
Kikis Stereotip Antardenominasi, KN-LWF Fasilitasi Dialog Teologis Lutheran dan Pentakostal di Sumatera Utara
5 Agustus 2026
KN-LWF Indonesia menggelar dialog teologis Lutheran dan Pentakostal di Catholic Center Christosopia, Medan (3-5 Agustus 2026). Melalui pemaparan historis dan teologis dari Pdt. Ebenezer Lumban Gaol, Ph.D dan Pdt. Florian MP Simatupang, Ph.D, kedua tradisi mengurai kesalahpahaman masa lalu dan sepakat merumuskan Naskah Refleksi Bersama demi kesaksian publik yang harmonis.
MEDAN (5/8) – Sebuah langkah maju dalam merawat keesaan gereja tercipta ketika para pendeta dan pelayan dari tradisi Lutheran dan Pentakostal duduk bersama dalam persekutuan yang hangat dan terbuka. Momen bersejarah ini terjadi dalam program “Dialog Teologis Antardenominasi” yang diselenggarakan oleh Komite Nasional Lutheran World Federation (KN-LWF) Indonesia di Catholic Center Christosopia, Medan, pada 3 – 5 Agustus 2026. Mengusung tema “Satu Roh, Satu Gereja: Identitas Gereja, Discernment, dan Kesaksian Publik dalam Konteks Masyarakat yang Majemuk”, pertemuan ini bertujuan menjembatani pemahaman antar-tradisi yang kerap bersinggungan di lapangan.
Kegiatan yang diikuti oleh pelayan dari berbagai gereja, termasuk HKBP, HKI, GPKB, GSJA, GPdI, GKPI, GKLI, GKPA, BNKP, lalu para mahasiswa dan beberapa dosen teologi dari tradisi Lutheran dan Pentakostal ini diawali dengan Ibadah Pembukaan. Pada hari pertama, Pdt. Ebenezer Lumban Gaol, Ph.D., Dosen STT HKBP Pematangsiantar, mengajak peserta melakukan Historical Discernment (penelaahan sejarah). Dalam paparannya, beliau mengurai akar sejarah Lutheranisme yang bermula dari Reformasi Martin Luther dan sejarah lahirnya Pentakostalisme dari kebangunan rohani di Azusa Street, Amerika Serikat.
Pdt. Ebenezer menekankan bahwa perbedaan ekspresi gerejawi, seperti ibadah Lutheran yang tenang karena mewarisi liturgi Reformasi, berhadapan dengan ibadah Pentakostal yang ekspresif warisan kebangunan rohani, bukanlah pertentangan ajaran, melainkan bentuk kontekstualisasi sejarah. Pemahaman historis ini menjadi landasan penting agar dialog tidak terjebak pada asumsi atau stereotip, serta mencegah gereja jatuh pada 'Arogansi Institusional'.
Memasuki hari kedua, Pdt. Florian MP Simatupang, Ph.D., Dosen STFT Jakarta, membedah tema “Roh Kudus dan Kesatuan Gereja” serta “Identitas Iman Bersama dalam Kristus”. Pdt. Florian menyoroti bahwa pada hakikatnya Pentakostalisme bukanlah sekadar gerakan yang berpusat pada kuasa Roh Kudus, melainkan tetap berpusat pada Kristus, di mana kuasa Roh bertujuan mengarahkan perhatian kepada Kristus. Beliau juga memberikan otokritik terhadap gereja-gereja yang menggunakan pengalaman kuasa Roh sebagai alat ukur kerohanian yang justru berpotensi memisahkan, bukannya membuka ruang bagi sesama seperti bukti sejarah di Ajusa Street yang terbuka bagi semua orang.
Inti dari keseluruhan pertemuan ini terletak pada sesi diskusi kelompok yang berjalan dinamis. Dipandu oleh berbagai pertanyaan reflektif yang disiapkan panitia, setiap kelompok yang berisi peserta lintas tradisi berpartisipasi aktif menceritakan dinamika, pergumulan pribadi, hingga tantangan pelayanan yang mereka hadapi.
Dialog yang dirancang dengan metode "D-I-A-L-O-G" (Discover, Identify, Appreciate, Listen, Open, Grow) ini berhasil memecah kebekuan tanpa mengkritisi pemahaman dari kedua aliran. Keterbukaan dari setiap peserta membuka kesadaran bersama bahwa selama ini terdapat banyak informasi dan narasi sejarah yang belum diketahui secara utuh, yang tak jarang menjadi akar kesalahpahaman antardenominasi. Para peserta disadarkan bahwa mereka memiliki lebih banyak titik temu daripada yang selama ini disangka, dan ada banyak ketidak tahuan yang sering membuat kedua dominasi saling tuduh.
Puncak pertemuan terjadi pada hari ketiga, saat peserta merumuskan langkah konkret pasca-dialog. Menyadari bahwa para peserta yang hadir belum bertindak mewakili institusi sinodenya masing-masing, pertemuan ini menyusun naskah “Refleksi Bersama”. Naskah ini diharapkan dapat menjadi dokumen referensi dan usulan bagi lembaga-lembaga gereja di Indonesia untuk membangun kesaksian publik yang harmonis. Seluruh rangkaian dialog tiga hari ini ditutup dengan Ibadah Penutup dan Perjamuan Kudus. Para pelayan Tuhan ini diutus kembali ke medan pelayanan masing-masing dengan membawa satu komitmen kuat: tidak ada gereja yang lebih baik dari yang lain, sebab kita semua berakar pada satu iman yang memuliakan karya Allah yang sama.