Logo HKBP

HKBP

Kembali ke Berita
Gempuran Era Digital dan Isu Sosial Mengancam, FKP HKBP Rapatkan Barisan Perkuat Pendidikan Karakter Keluarga
Berita

Gempuran Era Digital dan Isu Sosial Mengancam, FKP HKBP Rapatkan Barisan Perkuat Pendidikan Karakter Keluarga

3 Juli 2026

Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt. Dr. Deonal Sinaga, memuji peran transformatif perempuan HKBP yang diakui dunia dalam Seminar Daring FKP HKBP, Jumat (3/7). Dihadiri perwakilan 34 distrik, seminar ini menyoroti krusialnya peran ibu menanamkan iman bagi Generasi Z dan Alfa, serta strategi menghadapi tantangan era digital.

JAKARTA (3/7) - Peran perempuan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) kembali mendapat sorotan dan apresiasi tinggi di kancah internasional. Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt. Dr. Deonal Sinaga, mengungkapkan bahwa Sekretaris Jenderal Lutheran World Federation (LWF), Pdt. Dr. Anne Burghart, secara langsung memberikan pengakuan atas kehebatan dan peran transformatif perempuan HKBP. Hal ini ditegaskan oleh Pdt. Deonal saat memberikan sambutan dalam Acara Ibadah dan Seminar Pendidikan Forum Konferensi Perempuan (FKP) HKBP yang diselenggarakan secara daring pada Jumat (3/7) pukul 17.00 WIB.

Dalam sambutannya, Pdt. Deonal memaparkan bahwa perempuan HKBP sangat aktif dan krusial di seluruh level pelayanan, mulai dari pos pelayanan, huria, resort, distrik, hingga pusat. Lebih lanjut, ia mengapresiasi keberhasilan implementasi keputusan konferensi kesepuluh terkait pembentukan bidang pendampingan korban kekerasan perempuan dan anak, yang kini telah berjalan efektif dan berdampak nyata melalui kerja sama dengan pemerintah kabupaten, khususnya di wilayah Tapanuli Raya.

Seminar yang mengusung tema besar “Transformasi Pengajaran Iman di Tengah Keluarga” ini mendapat antusiasme yang luar biasa. Ketua FKP HKBP, Dra. Sandra Sidabutar, menyampaikan rasa terima kasih atas partisipasi peserta dari 34 distrik, yang bahkan turut dihadiri oleh perwakilan dari Singapura dan Malaysia. Kegiatan ini difokuskan untuk menggali peranan kaum ibu dalam pendidikan karakter anak untuk mewariskan iman yang hidup bagi generasi muda, merujuk pada nas Alkitab Ulangan 6:4-9.

Sebagai narasumber, Pdt. Dr. Nursini Sihombing, M.Si., menegaskan bahwa keluarga adalah altar dan institusi pertama bagi anak. Mengutip tokoh Billy Graham, ia menyampaikan bahwa warisan terbesar bagi anak bukanlah materi, melainkan warisan iman. Untuk itu, Pdt. Nursini menyoroti perlunya transformasi karakter perempuan Batak yang dimulai dari kesadaran diri untuk belajar dari kelemahlembutan Yesus Kristus. Ia mengingatkan para ibu untuk menghindari pola komunikasi yang merusak, seperti memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, dan melabeli anak, serta menekankan pentingnya konsistensi membangun kebiasaan saat teduh bersama di rumah.

Tantangan mendidik anak di era disrupsi teknologi turut dikupas tuntas oleh narasumber kedua, Prof. Dr. Endang Yuniastuti Br. Tambunan, M.Si. Ia membedah perbedaan pendekatan untuk Generasi Z yang mahir teknologi namun rentan Fear of Missing Out (FOMO), serta Generasi Alfa yang sudah terpapar kecerdasan buatan sejak lahir. Prof. Endang menyoroti posisi strategis seorang ibu yang menyumbangkan dua pertiga kontribusi genetik kepada anak, termasuk gen kecerdasan. Bagi keluarga dengan orang tua bekerja yang mengandalkan fasilitas daycare, ia menyarankan agar orang tua disiplin “membayar utang waktu” di malam hari melalui pelukan dan perhatian penuh, mengingat kuantitas waktu masih sangat krusial bagi anak balita.

Di penghujung seminar, forum ini juga membahas isu-isu sosial yang sedang marak di kalangan generasi muda, seperti penyimpangan seksual dan fenomena transgender yang kerap menjadi perbincangan panas di media sosial. Prof. Endang mengingatkan para orang tua untuk peka membaca tanda-tanda pergaulan anak. Sebagai tindak lanjut, FKP HKBP mempertimbangkan pembentukan program pembekalan dan rehabilitasi khusus di tingkat gereja yang akan melibatkan psikolog serta rohaniwan secara rahasia. Langkah ini diambil untuk merespons dilema dengan bijaksana, yakni memandang individu dengan empati tanpa membenarkan penyimpangannya, sekaligus membentengi generasi muda gereja dari ancaman zaman.

Bagikan:WhatsApp FacebookX