Terharu & Bersukacita! 57 KK Warga Jemaat HKBP Bethesda Sitakka Dilayani Ephorus HKBP


Jumat, 02 April 2021 | 10.30 - 16.00

---------------------------------------


“Anak desa bisa mendunia.” Demikianlah motivasi yang disampaikan Ephorus dalam khotbah Jumat Agung di HKBP Bethesda Sitakka.

 

Tahun ini, nuansa 'duka' dalam memperingati kematian Yesus Kristus, dirasakan berbeda oleh HKBP Bethesda Sitakka, Ressort Pearaja yang berjarak 2,8 km atau sekitar 10 menit dari Kantor Pusat HKBP, Pearaja, Tarutung, Sumatera Utara. Warga jemaat terharu atas kunjungan dan pelayan Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Robinson Butarbutar di Ibadah Jumat Agung hari ini. Tak pernah terpikirkan oleh warga jemaat yang hanya berjumlah 57 kepala keluarga itu, seorang Ephorus berkunjung ke desa mereka, yang terkenal dengan air terjunnya yang sejuk dan jernih itu.




Rasa haru berubah menjadi sukacita. Sebab bukan hanya berkhotbah, Ephorus juga melayani rangkaian pelayanan Kebaktian Peringatan Detik-detik Kematian Yesus (Parpunguan na Hohom), dan bahkan dalam pelayanan Sakramen Perjamuan Kudus. Ephorus turut menugaskan sekretaris khususnya, Pdt. Janrio Fernando Siagian untuk berpartisipasi dalam pelayanan Jumat Agung itu, sebagai liturgis serta melayani dalam perjamuan kudus.


Ephorus dalam khotbahnya, yang tertulis dalam Lukas 23:44-48 menekankan empat hal. Pertama, orang percaya harus bersyukur kepada Tuhan Allah, sebab melalui kematian Yesus Kristus, manusia dipersatukan kembali kepada Tuhan. Kedua, jangan menyianyiakan pengorbanan, penderitaan dan kematian Yesus yang telah menyerahkan nyawa-Nya. Ketiga, orang percaya harus berempati kepada semua orang, terutama kepada yang sakit dan menderita. Sebab, Yesus Kristus adalah Tuhan yang menderita. Menutup dan menyimpulkan khotbahnya, pada poin keempat, Ephorus mengajak warga jemaat untuk senantiasa menyerahkan pergumulan kepada Tuhan.


Ephorus dalam setiap kunjungannya, selalu memberi perhatian khusus dan motivasi kepada jemaat di desa. Bagi Ephorus, anak desa bisa mendunia dengan syarat orang tua harus bertekun dalam doa dan bekerja keras. Sedangkan orang muda, harus menjadikan kemiskinan sebagai pemicu untuk terus belajar dengan tekun dan tidak meninggalkan doa dalam hidup sehari-hari.  Motivasi ini berangkat dari pengalaman hidup Ephorus di masa mudanya yang hidup dalam kemiskinan. Namun beliau tetap belajar dengan sungguh dan bertekun dalam doa.


Ephorus juga menitipkan pesan khusus kepada pimpinan jemaat gereja, yaitu CPdt. Haposan Cornelius Sinaga, yang baru saja lulus S2 dari Universitas Groningen, Belanda, untuk setia mengajari generasi muda di Sitakka berbahasa Inggris agar mampu bersaing di kancah nasional dan internasional serta menjadi sumber daya yang mumpuni. (SKE_JFS)



comments