"Jadi ro ma hata ni si Samuel tu sandok Israel songon on: Molo tung mulak hamu tu Jahowa sian nasa rohamuna, sai paholang hamu ma angka debata sileban sian tongatongamuna, ro di angka sombaon Astarot, jala marsihohot rohamuna tu Jahowa, jala sasada Ibana oloi hamu, asa dipalua hamu sian tangan ni halak Palistim.

Lalu berkatalah Samuel kepada seluruh kaum Israel demikian: "Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin.""

1 Samuel 7 : 3

Tuhan Mencari dan Menemukan Jemaat HKBP Dolokmartumbur

Sebagaimana Yesus yang mencari dan menyelamatkan Zakheus yang hilang karena kesalahan-kesalahannya, demikian juga Tuhan mencari dan menemukan Jemaat HKBP Dolokmartumbur yang sebelumnya berada dalam kegelapan, sehingga dapat mengenal Yesus seperti sekarang ini.



Hal ini seperti yang dituliskan dalam sejarah dari jemaat itu sendiri, dimana pada mulanya di daerah ini berada dalam kegelapan. Banyak di antara orang-orang sekitar mempercayai hal-hal yang bertentangan dengan Iman Kristen. Namun Tuhan mencari dan menemukan umatNya yang ada di Desa Dolokmartumbur, Kec. Muara sehingga Ia melalui gerejaNya mengutus hambaNya untuk menerangi dengan terang Injil. Ini sebagaimana yang disampaikan dalam rangka Ibadah Minggu sekaligus Perayaan Jubileum ke-125 Tahun HKBP Dolokmartumbur oleh Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Robinson Butarbutar dalam bagian awal kotbahnya, “Nang Muara mago hian, alai dilului Debata do, Dipalua Debata do sian hagogoon ni portibi on”. Walau menurut pemahaman Yahudi saat itu bahwa Yesus hadir untuk orang benar, orang kaya, tetapi Yesus melalui nats kotbah yang tertulis hari ini dalam Lukas 19:1-10 mengingatkan jemaat dan kita bahwa Yesus datang untuk semua orang, bahkan orang yang paling hina sekalipun.



Sejak tempat ini diterangi oleh Injil Kristus, jemaat pertama yang berdiri yaitu pada tahun 1897 adalah HKBP Aritonang-Tapiannauli, Batugukguk (di tanah pemberian Op. Humantor Rajagukguk). Buah Pekabaran Injil menyentak para anak-anak sekolah Minggu, ditopang kepedulian para orantua. Satu-satunya Pelayanan Sekolah Minggu saat itu (1948) ada di jemaat tersebut, yang dipimpin oleh Pdt. Albert Lumbantoruan.


Ada beberapa faktor mengapa gereja pindah ke tempat yang sekarang, antara lain:

1. Semakin banyak jemaat datang untuk beribadah dari Desa Lumbansiaro Simullop Tapiannauli, akhirnya mereka memohon agar gereja dipindahkan ke tempat yang lebih dekat, yakni Tapiannauli yang saat ini.

2. Di Aritonang ada Sekolah Rakyat Sempurna yang menyediakan pendidikan hingga kelas IV, sementara di Batugukguk hanya hingga kelas III.

3. Lebih mudah untuk mengungsi jika Tentara Haraja datang

4. Sekte gereja lain mulai datang


Dalam Khotbahnya, Ephorus menyatakan bahwa Yesus datang pada semua orang, baik orang yang kaya, yang miskin, yang sehat, yang sakit, dll. Firman Allah memang selalu hadir menerangi setiap umat manusia, dan untuk mengubah cara pandang kita serta mengajari cara kita memandang segala sesuatu hal. Oleh karena itu, melalui Firman Allah pada hari ini jemaat diajak untuk membawa pulang Firman ini dan membuatnya menjadi sebuah gaya hidup dalam sehari-hari sesuai dengan kekuatan Allah. (VSLH)



Pustaka Digital