Logo HKBP

HKBP

Kembali ke Berita
HKBP Tuan Rumah ACLC 2026, Pertemukan Lebih dari 100 Pemimpin dan Perwakilan Gereja Lutheran
Berita

HKBP Tuan Rumah ACLC 2026, Pertemukan Lebih dari 100 Pemimpin dan Perwakilan Gereja Lutheran

14 September 2026

HKBP menjadi tuan rumah LWF Asia Church Leadership Conference 2026 di Jakarta, yang mempertemukan lebih dari 100 peserta dari gereja-gereja Lutheran di Asia dan sekitarnya. Dibuka Jumat (11/9/2026), konferensi bertema “Abound in Hope for Justice and Peace” membahas panggilan gereja menghadirkan pengharapan, keadilan, dan perdamaian.

JAKARTA (14/9) - Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) menjadi tuan rumah LWF Asia Church Leadership Conference (ACLC) 2026 yang mempertemukan para pemimpin dan perwakilan gereja-gereja Lutheran dari berbagai negara di Asia dan sekitarnya. Konferensi dibuka melalui ibadah dan Perjamuan Kudus, Jumat (11/9/2026), dengan mengangkat tema “Abound in Hope for Justice and Peace” atau “Berlimpah dalam Pengharapan akan Keadilan dan Perdamaian.”

Sebagai gereja tuan rumah, HKBP mengambil bagian dalam pelayanan pembukaan maupun penyelenggaraan konferensi. Ibadah pembukaan dipimpin Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, sementara Kepala Departemen Koinonia HKBP Pdt. Dr. Deonal Sinaga melayani Perjamuan Kudus bersama Pdt. Mika Purba dan Pdt. Lidia Butarbutar. Konferensi tersebut juga dihadiri Kepala Departemen Marturia HKBP Pdt. Bernard Manik, M.Th., Kepala Departemen Koinonia HKBP Pdt. Eldarton Simbolon, D.Min., Praeses HKBP Distrik VIII DKI Jakarta Pdt. Oloan Nainggolan, serta Ketua FKP HKBP Dra. Sandra Sidabutar.

Dalam khotbah pembukaan berdasarkan Mazmur 24:1, Ephorus mengingatkan bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan. Karena itu, manusia dipanggil untuk merawat bumi dengan kasih dan tanggung jawab. Ephorus juga menegaskan bahwa orang Kristen tidak hanya menerima kasih karunia Allah, tetapi dipanggil menjadi instrumen kasih karunia-Nya. Panggilan tersebut diwujudkan dengan memperjuangkan keadilan dan perdamaian serta menempatkan persoalan ketidakadilan terhadap manusia dan ciptaan sebagai bagian dari tanggung jawab iman. Dalam kaitan itu, keadilan dan perdamaian dipandang sebagai dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Gereja dipanggil menghadirkan kasih Allah melalui keberpihakan pada kehidupan yang adil dan damai, termasuk dalam relasi manusia dengan sesama maupun dengan seluruh ciptaan.

Tema konferensi tersebut menjadi dasar bagi peserta untuk membangun persekutuan, berbagi pengalaman, serta melakukan refleksi bersama mengenai berbagai tantangan yang dihadapi gereja-gereja di Asia. Kegiatan ini juga memberi ruang bagi para peserta untuk membicarakan pergumulan, visi, dan pengharapan gereja dalam konteks Asia maupun persekutuan Lutheran secara global. Konferensi diikuti lebih dari 100 peserta dari kawasan Asia dan wilayah lainnya. Para peserta berkumpul dalam rangkaian ibadah, persekutuan, diskusi, dan proses refleksi untuk melihat kembali panggilan gereja di tengah berbagai tantangan kehidupan masyarakat.

