Banyak dari kita yang merasa menjadi saksi Kristus itu ibarat beban Key Performance Indicator dari bos. Kita seolah dituntut Kristus untuk jago ngomong, harus selalu berhasil, harus suci tanpa cela. Itulah tuntutan Kristus. Benarkah demikian?
Di Yesaya 44, Tuhan menggunakan kata ‘ēḏ dalam bahasa Ibrani untuk kata "saksi". Kata Saksi di sini bukanlah seorang saksi yang berdebat atau NGOTOT di pengadilan untuk “memenangkan Tuhan”. Saksi adalah orang yang sekadar menunjuk pada apa yang sudah dia lihat dan alami.
Bayangkan kamu sedang hangout di kedai kopi kekinian, lalu temanmu curhat betapa hancur hidupnya. Nah, kalau mau menjadi saksi Kristus atas dia, bukan berarti kamu harus selalu menceramahinya dengan ayat.
Sebagai saksi kamu bisa juga menceritakan bagaimana kamu, yang dulu sama hancurnya, telah ditebus oleh Allah Tritunggal. Bapa yang merencanakan keselamatanmu, Anak yang mengeksekusinya di kayu salib, dan Roh Kudus yang hari ini, detik ini, menyertaimu.
Karena itu, Kekristenan bukanlah tentang "Lakukan ini agar kamu diberkati", bukan juga soal “Bersaksilah maka kamu akan diberkati”, melainkan "Kamu sudah diberkati dan dibenarkan karena iman, maka bersaksilah atas kasih karunia yang sudah kamu hidupi itu."
Tuhan memilihmu jadi saksi bukan karena kamu hebat. Dia memilih Israel, dan Dia memilih kamu, karena kedaulatan-Nya. Tugas kita bukan menyelamatkan dunia, melainkan bersaksi tentang Dia yang sudah menyelamatkan dunia. Jadi, jika hari ini kamu merasa tidak pantas bersaksi dan melayani, ingatlah: bukan kesempurnaanmu yang jadi kesaksian, tapi Anugerah-Nya yang menyempurnakan usahamu.
Mari kita berdoa. Ya Allah Tritunggal yang agung, kami bersyukur Engkau telah memilih kami. Penuhi kami dengan Roh-Mu, agar kesaksian hidup kami memancarkan kasih karunia Kristus, bukan kehebatan kami. Amin.