanlah kekerasanmu yang mengusir umat-Ku dari tanah miliknya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. (10) Neraca yang betul, efa yang betul dan bat yang betullah patut ada padamu. (11) Sepatutnyalah efa dan bat mempunyai ukuran yang sama yang ditera, sehingga satu bat isinya sepersepuluh homer, dan satu efa ialah sepersepuluh homer juga; jadi menurut homerlah ukuran-ukuran itu ditera. (12) Bagi kamu satu syikal sepatutnya sama dengan dua puluh gera, lima syikal, ya lima syikal dan sepuluh syikal, ya sepuluh syikal, dan lima puluh syikal adalah satu mina. (13) Inilah persembahan khusus yang kamu harus persembahkan: seperenam efa dari sehomer gandum dan seperenam efa dari sehomer jelai. (14) Tentang ketetapan mengenai minyak: sepersepuluh bat dari satu kor; satu kor adalah sama dengan sepuluh bat. (15) Seekor anak domba dari setiap dua ratus ekor milik sesuatu kaum keluarga Israel. Semuanya itu untuk korban sajian, korban bakaran dan korban keselamatan untuk mengadakan pendamaian bagi mereka, demikianlah firman Tuhan ALLAH. (16) Seluruh penduduk negeri harus mempersembahkan persembahan khusus ini kepada raja di Israel. (17) Dan rajalah yang bertanggung jawab mengenai korban bakaran, korban sajian, korban curahan pada hari-hari raya, bulan-bulan baru, hari-hari Sabat dan pada setiap perayaan kaum Israel. Ialah yang akan mengolah korban penghapus dosa, korban sajian, korban bakaran dan korban keselamatan untuk mengadakan pendamaian bagi kaum Israel."

Saudara/i yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Keadilan adalah merupakan sifat, perilaku yang tidak memihak dan tidak berat sebelah, ini tentu merupakan impian semua orang. Begitu juga dengan kebenaran, yaitu keadaan yang sesungguhnya, yang benar-benar ada, yang dinyatakan dengan hati yang tulus. 

Namun saat ini, semakin sulit kita menemukan keadilan dan kebenaran. Kita mengharapkan kehadiran pemimpin yang mampu dan mau menyatakan dan berlaku adil kepada semua orang tanpa terkecuali. 

Karena keberhasilan seorang pemimpin, akan akan nyata ketika orang-orang yang dipimpinnya merasakan keadilan dan kebenaran dalam kehidupannya.

Dalam nats ini, Yeheskiel menyampaikan peringatan kepada Raja-raja, penguasa bangsa pada jaman itu, karena dalam menjalankan kepemimpinannya, mereka melakukan kecurangan dan berlaku tidak adil. Banyak masyarakat yang terabaikan dan dirugikan. Karena itulah maka Yeheskiel menyampaikan Firman Tuhan untuk menegur dan mengingatkan mereka. Di ay. 9 dikatakan “…cukuplah itu hai raja-raja Israel, jauhkanlah kekerasan dan aniaya, tetapi lakukanlah keadilan dan kebenaran”. Bahkan, Yeheskiel memberikan ukuran yang benar, efa, bad yang benar, itulah yang dipakai. 

Hal itu disebabkan, Raja-raja pada waktu itu bersikap serakah, tidak peduli pada kehidupan masyarakat yang dipimpinnya. Mereka hanya mementingkan dan memuaskan keinginannya sendiri. Maka dengan tegas Yeheskiel mengatakan, cukuplah, berhentilah melakukan kekerasan dan aniaya dan sekarang lakukan keadilan dan kebenaran. Karena Tuhan ingin agar mereka menyatakan keadilan bagi umat yang dipimpinnya. Maka lewat Yeheskiel, Tuhan menegur dan mengingatkan mereka.

Namun, Tuhan juga mengingatkan umatNya untuk melakukan tugas dan kewajiban yang harus mereka lakukan, yaitu memberikan persembahan khusus berupa korban sajian, korban bakaran dan korban keselamatan kepada Raja seperti yang dijelaskan di ay. 16 tadi. Persembahan itulah yang dikelola secara bertanggungjawab oleh Raja untuk mengadakan perdamaian bagi bangsa Israel (ay. 17).

Ini tentu menjadi peringatan keras buat kita semua. Mana kala Tuhan memberi kita kesempatan menjadi seorang pemimpin, baik pemimpin dalam Rumah tangga, pemerintahan atau pun ditengah-tengah Gereja Tuhan, tugas utama kita adalah berjuang untuk terus bersikap adil dan benar kepada semua orang tanpa terkecuali.

Dan sebaliknya, mana kala dalam beberapa kesempatan kita pernah merasa diperlakukan tidak adil dan benar, atau mungkin juga kita pernah berlaku tidak adil dan tidak benar kepada orang-orang di sekitar kita, kita perlu untuk mengevaluasi diri. Dan ingatlah, apabila kita benar-benar berpegang teguh pada kebenaran Firman Allah, maka kita akan berlaku adil dan benar dalam menjalani hidup ini. 