Sekretaris Jenderal Lutheran World Federation (LWF), Rev. Dr. Anne Burghardt, turut hadir dalam konferensi tersebut. Dalam pesannya kepada peserta, ia menekankan bahwa kesatuan gereja semakin kuat ketika Kristus ditempatkan sebagai pusat kehidupan bersama. Anne Burghardt juga mengangkat pentingnya perdamaian transformatif yang tidak berhenti pada berakhirnya konflik, tetapi mencakup perubahan dalam relasi, komunitas, dan struktur yang tidak adil sehingga manusia dapat hidup dalam martabat dan perdamaian yang berkelanjutan. Ia berharap pertemuan para pemimpin gereja Lutheran di Asia tersebut menjadi ruang untuk memperkuat pengharapan akan keadilan dan perdamaian, memperdalam pemahaman, memperkuat persekutuan, serta mendorong tindakan nyata dalam kehidupan gereja dan masyarakat.

Wakil Presiden LWF untuk Asia sekaligus Bishop Evangelical Lutheran Church of Hong Kong, Ben Chun Wa Chang, juga menekankan arti penting perjumpaan gereja-gereja dari latar belakang budaya, sejarah, dan konteks yang berbeda. Menurutnya, konferensi menyediakan kesempatan untuk bersekutu, berbagi, belajar bersama, dan membicarakan kehidupan persekutuan Lutheran di Asia.

Selain sesi bersama para pemimpin gereja, konferensi menghadirkan sejumlah narasumber. Di antaranya Pdt. Dr. Sukanto Limbong dari STT HKBP dan Rev. Dr. Idan Topno dari Gossner Theological College, India. Para peserta mendapatkan ruang untuk merefleksikan tantangan dan pengharapan gereja, sekaligus mengikuti ibadah serta perjumpaan dengan gereja dan budaya lokal Indonesia.

Sebelum pembukaan resmi ACLC, sejumlah kegiatan yang melibatkan kelompok muda dan perempuan dari gereja-gereja anggota LWF telah berlangsung di Indonesia. Sebanyak 37 orang muda berkumpul di Medan pada 6-10 September untuk merefleksikan tema Courageous Communion, sementara 32 perempuan dari gereja-gereja anggota LWF di Asia bertemu di Jakarta untuk membahas tantangan, peluang, dan prioritas strategis yang akan dibawa ke konferensi. Keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan gereja juga menjadi salah satu perhatian. Anggota Dewan LWF Ranjita Borgoary dari Northern Evangelical Lutheran Church, India, mencatat semakin aktifnya perempuan dalam menyampaikan pandangan dan membahas berbagai persoalan yang dihadapi gereja maupun masyarakat. (sc: lutheranworld.org).

Sekretaris Regional LWF untuk Asia Rev. Dr. Rospita Siahaan menjelaskan bahwa konferensi regional ini dimaksudkan sebagai ruang bagi para pemimpin gereja untuk saling terhubung, berbagi pengalaman dan tantangan, serta belajar satu sama lain sehingga gereja dapat merespons persoalan keadilan dan perdamaian sesuai konteks masing-masing.

Di tengah rangkaian konferensi, Ephorus HKBP juga bertemu dengan delegasi dari Nepal. Ia menyampaikan solidaritas dan keprihatinan atas bencana yang menimpa negara tersebut serta menyampaikan harapan bagi masyarakat yang berduka dan terdampak.

Pelaksanaan konferensi turut ditopang oleh pelayanan dan dukungan warga HKBP. Ephorus menyampaikan penghargaan kepada para pelayan dan warga jemaat yang mengambil bagian dalam mendukung penyelenggaraan pertemuan tersebut. Melalui perannya sebagai tuan rumah ACLC 2026, HKBP menjadi bagian dari perjumpaan gereja-gereja Lutheran di Asia untuk membangun persekutuan, saling belajar, serta memperkuat panggilan bersama dalam menghadirkan pengharapan, keadilan, dan perdamaian di tengah kehidupan gereja dan masyarakat.

Bagikan:WhatsApp FacebookX