Logo HKBP

HKBP

Kembali ke Berita
Bedah Teori 'Framing' dan Strategi Konten: KN-LWF Dorong 11 Sinode Lutheran Melek Jurnalistik
Berita

Bedah Teori 'Framing' dan Strategi Konten: KN-LWF Dorong 11 Sinode Lutheran Melek Jurnalistik

24 Juni 2026

Komite Nasional LWF menyelenggarakan Forum Pembelajaran Media dan Komunikasi bagi 11 Sinode Lutheran di Medan pada 22-24 Juni 2026. Melibatkan utusan HKBP, forum ini membekali gereja dengan dasar teologi kesaksian publik, etika bermedia, hingga kepemimpinan digital untuk menjadikan media sosial sebagai mimbar pelayanan yang tangkas menghadapi hoaks.

MEDAN (24/6) - Komite Nasional Lutheran World Federation (KN-LWF) Indonesia mengambil langkah strategis untuk memperkuat literasi media gereja-gereja Lutheran. Hal ini diwujudkan melalui Forum Pembelajaran Media dan Komunikasi yang berlangsung selama tiga hari, mulai Senin hingga Rabu, 22-24 Juni 2026, di Medan. Forum ini merupakan bagian dari Church Society Program: Empowering The Lutheran Church’s Witness of Faith. Sebanyak 11 Sinode turut berpartisipasi, di mana Biro Informasi HKBP mengutus dua perwakilannya secara aktif, yakni Pdt. Dr. Sikkat Sitompul, S.Th., M.M., dan Pdt. Mika J.T. Simanjuntak, S.Th., M.Sos.

Pada hari pertama, peserta diajak menyelami fondasi pelayanan digital melalui materi “Dasar-Dasar Teologi Lutheran: Literasi Media dan Kesaksian Publik di Era Digital” oleh Pdt. Tofler Sijabat, M.A. Menghadapi generasi yang menyerap ratusan potong informasi setiap hari, komunikasi mimbar satu arah dinilai tidak lagi cukup. Mengadopsi semangat Martin Luther yang memanfaatkan mesin cetak pada abad ke-16, setiap akun media sosial orang percaya kini dipandang sebagai ruang keimaman. Guna menghadapi empat tantangan digital (hoaks, polarisasi, algoritma bias, dan ujaran kebencian), gereja dibekali empat prinsip etika, yakni: Kebenaran, Kasih, Tanggung Jawab, dan Kesaksian.

Memasuki hari kedua, forum menghadirkan Baringin Lumban Gaol, Kepala Biro detikSumut dan detikSumbagsel sekaligus Jurnalis Utama LPDS. Ia membedah secara komprehensif perbedaan media arus utama yang terstruktur dan terverifikasi dengan media sosial yang beroperasi tanpa sistem penyaringan (gatekeeper) tradisional. Ketiadaan gatekeeper inilah yang membuat media sosial berisiko tinggi menyebarkan hoaks dan misinformasi. Oleh karena itu, muatan yang disalurkan melalui media sosial gereja harus dipastikan sesuai dengan regulasi dan aturan gereja masing-masing, dengan tujuan mulia mengarahkan umat pada persekutuan.

Untuk menajamkan insting jurnalistik gereja, Baringin memandu peserta melakukan analisis pembingkaian (framing) merujuk pada teori Robert M. Entman. Praktik ini diaplikasikan melalui studi kasus kunjungan Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, ke Kecamatan Pangaribuan. Dalam kasus tersebut, Ephorus menyoroti semangat warga petani yang berjuang menyekolahkan anak-anak mereka melintasi jembatan reot yang nyaris ambruk. Melalui kasus ini, perwakilan sinode dilatih menyeleksi dan menonjolkan aspek tertentu agar efektif memengaruhi persepsi audiens mengenai peranan sosial gereja.

Seluruh pelatihan teknis ini bermuara pada urgensi kepemimpinan digital (digital leadership). Pada hari ketiga, peserta memetakan langsung tantangan SDM di sinode masing-masing, termasuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik seperti keterampilan copywriting, manajemen krisis komunikasi, hingga pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk pelayanan gereja. Rangkaian forum ini ditutup dengan sebuah komitmen bersama: gereja tidak perlu merespons isu negatif secara konfrontatif, melainkan harus tangkas membanjiri ruang publik dengan konten positif untuk memperkuat identitas pelayanan di era digital.

Bagikan:WhatsApp FacebookX