Renungan Harian HKBP | 29 Maret 2023

Salam sejahtera buat Bapak, Ibu, Saudara-saudariku yang kukasihi di dalam Yesus Kristus. Kita berjumpa kembali hari ini, dalam renungan harian Marturia HKBP Rabu 29 Maret 2023. Apa kabar anda semua, saya berharap baik-baik saja. Kondisi yang bagaimanapun anda hadapi hari ini, bersama Tuhan, yakinlah semua akan baik-baik saja. Mari terus bertahan dalam pengharapan di dalam Dia, karena tiada yang dapat mengalahkan kekuatan yang bersumber dari Dia yang selalu mengasihi kita. Hari ini kita akan mendengar FirmanNya kembali, untuk itu kita saat teduh sejenak.

Doa Pembuka: Syukur dan terima kasih patut kami persembahkan kepadaMu ya Allah kami yang Mahapengasih, karena Engkaulah yang memimpin hidup kami sehingga segalanya dapat kami hadapi dengan sukacita. Jika tidak karenaMu kami tidak akan dapat berjalan sejauh ini, tetapi dengan kasih kebaikanMu Engkau memampukan kami dan memberi kami kekuatan dalam menghadapi segala sesuatu dalam hidup ini. Kami ingin mendengarMu lewat FirmanMu, hadirlah Engkau dengan RohMu di dalam hati kami masing-masing, agar Firman yang akan kami dengar hari ini, semakin memampukan kami untuk berjalan sesuai kehendakMu. Ya Tuhan, terimalah doa yang kami sampaikan hanya di dalam Nama AnakMu Tuhan Yesus Kristus juruselamat kami. Amin.

Renungan kita pada hari ini tertulis dalam Ratapan 5 : 19. Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya, takhta-Mu tetap dari masa ke masa!

Judul: TUHAN BERTAKHTA SELAMA-LAMANYA

Bapak, Ibu, Saudara-saudariku yang kukasihi di dalam Yesus Kristus. Kita tentu telah mengenal kitab Ratapan ini. Sebagaimana namanya, kitab ini berisikan ratapan, yaitu ratapan umat Israel, umat Tuhan yang tengah mengalami penderitaan yang sangat dalam akibat hukuman yang diturunkan Allah karena pelanggaran-pelanggaran mereka. Pembuangan ke Babel atau yang disebut pengasingan ke Babilonia dimana Kerajaaan Yehuda Kuno harus tunduk kepada pemerintahan Nebukadnezar II, merupakan sejarah buruk bagi umat Israel yang akan dikenang sepanjang sejarah ke-Kristenan. Keadaan ini tentu merupakan pengalaman yang pahit sekaligus menjadi penderitaan yang sangat sadis seakan kerajaan itu akan punah, seperti dikisahkan dalam konteks renungan kita hari ini. “Yehuda telah ditinggalkan penduduknya karena sengsara dan karena perbudakan yang berat; ia tinggal di tengah-tengah bangsa-bangsa, namun tidak mendapat ketenteraman; siapa saja yang menyerang dapat memasukinya pada saat ia terdesak. Jalan-jalan ke Sion diliputi dukacita, karena pengunjung-pengunjung perayaan tiada; sunyi senyaplah segala pintu gerbangnya, berkeluh kesahlah imam-imamnya; bersedih pedih dara-daranya; dan dia sendiri pilu hatinya. Lawan-lawan menguasainya, seteru-seterunya berbahagia. Sungguh, TUHAN membuatnya merana, karena banyak pelanggarannya; kanak-kanaknya berjalan di depan lawan sebagai tawanan.” (Ratapan 1 : 3 - 5).

Bapak, Ibu, Saudara-saudariku yang kukasihi di dalam Yesus Kristus. Allah memang sudah menetapkan rancangan terbaikNya bagi umat Israel sampai akhirnya Dia menyatakan kesungguhanNya mengasihi umat pilihanNya itu. Dalam setiap hukuman yang dijatuhkan kepada umatNya, Allah tidak serta merta meninggalkan atau mengabaikan umatNya, tetapi Dia selalu berkerja lewat orang-orang yang dipilihnya seperti nabi Yeremia dalam renungan ini. Kita tahu, nabi Yeremia adalah seorang nabi yang telah mengabdikan hidupnya atas pilihan Allah dengan masa waktu pelayanan yang cukup panjang. Dia hidup pada enam zaman kekuasaan raja Yehuda sehingga Dia dapat menyaksikan sendiri penyerbuan Babel ke Yerusalem sampai tiga kali hingga kota itu jatuh kepada kekuasaan Babel. Dialah yang menuliskan Ratapan ini sebagai ungkapan rasa pilu, tangisan dan erangan atas penderitaan keji umat Tuhan oleh perbudakan dari kekuasaan Babilonia kala itu. Hidup seolah tanpa harapan dan kehilangan jati diri sebagai umat Allah, bahkan lebih menyakitkan lagi justru Allah sendiri yang menurunkan hukuman itu. 

