
HKBP Gerakkan Penanaman Pohon melalui Minggu Ekologi 2026
27 September 2026
HKBP melaksanakan Minggu Ekologi secara serentak di seluruh jemaat, Minggu (27/9/2026), dengan ibadah pusat di HKBP Pandan Kota, Tapanuli Tengah. Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST mengajak jemaat mensyukuri ciptaan, bertobat atas kelalaian terhadap alam, serta memperbarui komitmen merawat lingkungan melalui iman dan tindakan nyata.
PANDAN (27/9) - HKBP melaksanakan Ibadah Minggu Ekologi secara serentak di seluruh jemaat pada Minggu (27/9/2026), dengan pusat pelaksanaan di HKBP Pandan Kota, Tapanuli Tengah. Lebih dari 2.000 warga jemaat mengikuti ibadah pusat bersama Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST dan jajaran pimpinan HKBP. Melalui kegiatan tersebut, HKBP kembali menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari kehidupan iman yang perlu diwujudkan dalam tindakan.
Ephorus HKBP menyampaikan bahwa Minggu Ekologi menjadi momentum untuk mengucap syukur atas ciptaan Allah sekaligus melakukan pertobatan atas sikap dan kelalaian manusia terhadap alam. Menurutnya, komitmen iman perlu diperbarui dengan merawat, memelihara, dan memperjuangkan keutuhan ciptaan Tuhan. Karena itu, Minggu Ekologi tidak hanya diarahkan pada kesadaran, tetapi juga pada perubahan sikap dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam khotbah berdasarkan Mazmur 25:15–22 dengan topik “Mataku Tetap Terarah kepada Tuhan”, Ephorus mengajak jemaat tetap mengandalkan Tuhan dalam menghadapi berbagai pergumulan kehidupan. Sikap tersebut, menurut pesan yang disampaikan, juga harus tampak dalam tanggung jawab manusia terhadap alam dan lingkungan. Ciptaan tidak semata-mata dipandang sebagai sumber daya untuk digunakan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penanaman pohon dan penyerahan ribuan bibit tanaman produktif serta konservasi kepada perwakilan resort HKBP. Bibit tersebut diarahkan untuk ditanam di lingkungan gereja dan permukiman warga sebagai bagian dari tindak lanjut kepedulian ekologis. Ephorus bersama Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu dan jajaran pimpinan HKBP turut melakukan penanaman pohon secara simbolis.
Kepala Departemen Diakonia HKBP Pdt. Eldarton Simbolon menegaskan bahwa alam adalah milik Tuhan dan manusia menerima tanggung jawab untuk mengelola serta memeliharanya. Menurutnya, Minggu Ekologi diarahkan untuk membangun kesadaran bersama bahwa pemeliharaan bumi merupakan tanggung jawab iman. HKBP telah menjalankan perhatian terhadap isu ekologi secara terstruktur dalam beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari pelayanan gereja.
Sehari sebelumnya, Sabtu (26/9), HKBP menggelar Seminar Ekologi bertema “Menghidupi Iman, Merawat Ciptaan” di Pandan dengan melibatkan ratusan peserta dari berbagai kalangan. Ephorus HKBP hadir sebagai keynote speaker dan mengingatkan bahwa krisis ekologis bukan lagi persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat. Ia menekankan bahwa pemulihan pascabencana perlu berjalan bersama kewaspadaan dan keberanian menjaga hutan serta lingkungan agar risiko yang sama tidak terus berulang.
Seminar juga membahas kondisi lingkungan di Tapanuli Tengah, termasuk tata ruang, perubahan fungsi kawasan hutan, serta dampaknya terhadap wilayah hilir. Peserta turut membahas kebutuhan mitigasi dan penguatan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana ekologis. Pembahasan tersebut memperluas Minggu Ekologi dari perayaan gerejawi menjadi ruang pembelajaran dan keterlibatan bersama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu menyampaikan apresiasi terhadap keterlibatan HKBP dalam membangun kepedulian lingkungan. Ia menekankan bahwa penanganan persoalan ekologis membutuhkan keterlibatan bersama dan tidak dapat dijalankan pemerintah sendiri. Pemerintah daerah juga menyoroti pentingnya pemulihan kawasan hulu sebagai bagian dari penanganan risiko banjir di Tapanuli Tengah.
Kegiatan turut dihadiri Kepala Departemen Marturia HKBP Pdt. Bernard Manik, M.Th., Praeses HKBP Distrik Sibolga–Tapanuli Tengah–Nias Pdt. Nikson Simanjuntak, unsur Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, Pemerintah Kota Sibolga, Forkopimda, serta para pelayan dan warga jemaat. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari rangkaian Minggu Ekologi yang mempertemukan gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam kepedulian terhadap lingkungan. Seluruh rangkaian diarahkan pada komitmen bersama untuk menjaga keberlangsungan kehidupan dan alam.
Melalui Minggu Ekologi 2026, HKBP menghubungkan ibadah dengan tanggung jawab konkret terhadap ciptaan. Ephorus mengingatkan bahwa rasa syukur kepada Tuhan perlu disertai kesediaan mengakui kelalaian dan memperbaiki cara manusia memperlakukan alam. Dengan ibadah serentak, pendidikan ekologi, serta penanaman dan pembagian bibit, HKBP mendorong kepedulian lingkungan menjadi bagian dari kehidupan iman seluruh jemaat.