Logo HKBP

HKBP

Kembali ke Berita
Bumi Makin Mendidih Karena 'Affluenza', Ephorus HKBP Serukan Pemulihan Ekologi Menuju Indonesia Emas 2050 di Konferensi GMI
Berita

Bumi Makin Mendidih Karena 'Affluenza', Ephorus HKBP Serukan Pemulihan Ekologi Menuju Indonesia Emas 2050 di Konferensi GMI

26 Juni 2026

Ephorus HKBP sekaligus Ketua Umum PGI Wilayah Sumut, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, menyoroti krisis ekologi pada Konferensi Tahunan GMI Wilayah I di Medan, Jumat (26/6). Mengingatkan bahaya global boiling akibat kerakusan (affluenza), Ephorus mendorong gereja menjadi solusi kelestarian alam, sejalan dengan visi keberlanjutan menuju Indonesia Emas 2050.

MEDAN (26/6) - Dunia kini tidak lagi sekadar menghadapi ancaman pemanasan global (global warming), melainkan telah memasuki fase bumi yang semakin mendidih (global boiling). Peringatan tajam ini menjadi sorotan utama yang disampaikan oleh Ephorus HKBP sekaligus Ketua Umum PGI Wilayah Sumatera Utara, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST., saat memberikan kata sambutan dalam Konferensi Tahunan Gereja Methodis Indonesia (GMI) Wilayah I di Medan, Jumat (26/6). Kehadirannya menyapa para Bishop, Distrik Superintenden, dan seluruh peserta konferensi membawa pesan krusial tentang tanggung jawab gereja dalam merawat bumi demi mewujudkan kelestarian lingkungan menuju visi besar Indonesia Emas 2050.

Mengapresiasi tema konferensi “Memberkati Semua Ciptaan”, Ephorus meyakini bahwa tema tersebut adalah buah tuntunan Roh Kudus di tengah memuncaknya krisis ekologi yang kini menduduki urutan paling serius dari 10 ancaman global dewasa ini. Menurutnya, penyebab utama di balik fenomena global boiling adalah penyakit affluenza, yakni penyakit kerakusan yang menjangkiti umat manusia. Dampak dari kerakusan tersebut tidak lagi menjadi sebatas perdebatan ilmiah, melainkan telah dirasakan langsung secara nyata melalui bencana banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan, hingga cuaca ekstrem yang datang silih berganti.

Sebagai bangsa, Indonesia masih memiliki rekam jejak yang memprihatinkan di mata dunia, mulai dari tingginya laju kerusakan hutan, hingga posisi sebagai penyumbang sampah plastik dan emisi karbon terbesar. Namun, Ephorus menegaskan bahwa keadaan ini tidak seharusnya membawa keputusasaan, melainkan harus menggugah hati umat untuk berubah dan mengambil bagian dalam pemulihan ciptaan Tuhan. Visi pelestarian ini secara konsisten terus disuarakan oleh pimpinan HKBP tersebut. Sebelumnya, melalui ajang Jambore Nasional Anak Sekolah Minggu HKBP, Ephorus juga telah menanamkan fondasi karakter bangsa sejak dini dengan mengajak ratusan anak untuk bertekad mencintai alam ciptaan Tuhan sebagai langkah konkrit menyiapkan generasi yang berwawasan lingkungan.

Lebih lanjut, Ephorus mengingat kembali sebuah kutipan inspiratif dari disertasi yang ditulisnya pada tahun 2010 mengenai pernyataan Gereja Methodist Singapura. Kutipan tersebut menegaskan bahwa seluruh ciptaan adalah milik Tuhan, dan manusia dipanggil menjadi penatalayan yang bertanggung jawab atas air, udara, tanah, mineral, energi, tumbuh-tumbuhan, kehidupan hewan, bahkan ruang angkasa. Pesan ini menjadi alarm bahwa krisis ekologi bukan semata-mata persoalan ilmu pengetahuan, teknologi, atau kebijakan publik, melainkan berakar pada persoalan iman, moralitas, dan spiritualitas.

Menghadapi realitas tersebut, gereja dipanggil untuk tidak sekadar menjadi penonton. Gereja harus tampil sebagai suara kenabian yang menyadarkan, tangan yang bekerja memulihkan, dan teladan yang menghadirkan gaya hidup menghormati Sang Pencipta. Menutup sambutannya, Ephorus berharap konferensi GMI ini melahirkan keputusan nyata yang diaplikasikan dalam pelayanan sehari-hari. “Biarlah gereja-gereja kita hadir sebagai bagian dari solusi bagi krisis ekologis, bukan menjadi bagian yang memperparah, apalagi menjadi penyebabnya. Sebab ketika gereja memberkati seluruh ciptaan, sesungguhnya gereja sedang memuliakan Sang Pencipta,” tegasnya.

Bagikan:WhatsApp FacebookX