Bapak, Ibu, Saudara-saudariku yang kukasihi di dalam Yesus Kristus. Renungan kita hari ini adalah doa pemulihan, doa syafaat untuk permohonan belas kasihan Tuhan mohon pengampunan atas dosa-dosa mereka dan dosa nenek moyang mereka yang telah mati terbunuh oleh musuh, dengan meninggalkan kesengsaraan dan penderitaan yang sangat dahsyat. Dalam situasi keterhinaan dan kesengsaraan umatNya, Yeremia meyakinkan bahwa Allah masih akan bermurah hati dan berkenan mengampuni mereka, mendengarkan doa, seruan mereka jika mereka dengan sungguh-sungguh mengakui dosa-dosa mereka di hadapan Tuhan. Tuhan adalah sang Pemurah yang tak pernah tega melihat kesengsaraan orang-orang yang dikasihiNya, yang mau bertobat dan berbalik dari segala kejahatannya. Yeremia mengajak umat Tuhan mengenal secara utuh bahwa takhta Allah tidak akan pernah lenyap namun tetap untuk selama-lamanya dari masa ke masa. Yerusalem adalah simbol kerajaan Allah, maka Allah tidak akan membiarkan Yerusalem lenyap bahkan tunduk kedalam kekuasaan musuh. Allah pasti akan menebus umatNya kembali.

Bapak, Ibu, Saudara-saudariku yang kukasihi di dalam Yesus Kristus. TUHAN, bertakhta selama-lamanya, takhta-Mu tetap dari masa ke masa! Pengakuan yang kita juga harus imani dan percayai setiap waktu, termasuk dalam doa-doa kita. Seperti ada tertulis dalam Doa yang diajarkan Tuhan Yesus kepada murid-muridnya, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga”. (Matius 6 : 10). KekuasaanNya mengatasi segala-galanya baik yang ada di bumi pun yang ada di langit. Hal itu sudah teruji dan terbukti dengan kemenangan Yesus Kristus atas penderitaan menuju kayu Salib hingga kematianNya, seperti yang kita kenang pada masa-masa sekarang ini. Hal itu menunjukkan bahwa Takhta Allah itu kekal dari masa ke masa. Takhta Kuasanya tidak akan padam oleh apapun juga. Dan yang paling besar maknanya adalah, bahwa Takhta Allah itu berkuasa dengan keadilanNya. Sekalipun kesetiaan kita terkadang menyimpang dari kasih setiaNya, terkadang kita menduakan Dia bahkan meninggalkan Dia, tetapi Dia selalu mengasihi kita. Itulah yang kita hidupi dalam menjalani Minggu Judika ini, berilah keadilan kepadaku, ya Allah. 

Bapak, Ibu, Saudara-saudariku yang kukasihi di dalam Yesus Kristus. Tuhan juga akan mengadili dengan keadilanNya di atas Takhta PengadilanNya. Kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. Setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah. (Roma 12 : 14). Setiap orang akan memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. (2 Korintus 5 : 10). Sebagaimana Kristus bertahan atas penderitaan yang sangat keji karena dosa manusia yang dilipahkan kepadaNya, hingga Allah juga menyerahkan Takhta tertinggi kepadaNya, marilah kita setia mengikutNya. Seberat apapun beban yang kita hadapi dalam hidup kita, tetaplah setia jangan goyah, Tuhan pasti berada dipihak kita dan bertindak menyelamatkan kita hingga masa penghakimanNya di atas TakhtaNya kelak. Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. (Yakobus 1 : 12). Amin.

Doa Penutup: Terima kasih ya Tuhan Allah atas FirmanMu yang mengingatkan kami bahwa Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya, takhta-Mu tetap dari masa ke masa. KasihMu juga berlaku untuk selama-lamanya sekalipun kami terkadang tidak bertahan dalam kesetiaan kepadaMu. Kami sering terombang ambing oleh derasnya gelombang kehidupan duniawi yang menghempaskan iman kami jauh dari pelataran KasihMu. Itulah kelemahan kami Tuhan. Karena itu kami mohon ampun dan minta kekuatan dari padaMu agar kami mampu bertahan melawan badai kehidupan ini. Terima kasih atas KasihMu yang selalu tercurah bagi kami. Itu kami rasakan kini, ketika kami mengenang masa-masa penderitaan AnakMu Yesus Kristus di kayu Salib. Ya Tuhan Allah yang Mahakuasa dan Maha benar, Pengasih dan Penyayang. Bermurah hatilah Engkau ya Tuhan terhadap kami. Kiranya Tuhan berkenan mengampuni segala dosa dan kejahatan kami. Tiada yang lain yang dapat menjadi pelindung dan penyelamat bagi kami selain dari kasih sayang dan pembenaranMu yang tunggal. Karena itu karuniakanlah kami ketenangan dan penghiburan di dalam pengorbanan AnakMu, Tuhan Yesus Kristus Juruselamat kami. Amin.

Anugerah Tuhan Yesus Kristus dan Kasih Allah Bapa dan Persekutuan Roh Kudus kiranya beserta dengan kita sekalian. Amin.

St. Menerwatsen Panggabean- Melayani di Biro Ibadah Musik HKBP

Pustaka Digital