
Saling Menguatkan di Tengah Krisis Global, Catatan Penting Peran HKBP dalam Sidang Council LWF di Swiss
15 Juni 2026
Sidang Council Lutheran World Federation (LWF) 2026 sukses digelar di Founex, Swiss (11-15/6). Mengusung tema "Saling Menguatkan Dalam Iman", pertemuan ini mengevaluasi kinerja misi gereja dan menyusun peta jalan Sidang Raya 2030. Pdt. Dr. Deonal Sinaga turut mewakili kiprah aktif HKBP, di mana laporan pelayanannya diterima secara aklamasi oleh persekutuan Lutheran sedunia.
FOUNEX, JENEWA (15/6) - Persekutuan Gereja-Gereja Lutheran Sedunia atau Lutheran World Federation (LWF) baru saja merampungkan Sidang Council 2026 yang berlangsung pada 11–15 Juni di Founex, Jenewa, Swiss. Rangkaian pertemuan tahunan yang diawali dengan Rapat Komite Eksekutif pada 10 Juni ini mengusung tema “Saling Menguatkan Dalam Iman” yang didasarkan pada Roma 1:12. Di tengah dunia yang dihadapkan pada krisis multidimensional dan epidemi kesepian di era modern, majelis persekutuan Lutheran dunia merumuskan komitmen untuk mewujudkan kebenaran, keadilan, dan keutuhan ciptaan.
Fokus utama dalam Sidang Council tahun ini adalah penyusunan peta jalan menuju Sidang Raya LWF 2030 di Augsburg, Jerman. Komite pengarah mulai menetapkan tujuan dan prinsip-prinsip untuk perayaan 500 tahun Pengakuan Augsburg (Augsburg Confession) yang akan bertepatan dengan majelis umum tersebut. Dalam agenda ini, laporan pelayanan dan visi dari Presiden LWF, Bishop Henrik Stubkjaer (Denmark), serta Sekretaris Jenderal LWF, Pdt. Dr. Anne Burghardt (Estonia), mendapat apresiasi positif dan diterima secara aklamasi oleh seluruh anggota Council.
Di panggung global ini, HKBP turut memperlihatkan peran aktifnya melalui gerakan oikoumene. Pdt. Dr. Deonal Sinaga, Kepala Departemen Koinonia, yang bertindak selaku Ketua Komisi Teologi, Misi, dan Keadilan (CTMJ) LWF, mempresentasikan laporan kinerja Komisi dan Departemen Teologi, Misi dan Keadilan (DTMJ). Laporan yang dievaluasi secara mendalam oleh komite tersebut berujung pada penerimaan secara aklamasi dalam Rapat Pleno Council pada 15 Juni. Hal ini menegaskan kontribusi nyata gereja dari Indonesia dalam merespons berbagai persoalan global dan teologis bersama persekutuan gereja sedunia.
Kehadiran para delegasi dalam sidang ini juga membuka peluang kemitraan antar gereja anggota LWF. Dalam sebuah diskusi di sela-sela kegiatan, Presiding Bishop Evangelical Lutheran Church in America (ELCA), Pdt. Yehiel Curry, yang merupakan pendeta non-kulit putih pertama yang memimpin gereja Lutheran terbesar di Amerika Serikat, menyampaikan secara langsung ketertarikannya untuk mengunjungi HKBP dan gereja-gereja Lutheran di Indonesia.
Selain agenda teologis dan evaluasi, majelis juga menghasilkan beberapa keputusan strategis dan manajerial. Anggota dewan menyetujui laporan keuangan LWF 2025, laporan audit, serta rencana anggaran untuk tahun 2027, yang dilanjutkan dengan penyusunan pernyataan bersama terkait keadilan dan teologi. Pada tataran struktur kepemimpinan, komite menunjuk Pdt. Árni Svanur Daníelsson sebagai Kepala Staf Sekretaris Jenderal dan Pdt. Barbara Lund sebagai Direktur Pelayanan Dunia (World Service) yang baru.
Seluruh rangkaian sidang yang dipenuhi penekanan pada Teologi Salib dan panggilan Missio Dei ini ditandai dengan berbagai agenda ibadah. Sidang resmi dibuka melalui ibadah di sebuah gereja tua di tepi Danau Nyon pada 11 Juni dengan semangat bermisi dalam Terang Tuhan. Rangkaian spiritualitas ini kemudian diwarnai dengan Ibadah Minggu dan Perjamuan Kudus pada 14 Juni di Gereja La Cote, yang dipimpin langsung oleh Pdt. Frederick Shoo dari Evangelical Lutheran Church in Tanzania Northern Diocese (ELCT-ND) bersama Pdt. Katherine Gohm dari Kanada. Pertemuan ini resmi ditutup pada 15 Juni, mengutus para peserta kembali ke negara masing-masing dengan tekad baru untuk menghadirkan kasih dan damai Kristus.