Logo HKBP

HKBP

Kembali ke Berita
Gereja Bukan Tembok Pemisah, Kepala Departemen Koinonia Serukan Keadilan bagi Kaum Tersisih
Berita

Gereja Bukan Tembok Pemisah, Kepala Departemen Koinonia Serukan Keadilan bagi Kaum Tersisih

16 Agustus 2026

Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt. Dr. Deonal Sinaga, menyampaikan pesan khotbah Minggu di HKBP Parbubu (16/8/2026). Ia menekankan bahwa gereja harus menegakkan keadilan dan membuka pintu bagi kaum pinggiran. Pesan ini mengingatkan umat bahwa keselamatan Allah merangkul semua orang tanpa memandang latar belakang sosial maupun etnis.

PARBUBU (16/8) - Ibadah Minggu XI Setelah Trinitatis di HKBP Parbubu membawa pesan sukacita yang mendalam bagi jemaat. Ibadah tersebut dipimpin oleh Pdt. Pandiri Lumbantobing, dengan penyampaian firman Tuhan oleh Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt. Dr. Deonal Sinaga. Berangkat dari nas Yesaya 56:1-8, Pdt. Deonal menyoroti topik penting mengenai ketaatan pada hukum dan penegakan keadilan. Ia menegaskan bahwa Tuhan selalu membuka pintu masuk ke rumah-Nya dan menyediakan ruang di hati-Nya bagi setiap orang yang datang kepada-Nya, termasuk mereka yang selama ini merasa tidak pantas, tidak layak, atau tidak diperhitungkan.

Pesan teologis ini mengambil latar belakang dari kehidupan umat Allah pascapembuangan Babel, ketika bangsa Yahudi kembali ke Yehuda dan menemukan kota Yerusalem dalam keadaan hancur. Pada masa itu, mereka tidak hanya dipanggil untuk membangun reruntuhan fisik, tetapi juga memulihkan kehidupan umat Allah secara utuh. Pdt. Deonal menjelaskan bahwa identitas sebagai umat Allah tidak lagi ditentukan semata-mata oleh etnis dan keturunan biologis Abraham, Ishak, maupun Yakub. Dalam kerajaan Allah, keselamatan sangat bergantung pada ketaatan terhadap ketetapan Tuhan dan bagaimana umat memperlakukan sesamanya, termasuk orang asing, dengan kasih serta keadilan.

Sebagai wujud nyata reformasi sosial dan spiritual, Tuhan memberikan perhatian khusus kepada orang-orang termarginal. Dalam nubuatan Yesaya, kelompok rentan seperti orang asing dan orang kebiri yang kerap menerima stigma serta diskriminasi di masyarakat justru dijanjikan tempat yang istimewa di rumah Tuhan. Hal ini menjadi peringatan keras agar komunitas umat Tuhan tidak membangun tembok pemisah. Rumah Tuhan harus menjadi rumah doa bagi segala bangsa, yang menyediakan ruang bagi keberagaman dan perbedaan.

Menyikapi konteks zaman sekarang, Kepala Departemen Koinonia turut mengingatkan jemaat akan seruan gerakan oikumene sedunia untuk menjangkau kelompok the last, the least, dan the lost. Gereja dipanggil untuk hadir bagi masyarakat yang tertinggal secara ekonomi dan pendidikan (the last), membela mereka yang lemah, miskin, dan suaranya diabaikan (the least), serta merangkul para migran, pengungsi, atau mereka yang kehilangan identitas sosialnya (the lost). Keadilan harus sungguh-sungguh diperjuangkan agar setiap manusia, terutama kaum yang tersisih, berkesempatan merasakan anugerah keselamatan dari Allah.

Bagikan:WhatsApp FacebookX
Gereja Bukan Tembok Pemisah, Kepala Departemen Koinonia Serukan Keadilan bagi Kaum Tersisih