Maka pertanyaannya sekarang, apakah perilaku kita sebagai orang Kristen telah menyatakan keadilan bagi sesama kita? Atau jangan-jangan kita menjadi batu sandungan bagi sesama karena kita tidak mencerminkan keadilan dan kebenaran. Marilah kita renungkan pertanyaan ini. Dan ingat, tugas kita, adalah menyatakan keadilan dan kebenaran kepada sesama kita. Sehingga di mana pun kita berada, kita dan orang-orang yang ada disekitar kita, boleh menikmati haknya dengan sukacita, sekaligus mendorong kita dan setiap orang untuk melakukan kewajibannya secara bertanggungjawab. Amin.


Khotbah Epistel Minggu 26 Maret 2023

Kisah Para Rasul 6 : 1-7

LAKUKANLAH KEADILAN DAN KEBENARAN

(1) Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari. (2) Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. (3) Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, (4) dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman." (5) Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. (6) Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka. (7) Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.

Saudara/i yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Kalau kita melihat konteks nas ini, ada 12 Rasul yang meneruskan pelayanan Yesus pada jemaat mula-mula. Tetapi seiring berjalannya waktu, jumlah anggota jemaat semakin bertambah, namun pelayan tidak bertambah. Maka muncullah konflik, karena menurut anggota jemaat, dalam pelayanan para Rasul tidak adil, dengan mengabaikan janda-janda.  

Kita tahu di tengah Gereja, ada 2 bagian besar pelayanan, satu adalah pelayanan sabda - khusus pelayanan Firman/Injil dan kedua adalah pelayanan meja yaitu pelayanan sosial, pelayanan menyangkut keseharian. Dalam menjalankan dua tugas tersebut, ada asumsi, bahwa para Rasul lebih mementingkan pelayanan yang lain.

Nah pertanyaannya, apakah betul para Rasul tidak adil dengan sengaja mengabaikan janda-janda dan orang yang butuh bantuan?

Ternyata dengan bertambahnya jumlah anggota jemaat, maka ke-12 Rasul tersebut menjadi kewalahan untuk melakukan pelayanan, sehingga ada jemaat yang merasa terabaikan. Itu yang menyebabkan munculnya “kegaduhan” di tengah jemaat tersebut. Maka Rasul-rasul berpikir keras untuk menyelesaikan masalah tersebut. 

Satu-satunya cara adalah dengan menambah petugas untuk membantu mereka. Akhirnya para Rasul meminta jemaat untuk mengusulkan nama-nama. Para Rasul mengatakan, pilihlah dari antara kamu yang bisa membantu pelayanan, supaya para Rasul lebih konsentrasi untuk pelayanan doa dan Firman; sehingga seluruh jemaat akan mendapatkan berkat secara rohani.

Ini tentu jadi pelajaran yang sangat berharga buat kita. Demi kemajuan pelayanan, kita harus membangun sistem dengan melibatkan orang-orang yang bersedia untuk melayani. 

Ini tentu butuh keterbukaan dari semua pihak (pelayan dan juga jemaatnya). 

Mereka memutuskan untuk memilih 7 diaken (angka 7 sebagai symbol kesempurnaan). Tetapi ada 3 syarat atau kriterianya, yaitu terkenal baik (karakter), penuh hikmat (komitmen) dan mampu melaksanakan tugas dengan bertanggungjawab (kemampuan). Lalu muncullah 7 nama yaitu: Stefanus, Pilipus, Prokorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikholaus. 

Melihat latar belakang ke-7 diaken ini, nama-nama mereka semua nama Yunani, tetapi ada diantara mereka yang berasal dari agama Yahudi, Nikholaus orang Sirya penganut agama Yahudi. Ini contoh keragaman yang dipilih oleh jemaat yang ada untuk pelayanan bersama demi kemuliaan Tuhan. 

Jadi dari awal, para pelayanan itu sudah ada keragamannya untuk melayani bersama. Untuk itu diperlukan penataan dan pengorganisasian yang baik. Tuhan ingin memakai kita dengan segala perbedaan yang ada pada kita untuk menjadi alat kerajaanNya, untuk membangun kerajaanNya di atas bumi ini. Dan pada akhirnya Firman Tuhan tersebar keseluruh dunia dan murid-murid terus bertambah.

Jadi di gereja itu bukan hanya iman saja yang terus diomongin, tidak hanya kasih. Tetapi kasih dan iman itu harus ditata kelola, harus diatur dengan baik dan bijak. Amin.

Pdt Rostetty Lumbantobing (Kepala Biro Ibadah Musik Kantor Pusat Pearaja Tarutung)

Pustaka Digital