Pematangsiantar (19/1) – Sebuah momentum oikumenis yang kuat tercipta dalam pertemuan antara pemimpin gereja HKBP dan Katolik di Sumatera Utara. Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PGI Wilayah Sumatera Utara, hadir sebagai narasumber utama dalam Temu Pastoral Uskup dan Pimpinan Tarekat Hidup Bakti se-Keuskupan Agung Medan (KAM) pada Senin (19/1).
Kehadiran Ephorus HKBP tersebut memenuhi undangan khusus dari Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap. Pertemuan ini menjadi simbol penting persatuan gereja-gereja dalam menghadapi ancaman global yang paling genting saat ini: perubahan iklim. Dalam sesi refleksi bertajuk “Merawat Ciptaan, Menghidupi Iman”, kedua tokoh tersebut sepakat bahwa menjaga lingkungan adalah bagian integral dari kesaksian iman Kristen yang hidup.
Dalam paparannya di hadapan para Pastor, Bruder, dan Suster, Ephorus Pdt. Dr. Victor Tinambunan menekankan bahwa kondisi bumi yang tengah mengalami “demam” serius bukan sekadar masalah teknis lingkungan, melainkan masalah spiritual. Ia menyoroti pola hidup manusia yang rakus sebagai akar dari kerusakan hutan dan emisi gas CO₂ yang tak terkendali.
Beliau memperkenalkan istilah affluenza, yaitu penyakit kerakusan yang menggerogoti hati manusia, merusak relasi, dan menghancurkan ciptaan. Sebagai penawar, gereja-gereja diajak untuk melakukan pertobatan ekologis (ekometanoia).
“Iman kepada Tuhan tidak dapat tinggal diam. Mengasihi Allah berarti menghormati dan merawat ciptaan yang Ia kasihi. Bumi ini bukan milik kita untuk dihabiskan, melainkan titipan Tuhan untuk diwariskan kepada generasi mendatang,” tegas Pdt. Dr. Victor Tinambunan.
Menindaklanjuti refleksi teologis tersebut, pertemuan ini merumuskan langkah praktis yang dapat dijalankan oleh jemaat dan masyarakat luas melalui gerakan 5R. Strategi ini dirancang untuk mengubah cara pandang destruktif menjadi tindakan pemulihan yang nyata:
- Repent (Bertobat): Berhenti dari cara pandang destruktif dan kerakusan terhadap alam.
- Reduce (Mengurangi): Membatasi konsumsi yang berlebihan dalam kehidupan sehari-hari.
- Reuse (Gunakan Kembali): Menggunakan kembali sumber daya yang ada secara bijaksana.
- Recycle (Daur Ulang): Mengelola sampah dan limbah demi keberlanjutan.
- Replant (Menanam Kembali): Menanam pohon sebagai simbol harapan dan pemulihan bumi.
Pertemuan yang berlangsung di Pematangsiantar ini diapresiasi sebagai langkah maju dalam kerja sama Katolik dan HKBP di Sumatera Utara. Keterlibatan pemimpin gereja dalam isu ekologi menunjukkan bahwa tantangan lingkungan hidup adalah tanggung jawab bersama yang melampaui batas-batas denominasi.
Mgr. Kornelius Sipayung menyambut refleksi yang disampaikan Ephorus, menekankan bahwa perjumpaan iman ini memperkaya panggilan rohani para pelayan gereja untuk menjadi penjaga rumah bersama (oikos). Sinergi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh lapisan masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah untuk bergerak bersama menyelamatkan lingkungan.
Gerakan “Merawat Ciptaan, Menghidupi Iman” ini akan terus disosialisasikan ke seluruh jemaat HKBP dan umat Katolik di wilayah Keuskupan Agung Medan sebagai bentuk pertanggungjawaban iman yang hidup di tengah krisis iklim dunia.











