Logo HKBP

HKBP

Kembali ke Berita
Ephorus HKBP Tegaskan Ulos Harus Dirawat, FKP HKBP dan Kemenperin Perkuat Kemandirian Perajin
Berita

Ephorus HKBP Tegaskan Ulos Harus Dirawat, FKP HKBP dan Kemenperin Perkuat Kemandirian Perajin

13 Oktober 2026

Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST menegaskan pentingnya merawat ulos sebagai warisan budaya saat membuka Pameran Tenun Ulos FKP HKBP bersama Kemenperin di Jakarta, Selasa (13/10/2026). Dipimpin Dra. Sandra Sidabutar, pameran menghadirkan 50 IKM dan UMKM untuk memperkuat pemberdayaan perempuan, inovasi produk, dan perluasan pasar ulos.

JAKARTA (13/10) - Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST menegaskan bahwa penghargaan terhadap ulos sebagai warisan budaya Batak dapat berjalan seiring dengan kehidupan iman Kristen. Pesan itu disampaikannya saat membuka Pameran Tenun Ulos bertema “Menenun Harapan, Merajut Kemandirian” yang digelar Kementerian Perindustrian RI bersama Forum Konferensi Perempuan (FKP) HKBP di Plasa Industri, Jakarta, Selasa (13/10/2026). Pameran yang berlangsung hingga 15 Oktober itu menghadirkan 50 IKM dan UMKM binaan FKP HKBP dengan produk berupa ulos, busana, tas kulit, aksesori, hingga kuliner khas Batak.

Ulos mengandung nilai penghormatan, kasih, doa, pengharapan, dan persaudaraan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, merawat ulos juga berarti menjaga sejarah, identitas, dan kearifan masyarakat Batak. Sebagai gereja yang bertumbuh di tengah kebudayaan Batak, HKBP berkomitmen menilai warisan budaya secara bijaksana dalam terang Injil dan mempertahankan unsur-unsur yang baik.

Pdt. Dr. Victor Tinambunan secara khusus mengingatkan agar pemahaman iman tidak dijadikan alasan untuk merusak warisan budaya. “Janganlah ada orang Kristen yang membakar atau menghancurkan ulos atas nama Alkitab atau Tuhan,” ujarnya. Ia mengajak warga gereja membedakan secara tepat antara iman kepada Kristus dan penghargaan terhadap kebudayaan, sehingga kehidupan Kristen tetap berakar pada iman sekaligus menghormati sejarah dan martabat budaya.

Pesan tersebut sejalan dengan upaya pemberdayaan yang digerakkan FKP HKBP di bawah kepemimpinan Ketua Umum Dra. Sandra Sidabutar. Melalui pameran ini, karya para penenun dan pelaku usaha diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas, sekaligus menghubungkan pelestarian budaya dengan pengembangan ekonomi. Kehadiran 50 IKM dan UMKM menunjukkan bahwa ulos dan produk turunannya dapat terus dikembangkan sebagai produk kreatif yang menopang penghidupan perempuan dan keluarga.

Ephorus juga menekankan pentingnya perhatian terhadap perempuan penenun sebagai bagian dari tema “Menenun Harapan, Merajut Kemandirian.” Di balik setiap produk terdapat keterampilan, ketekunan, kreativitas, dan pekerjaan yang menopang kehidupan keluarga. Karena itu, pemberdayaan perempuan tidak hanya memberi ruang untuk bekerja, tetapi juga mengakui kemampuan dan peran mereka dalam keluarga, gereja, masyarakat, dan bangsa.

Upaya FKP HKBP tersebut mendapat dukungan Kementerian Perindustrian dalam pengembangan industri tenun nasional. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa pelestarian ulos perlu memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat yang mempertahankannya, terutama perempuan. Ulos kini juga berkembang menjadi busana siap pakai, aksesori fesyen, dekorasi interior, dan cenderamata sehingga memiliki peluang pasar yang lebih luas.

Potensi tersebut terlihat dari nilai ekspor tenun ikat Indonesia pada Semester I 2026 yang mencapai USD34 ribu, meningkat 150 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD13,6 ribu. Sepanjang 2025, nilai ekspor tercatat USD88 ribu, sementara data BPS tahun 2020 mencatat 43 sentra tenun ulos di Sumatera Utara, antara lain di Tapanuli Utara, Toba, Samosir, dan Simalungun. Data tersebut menunjukkan peluang pengembangan tenun tradisional sekaligus pentingnya penguatan kapasitas para perajin.

Kemenperin juga mencatat sejumlah tantangan, antara lain regenerasi penenun, keberlanjutan keterampilan, inovasi desain, dan peningkatan kualitas produk. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin Reni Yanita menyebut penguatan ekosistem industri ulos dilakukan melalui pengembangan sumber daya manusia, kewirausahaan, pelatihan, webinar, talkshow, dan penumbuhan wirausaha baru IKM. Selain itu, Tenun Ulos Ragidup Silindung dari Tapanuli Utara telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis sebagai bagian dari perlindungan kekhasan produk.

Pameran juga menjadi ruang edukasi mengenai perawatan ulos. Pengunjung mendapat pengetahuan mengenai produk yang dapat digunakan untuk merawat kain serta cara penyimpanan yang tepat agar kualitas ulos tetap terjaga. Edukasi tersebut melengkapi agenda pameran yang tidak hanya memperkenalkan produk, tetapi juga meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemeliharaan dan pengembangan ulos.

Pembukaan pameran juga dihadiri Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, Kepala Departemen Koinonia HKBP Pdt. Dr. Deonal Sinaga, jajaran Kementerian Perindustrian, pelaku IKM, dan undangan. HKBP menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Perindustrian atas dukungan terhadap pelestarian ulos dan penguatan ekonomi perajin. Kolaborasi tersebut mempertemukan pelayanan pemberdayaan perempuan FKP HKBP dengan agenda pengembangan industri kecil dan menengah di tingkat nasional.

Melalui pameran ini, HKBP, FKP HKBP, dan Kementerian Perindustrian mempertemukan tiga kepentingan yang saling berkaitan, yakni pelestarian budaya, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi perajin. Ulos tetap dijaga sebagai bagian dari identitas budaya, sekaligus terus dikembangkan melalui kreativitas dan perluasan pasar. Upaya tersebut diharapkan memberi manfaat nyata bagi para penenun dan pelaku usaha yang menjaga serta mengembangkan warisan ulos.

Bagikan:WhatsApp FacebookX