Pernahkah kamu merasa, kalau konsep "saling menolong" itu harusnya cuma urusan orang kaya? Banyak anak muda zaman sekarang yang berpikir, "Ah, nunggu gajiku dua digit dulu baru aku ikut ber-diakonia." Tapi, tahukah kamu ada rahasia di balik kata "menolong" dalam Alkitab?
Mari kita bedah Ulangan 15. Di sana Tuhan memberikan janji yang luar biasa megah: "Sebab TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau, seperti yang dijanjikannya kepadamu..."
Secara psikologis, manusia suka menimbun untuk rasa aman. Namun, ekonomi Kerajaan Allah bekerja dengan prinsip paradoks. Kedermawanan bukanlah hasil dari kekayaan, melainkan hasil dari rasa aman di dalam anugerah Kristus.
Dalam 3 Yohanes, Rasul Yohanes memuji Gayus karena ia menolong saudara-saudara seiman, bahkan yang "asing" baginya. Kata aslinya di sini berkaitan dengan hospitality atau keramahtamahan. Ini bukan sekadar mentransfer uang, tapi memberikan ruang di hatimu, sama seperti Kristus yang telah memberikan ruang bagi kita di surga ketika kita masih menjadi "orang asing" dan berdosa.
Jadi, menolong itu bukan soal seberapa penuh dompetmu, tapi seberapa penuh hatimu oleh kasih karunia-Nya. Ketika kamu membelikan segelas kopi untuk temanmu yang sedang burnout, atau sekadar mendengar keluh kesah teman disekolah atau di tempat kerja, kamu sedang memberitakan perbuatan besar Tuhan!
Mari kita berdoa: Bapa yang penuh kasih, terima kasih atas anugerah-Mu yang tak terbatas. Mampukan kami mengalirkan kasih-Mu kepada sesama, bukan karena kami mampu, tapi karena Engkau yang memampukan. Amin.