
Hadiri Konsultasi CCA di Thailand, Ephorus HKBP Sebut Keragaman Gereja Sebagai Anugerah yang Dipersatukan Salib Kristus
3 Juni 2026
Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, menghadiri International Consultation on Ecumenism in Asia yang diselenggarakan Christian Conference of Asia (CCA) di Chiang Mai, Thailand, 31 Mei–3 Juni 2026. Dalam pertemuan ini, Ephorus menekankan keragaman gereja (ekumenisme polifonik) sebagai anugerah, serta pentingnya kerendahan hati dalam merawat dimensi pelayanan ekumene, ekonomi, dan ekologi.
CHIANG MAI (3/6) – Di tengah transformasi sosial dan dinamika global yang semakin kompleks, gereja-gereja di Asia ditantang untuk terus memperbarui komitmen oikumenisnya. Merespons panggilan tersebut, Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, hadir memberikan pandangan teologisnya dalam International Consultation on Ecumenism in Asia yang diselenggarakan oleh Christian Conference of Asia (CCA).
Berlangsung di kompleks Payap University, Chiang Mai, Thailand, pada 31 Mei hingga 3 Juni 2026, kegiatan yang mengusung tema “Emerging Ecclesial and Ecumenical Landscape” ini menjadi ruang refleksi bersama bagi gereja-gereja Asia. Dalam amatan Ephorus HKBP, perjumpaan antar-gereja di benua ini memperlihatkan realitas persatuan dalam keberagaman, atau yang beliau sebut sebagai ekumenisme polifonik.
Ephorus memaparkan bahwa keragaman pelayanan gereja—di mana sebagian menekankan struktur kelembagaan sementara yang lain berfokus pada tindakan bersama, atau gereja yang memprioritaskan penginjilan bersisian dengan gereja yang berfokus pada keadilan sosial—adalah sebuah anugerah. Tidak ada satu pola tunggal yang memadai untuk seluruh konteks. Beliau merujuk pada keberadaan empat kitab Injil dan 13 surat Paulus dalam Alkitab sebagai bukti bahwa keragaman penekanan kontekstual telah hadir sejak era Gereja Mula-mula. Untuk menjembatani keragaman tersebut, Ephorus menegaskan bahwa kerendahan hati adalah syarat utama keterlibatan ekumenis, dengan salib Yesus Kristus yang membebaskan sebagai pemersatu sejati.
Lebih lanjut, pimpinan tertinggi HKBP ini mengingatkan kembali bahwa gerakan oikumenis pada hakikatnya adalah upaya menghidupi kesatuan yang lahir dari karya pendamaian Kristus, sebagaimana tertulis dalam 1 Korintus 12:12. CCA tidak boleh sekadar menjadi kesepakatan kelembagaan, melainkan sebuah gerakan spiritual yang membangun solidaritas antar-gereja untuk menghadirkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.
Ephorus juga memberikan refleksi mendalam mengenai keterkaitan tiga dimensi pelayanan gereja yang berakar pada kata Yunani oikos (rumah): ekumene, ekonomi, dan ekologi. Panggilan gereja masa kini tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun persekutuan yang inklusif di rumah bersama (ekumene), mengupayakan tata kehidupan yang adil (ekonomi), serta menjaga keutuhan ciptaan agar tetap lestari menopang kehidupan (ekologi). Kunjungan ini diisi dengan pertemuan persaudaraan sekaligus mendoakan para kolega yang melayani di lembaga tersebut. Melalui seluruh rangkaian konsultasi ini, gereja-gereja anggota CCA diharapkan semakin nyata menjadi tanda kasih Allah yang membawa transformasi dan harapan bagi generasi masa kini maupun yang akan datang.