Deli Serdang (20/3) – Keprihatinan mendalam terhadap ancaman pencemaran Danau Toba disuarakan secara tegas oleh Ephorus HKBP dalam Sidang Tahunan (Annual Meeting) Komite Nasional Lutheran World Federation (KN-LWF) Indonesia 2026. Di hadapan 14 pimpinan gereja Lutheran yang berhimpun di D’Prima Hotel Kualanamu, Deli Serdang pada Kamis hingga Jumat (19-20 Maret 2026), Ephorus mendorong gereja-gereja anggota untuk bergerak melampaui sekadar diskusi teologis. Ia menyerukan langkah kolaboratif dan aksi nyata untuk memulihkan ekosistem di Sumatera Utara, sekaligus membagikan praktik inovatif dari jemaat HKBP yang mengelola limbah minyak jelantah sebagai bentuk persembahan ramah lingkungan.
Selain membawa napas ekologis yang kuat, kehadiran Ephorus HKBP dalam persekutuan iman ini juga memberikan kontribusi strategis di bidang transformasi digital dan penguatan kelembagaan. Merespons pergumulan Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) terkait sistem pemungutan suara sinode yang masih manual, Ephorus menawarkan solusi aplikasi komputer offline yang telah terbukti sukses pada Sinode Godang HKBP, seraya merekomendasikan Universitas HKBP Nommensen sebagai mitra teknis. Ephorus juga menegaskan pentingnya database gereja yang komprehensif. Dengan pencapaian pendataan jemaat HKBP yang kini menyentuh angka 60%, HKBP menyatakan kesiapan penuh untuk menjadi mitra diskusi bagi gereja-gereja lain guna mendukung pengambilan keputusan yang berbasis data.
Sidang Tahunan ini dipimpin oleh Ketua KN-LWF Pdt. Dr. Humala Lumbantobing (Bishop GKPI), didampingi Sekretaris Pdt. Abednego Batanghari, M.Th. (Bishop GKPPD), dan Bendahara (Bishop GPP). Pertemuan ini bukan sekadar ruang administratif, melainkan momentum evaluasi dan perencanaan strategis yang dikemas dalam serangkaian kegiatan padat selama dua hari.
Pada hari pertama (19/3), persidangan diawali dengan ibadah pembukaan, dilanjutkan pemaparan laporan umum Direktur, laporan tiap desk, dan keuangan. Fokus krusial juga diberikan pada laporan Pos Terpadu Tanggap Bencana (POSTER) terkait peran gereja dalam merespons kebencanaan, ditutup dengan penguatan mengenai LWF Mutual Responsibility Framework oleh Sekretaris LWF Asia, Pdt. Dr. Rospita Siahaan. Memasuki hari kedua (20/3), agenda dilanjutkan dengan evaluasi program 2025, presentasi Workplan 2026 oleh Program Officers, pembahasan legalitas organisasi, hingga pemantapan strategi respons bencana bersama PGI dan tim POSTER.
Dinamika persidangan ini semakin kaya dengan kehadiran mitra internasional dan ekumenis, di antaranya Rev. Dr. Mark Schultz (LCA), Rev. Jenna Bergeson (ELCA) yang menyoroti panggilan profetis gereja di tengah konflik global, Rev. Dr. Dieter Gorring (KN-LWF Jerman), serta Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Jacky Manuputty secara daring. Seluruh rangkaian kegiatan diakhiri dengan perumusan keputusan bersama dan ibadah penutupan, membawa komitmen baru bagi gereja-gereja Lutheran di Indonesia untuk menghadirkan pelayanan yang berorientasi pada transformasi sosial dan pelestarian ciptaan Tuhan.










