
Bertumbuh dari 7 ke 930 KK, Ephorus Gaungkan Spirit 3S di Jubileum 75 Tahun HKBP Kebayoran Baru
24 Mei 2026
Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST., memimpin perayaan Jubileum 75 Tahun dan Pesta Gotilon HKBP Kebayoran Baru di Maria Convention Hall, Minggu (24/5/2026). Mensyukuri pertumbuhan jemaat dari 7 menjadi 930 KK bertepatan dengan momen Pentakosta, Ephorus mengajak jemaat mengimplementasikan spirit 3S (Sukacita, Syukur, Solidaritas) agar menjadi terang dan garam dunia.
JAKARTA (24/5) - Perjalanan panjang pelayanan HKBP Kebayoran Baru mencapai tonggak sejarah baru. Pada Minggu, 24 Mei 2026, jemaat merayakan Jubileum 75 Tahun sekaligus Pesta Gotilon yang dirangkai dengan peringatan hari turunnya Roh Kudus (Pentakosta). Bertempat di Maria Convention Hall, acara ini mengusung tema “Berakar, Bertumbuh, dan Berbuah” yang didasarkan pada Kolose 2:7, serta sub-tema “75 Tahun HKBP Kebayoran Baru Bertransformasi Menjadi Terang dan Garam Dunia.” Ibadah puncak ini dilayani langsung oleh Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, M.ST. sebagai pengkhotbah, didampingi oleh Praeses HKBP Distrik VIII Jakarta, Pdt. Oloan Nainggolan sebagai Liturgis, dan Pendeta HKBP Resort Kebayoran Baru, Pdt. Ronald Manalu, M.Th yang membawakan warta jemaat.
Dalam khotbahnya, Ephorus HKBP menyoroti makna Jubileum yang erat kaitannya dengan Tahun Yobel bagi bangsa Israel, sebuah tahun pembebasan di mana seluruh umat dan ciptaan bersukacita karena merasakan keselamatan. Untuk menghidupi makna tersebut di masa kini, Ephorus mengajak jemaat untuk mengimplementasikan “3S”:
Pertama, Sukacita. Ephorus menekankan bahwa sukacita adalah salah satu buah Roh yang menentukan kualitas hubungan dengan orang lain. Umat diajak untuk senantiasa bersukacita karena kasih Tuhan tidak pernah berhenti, terlepas dari berbagai pergumulan keluarga, pekerjaan, maupun ekonomi yang kerap merampas kebahagiaan. Kedua, Syukur. Jemaat diingatkan untuk hanya berfokus bersyukur kepada Tuhan. Ephorus mengingatkan bahwa banyak orang tidak bahagia bukan karena tidak berkecukupan, melainkan karena sering membandingkan diri dengan orang lain. Ketiga, Solidaritas. Kepedulian terhadap sesama, orang miskin, dan lingkungan harus terus digerakkan bersama dalam kasih. Ephorus mengapresiasi wujud nyata solidaritas ini, salah satunya saat jemaat di Jakarta merespons bencana ekologis di Pulau Sumatera pada tahun 2025 lalu dengan mengumpulkan donasi sekitar Rp 1 Miliar.
Acara perayaan yang diketuai oleh St. Hardi Lumban Tobing ini juga dihadiri sejumlah pendeta yang pernah melayani di HKBP Kebayoran Baru, di antaranya Pdt. D.F. Sibuea, Pdt. R.L. Tobing, Pdt. Timbul Sitanggang, Pdt. R. Tanjung, Pdt. Liston Butar Butar, Pdt. Bintang Siregar, dan Pdt. S. Siregar. Suasana ibadah semakin khidmat dengan persembahan pujian dari Koor Angklung Lansia dan Koor Jubileum Huria.
Kilas Balik Sejarah 75 Tahun
Selepas pembacaan warta jemaat, Seksi Sejarah membacakan sejarah ringkas perjalanan gereja. HKBP Kebayoran Baru bermula pada tahun 1951 dari semangat 7 keluarga perintis (Keluarga Marturia Siregar, Conrad Siagian, Albert Pospos, Eliab Lumban Tobing, Simanungkalit, Batubara, dan Sitompul). Berawal dari ibadah yang berpindah-pindah dari rumah ke rumah, berlanjut ke Gudang Departemen Dalam Negeri, hingga menggunakan gedung SD di Jl. Citayam pada awal April 1951. Gereja ini kemudian resmi diakui sebagai jemaat penuh pada 18 Mei 1951 dengan pimpinan jemaat St. Martuani Siregar. Setelah mendapat izin dari Badan Pertanahan Nasional pada 1956, gedung gereja mulai dibangun pada 1957. Pertumbuhan jemaat terus berlanjut hingga dipimpin oleh pendeta resort pertamanya, Pdt. J.R. Tambunan pada akhir 1961. Kini, setelah 75 tahun berlalu, jemaat yang berawal dari 7 Kepala Keluarga (KK) telah bertumbuh pesat menjadi 930 KK.
Sebagai bagian dari rangkaian perayaan Jubileum 75 tahun ini, sehari sebelumnya, pada Sabtu, 23 Mei 2026, Ephorus HKBP juga telah meresmikan dua unit rumah dinas untuk menunjang pelayanan di HKBP Kebayoran Baru. “Semoga HKBP Kebayoran Baru semakin dewasa dalam iman, teguh dalam pengharapan, dan melimpah dalam kasih; menjadi gereja yang tidak hanya bertumbuh secara lahiriah, tetapi juga semakin tangguh mengemban panggilannya di tengah dunia,” pesan Ephorus.