Logo HKBP

HKBP

Kembali ke Berita
101 Pelayan HKBP Ditahbiskan, Ephorus Tekankan Integritas dan Kerendahan Hati
Berita

101 Pelayan HKBP Ditahbiskan, Ephorus Tekankan Integritas dan Kerendahan Hati

9 Agustus 2026

Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, M.ST., menahbiskan 101 pelayan yang terdiri dari Guru Jemaat, Bibelvrouw, dan Diakones di HKBP Pansurnapitu, Minggu (9/8/2026). Ephorus menegaskan bahwa tahbisan adalah pengutusan ke tengah dunia. Sehari sebelumnya di Tarutung, para pelayan ini telah dibekali pimpinan gereja mengenai pentingnya integritas, kerendahan hati, dan solidaritas.

PANSURNAPITU (9/8) - Penahbisan pelayan gereja sejatinya bukanlah sekadar sebuah peristiwa seremonial, melainkan wujud nyata pengutusan untuk mengambil bagian dalam karya Allah di tengah gereja dan dunia. Pesan mendalam ini disampaikan oleh Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, M.ST., saat memimpin ibadah penahbisan 101 pelayan HKBP di HKBP Pansurnapitu, Distrik II Silindung, Minggu (9/8/2026).

Dalam ibadah yang berlangsung penuh sukacita dan ucapan syukur tersebut, ke-101 pelayan yang resmi ditahbiskan terdiri dari 33 orang Guru Jemaat (Guru Huria), 28 orang Bibelvrouw, dan 40 orang Diakones. Melalui pesannya, Ephorus mengajak seluruh warga jemaat untuk turut mendoakan para pelayan agar senantiasa setia menghidupi dan melaksanakan poda tohonan (nasihat jabatan) yang telah mereka terima.

Dalam khotbahnya, Ephorus mengajak jemaat dan para pelayan baru untuk tetap menaruh percaya kepada Tuhan di tengah setiap “gelombang” kehidupan. Secara khusus, ia mengingatkan para pelayan agar tidak menjadi pihak yang justru memperberat pergumulan jemaat. “Jangan menjadi orang yang menambah pergumulan dalam kehidupan orang lain. Begitu juga dengan para pelayan, ketika jemaat datang untuk menyampaikan pergumulannya atau Anda sedang melakukan kunjungan, janganlah menambah gelombang itu lagi. Ke mana pun diutus, arahkanlah hatimu pada Tuhan agar Dia yang berkarya melalui hidup kita,” pesan Pdt. Victor Tinambunan.

Pesan penggembalaan yang teduh juga ditujukan kepada para orang tua pelayan terkait lokasi penugasan anak-anak mereka. Ephorus menegaskan agar penempatan pelayanan tidak diterjemahkan dengan istilah “dibuang”. Menurutnya, kosakata tersebut tidak pernah dan tidak akan dipahami dalam tradisi HKBP. “Tujuan pelayanan adalah berharga di mata Allah. Di mana pun para pelayan melayani, di situlah Tuhan Allah hadir. Dan bahkan, Dia sudah lebih dulu hadir di sana,” tegas Ephorus memberikan penghiburan dan peneguhan.

Semangat untuk menghadirkan pelayanan yang utuh dan merangkul juga disuarakan dengan lantang oleh Kepala Departemen Diakonia HKBP, Pdt. Eldarton Simbolon, D.Min. Dalam kata sambutannya, ia mengingatkan bahwa menjadi pelayan adalah anugerah karena Tuhan sendiri yang telah melayakkan. Pdt. Eldarton memotivasi para pelayan baru untuk bekerja dengan penuh semangat menghidupi amanah jabatannya. Lebih lanjut, ia menekankan hal krusial terkait dinamika relasi antarpelayan di lapangan. Pdt. Eldarton mengajak seluruh pelayan untuk bersatu, bermitra, dan bersinergi. Ia secara tegas mengingatkan agar para pelayan tidak dikuasai oleh ego yang merasa diri atau jabatannya lebih hebat dari yang lain. “Pelayanan yang dilakukan oleh satu tahbisan harus mendukung dan didukung oleh tahbisan lainnya demi kemajuan gereja HKBP. Mari saling mendahului dalam memberi hormat dan jangan dikuasai oleh ego tahbisan diri sendiri, karena semua tahbisan memiliki tanggung jawab bersama memuliakan tubuh Kristus,” urainya.

Sehari sebelumnya, Sabtu (8/8/2026), Pimpinan HKBP secara khusus memberikan bimbingan dan pengarahan di Gedung Raja Pontas Lumbantobing, Tarutung. Pembekalan ini bertujuan untuk menyegarkan kembali makna panggilan pelayanan yang harus dihidupi dengan ketulusan dan tanggung jawab penuh.

Pada momen pembekalan tersebut, Pimpinan HKBP menekankan bahwa integritas adalah dasar utama sekaligus jaminan mutu bagi seorang pelayan, baik dalam sikap hidup maupun saat memberitakan firman. Para pelayan diarahkan untuk memiliki karakter unggul, kedewasaan, serta kebijaksanaan dalam mengelola keuangan pribadi agar dapat menjadi teladan kehidupan yang tertib bagi jemaat. Selain itu, semangat solidaritas dan kepedulian untuk saling menopang menjadi syarat mutlak, sehingga pelayanan tidak dijalankan demi kepentingan diri sendiri.

Sebagai landasan pengabdian, Pimpinan HKBP menanamkan sebuah prinsip tegas bagi para pelayan: “Pangula na burju jala haposan di Huria ni Tuhanta, ndang Hurianta”. Prinsip ini menjadi pengingat bahwa setiap pelayan dipanggil untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan setia hanya bagi gereja milik Tuhan, bukan memandang gereja sebagai milik pribadi atau kelompok tertentu. Dengan bekal integritas dan kerendahan hati, pelayanan yang dipercayakan diharapkan dapat berakar kuat, bertumbuh, dan berbuah lebat bagi kemuliaan nama Tuhan.

Bagikan:WhatsApp FacebookX
101 Pelayan HKBP Ditahbiskan, Ephorus Tekankan Integritas dan Kerendahan Hati