Parmonangan (15/1) – Sebagai bentuk respons terhadap pergumulan jemaat, Satuan Tugas (Satgas) Peduli Kasih HKBP bersama Kepala Departemen Marturia, Pdt. Bernard Manik, M.Th menyalurkan bantuan sosial bagi warga yang terdampak bencana ekologis di wilayah Humbang Habinsaran. Aksi kemanusiaan ini difokuskan pada tiga wilayah pelayanan, yakni HKBP Resort Parmonangan, Resort Ranggitgit, dan Resort Hutajulu pada pertengahan Januari ini.
Kehadiran Satgas Peduli Kasih yang didampingi langsung oleh jajaran HKBP Distrik XVI Humbang Habinsaran merupakan wujud nyata eksistensi gereja di tengah penderitaan jemaat. Bencana ekologis yang melanda wilayah tersebut diketahui telah menyebabkan kerusakan infrastruktur perumahan, hilangnya lahan pertanian sebagai sumber mata pencaharian, bahkan hingga jatuhnya korban jiwa.
Dalam aksi tersebut, bantuan yang disalurkan meliputi santunan dana bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarga serta jemaat yang rumah dan lahan pertaniannya rusak berat. Selain santunan tunai, Satgas juga mendistribusikan kebutuhan pokok berupa beras, pakaian layak pakai, dan perlengkapan mandi guna memenuhi kebutuhan mendesak para penyintas.
Kegiatan ini menegaskan komitmen jangka panjang HKBP dalam merespons krisis ekologis yang kian sering terjadi. Gereja tidak hanya berperan dalam memberikan penguatan spiritual, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial untuk memberikan dukungan material guna pemulihan kondisi ekonomi dan psikologis jemaat.
Bagi HKBP, bencana ekologis yang merusak lahan pertanian jemaat adalah tantangan serius yang menuntut aksi kolektif. Penyaluran bantuan ini diharapkan dapat menjadi sumber pengharapan baru, sekaligus menumbuhkan keyakinan bahwa dalam situasi tersulit sekalipun, kasih dan kepedulian jemaat secara luas melalui HKBP akan selalu hadir.
Praeses HKBP Distrik XVI Humbang Habinsaran menyampaikan apresiasi atas sinergi antara pusat dan distrik dalam menanggapi bencana ini. Melalui pelayanan yang inklusif ini, diharapkan proses pemulihan jemaat di Resort Parmonangan, Ranggitgit, dan Hutajulu dapat berjalan lebih cepat. Aksi ini ditutup dengan harapan agar keberlanjutan bantuan dan pendampingan dapat terus berjalan, sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh jemaat akan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi dampak perubahan lingkungan di masa depan.













