
Ephorus HKBP: Menjaga Danau Toba adalah Panggilan Iman
19 September 2026
Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan menegaskan perlunya tindakan nyata menjaga Danau Toba setelah membahas hasil penelitian kualitas air di Medan, Senin (21/9/2026). Penelitian UHN Pematangsiantar bersama HKBP, UEM Asia, KN LWF Indonesia, dan KSPPM menunjukkan kondisi kualitas air yang berada di atas ambang batas kesehatan yang ditetapkan.
MEDAN (19/9) - Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan menegaskan bahwa menjaga Danau Toba bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi merupakan bagian dari panggilan iman. Penegasan itu disampaikannya setelah mendiskusikan hasil penelitian kualitas air Danau Toba di Medan, Sabtu (19/9/2026). Penelitian tersebut dilakukan UHN Pematangsiantar bekerja sama dengan HKBP, UEM Asia, KN LWF Indonesia, dan KSPPM.
Hasil penelitian memberikan alasan untuk meningkatkan kepedulian sekaligus kewaspadaan terhadap kondisi Danau Toba. Berdasarkan hasil yang dibahas, kualitas air Danau Toba, baik pada permukaan maupun kedalaman 50 meter, menunjukkan kondisi yang berada di atas ambang batas kesehatan yang ditetapkan. Temuan tersebut menjadi perhatian karena berkaitan dengan keberlangsungan Danau Toba sebagai ruang kehidupan bagi manusia dan ciptaan lainnya.
Ephorus mengajak agar data penelitian tidak berhenti menjadi informasi, tetapi menjadi dasar untuk bertindak secara bertanggung jawab. Menurutnya, iman, doa, dan data memiliki tempat yang saling berkaitan dalam menyikapi kondisi Danau Toba. “Iman mengajarkan kita untuk bersyukur. Doa menguatkan kita untuk berharap. Tetapi data mengingatkan kita untuk bertindak,” ujarnya.
Dalam pandangan Ephorus, Danau Toba perlu dipahami lebih luas daripada sekadar sumber ekonomi. Danau Toba merupakan anugerah Tuhan, ruang kehidupan bagi ciptaan, sekaligus warisan yang perlu dijaga untuk generasi berikutnya. Karena itu, pemanfaatan Danau Toba perlu berjalan bersama dengan tanggung jawab untuk mempertahankan keberlangsungan dan kualitas lingkungannya.
“Menjaga Danau Toba bukan sekadar gerakan ekologis. Ini adalah panggilan iman,” tegas Ephorus. Panggilan tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan melalui rasa syukur, cara berpikir yang jernih, keberanian menyampaikan kondisi yang sebenarnya, dan tindakan yang bertanggung jawab.
Penelitian kualitas air menjadi bagian penting dalam melihat kondisi Danau Toba berdasarkan data. Kerja sama UHN Pematangsiantar, HKBP, UEM Asia, KN LWF Indonesia, dan KSPPM mempertemukan perhatian terhadap Danau Toba melalui penelitian dan kepedulian terhadap lingkungan. Hasil penelitian tersebut diharapkan menjadi dasar untuk meningkatkan kesadaran terhadap kondisi Danau Toba dan kebutuhan untuk menjaganya.
Ephorus menekankan bahwa kehidupan beriman tidak terpisah dari tanggung jawab terhadap lingkungan. Rasa syukur atas keberadaan Danau Toba perlu disertai kesediaan untuk melihat kondisi yang ada dan mengambil langkah yang diperlukan. Karena itu, kepedulian terhadap ciptaan tidak cukup disampaikan melalui doa, tetapi juga melalui tindakan berdasarkan pengetahuan dan data yang tersedia.
Melalui pembahasan hasil penelitian ini, Ephorus HKBP mengajak semua pihak untuk memandang Danau Toba sebagai tanggung jawab bersama yang perlu dijaga secara berkelanjutan. Iman memberikan dasar untuk bersyukur, doa menguatkan pengharapan, sementara data membantu menentukan tindakan yang perlu dilakukan. Ketiganya perlu menjadi bagian dari tanggung jawab untuk menjaga Danau Toba bagi kehidupan sekarang dan generasi yang akan datang.