Logo HKBP

HKBP

Kembali ke Berita
Buka Pelatihan Keadilan Iklim LWF se-Asia, HKBP Tegaskan Komitmen Global pada Keadilan Iklim
Berita

Buka Pelatihan Keadilan Iklim LWF se-Asia, HKBP Tegaskan Komitmen Global pada Keadilan Iklim

17 April 2026

HKBP menegaskan komitmen ekologisnya dengan mengambil peran aktif dalam "Training for Climate Justice Advocates" gagasan Lutheran World Federation (LWF) se-Asia di Jakarta, 13-17 April 2026. Dibuka oleh Kadep Koinonia HKBP, Pdt. Deonal Sinaga, pelatihan ini memperkuat kapasitas advokasi gereja untuk memperjuangkan keutuhan ciptaan dan keadilan iklim global melalui aksi lokal.

JAKARTA (17/4) – Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) kembali menegaskan komitmen dan keterlibatannya di kancah internasional terkait isu kelestarian lingkungan hidup. Hal ini diwujudkan melalui partisipasi aktif dan peran pimpinan HKBP dalam acara pembukaan “Training for Climate Justice Advocates” yang diselenggarakan oleh Persekutuan Gereja-gereja Lutheran Sedunia (Lutheran World Federation/LWF) di Jakarta pada 13 hingga 17 April 2026.

Ibadah pembukaan kegiatan berskala regional Asia ini dipimpin langsung oleh Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt. Deonal Sinaga. Dalam khotbahnya yang berakar pada nats Roma 8:22, Pdt. Deonal menyuarakan panggilan profetis gereja di tengah krisis ekologi. Ia menekankan betapa mendesaknya gereja merespons jeritan ciptaan yang saat ini sama-sama mengeluh dan mengerang kesakitan akibat kerusakan lingkungan. Kehadiran pimpinan HKBP ini mempertegas posisi teologis gereja bahwa bumi adalah rumah bersama, dan hak setiap makhluk untuk hidup layak di dalamnya wajib dilindungi oleh orang percaya.

Pelatihan advokasi ini difasilitasi oleh Elena Cedillo, Eksekutif Program LWF untuk Keadilan Iklim dari Peru, dan bekerja sama erat dengan Sekretariat Regional Asia LWF yang dipimpin oleh Pdt. Dr. Rospita Siahaan. Kegiatan ini berhasil mengumpulkan para pegiat lingkungan dan perwakilan gereja-gereja LWF dari berbagai negara, di antaranya Nepal, India, Papua Nugini, Myanmar, Kamboja, serta perwakilan denominasi gereja di Indonesia. Tujuan utama pertemuan ini adalah untuk memperkuat kapasitas gereja dalam advokasi iklim, mempererat jejaring kolaborasi lintas negara, serta membekali para utusan dengan keterampilan komunikasi pelestarian alam.

Meninggalkan pendekatan teori semata, lokakarya yang berlangsung selama lima hari ini difokuskan pada prinsip "mengatasi masalah global dengan tindakan lokal." Para peserta saling membagikan praktik terbaik (best practices) dari konteks tantangan di negara masing-masing. Salah satu pemaparan yang relevan dengan konteks pelayanan gereja pedesaan disampaikan oleh Pdt. Dr. LB Siama, Moderator Gereja Protestan Mara (MEC) di Myanmar. Ia memaparkan kondisi jemaatnya yang terdampak banjir dan longsor akibat praktik pertanian tebang-bakar dan krisis bahan bakar gas. Sebagai solusi teologis yang membumi, gereja MEC memimpin langsung gerakan menanam kopi dan tanaman berbuah berumur panjang guna merestorasi lahan kritis di wilayah mereka.

Sesi berbagi pengalaman ini juga diperkaya oleh pandangan lintas kultural dari Mr. Gopal Dahal (Nepal) dan Angelious Michael (India) selaku fasilitator. Rangkaian pelatihan ini menjadi langkah persiapan yang matang menuju Asia Pacific Climate Justice Forum.

Melalui inisiatif LWF ini, HKBP dan gereja-gereja se-Asia didorong untuk menerjemahkan nilai spiritual ke dalam langkah nyata kehidupan sehari-hari jemaat. Kesadaran ekologis ini diwujudkan melalui tindakan meminimalkan penggunaan energi fosil, menghemat air dan listrik, menekan penggunaan plastik, serta berpartisipasi aktif menekan emisi gas rumah kaca. Di samping itu, gereja juga didorong untuk terus mengingatkan dan mendesak pemerintah agar semakin serius melahirkan kebijakan yang berpihak pada keadilan iklim.

Bagikan:WhatsApp FacebookX