
Sebut Transformasi Bagaikan Metamorfosis, Ephorus HKBP Bekali Calon Pendeta Hadapi Era AI di STT Pematangsiantar
22 Juni 2026
Ephorus HKBP membekali para peserta Pelatihan Kompetensi Profesi Calon Pelayan di STT HKBP Pematangsiantar, Senin (22/6). Mengusung topik “Transformasi Pelayan HKBP”, Ephorus menekankan pentingnya pembaruan karakter dan spiritualitas layaknya metamorfosis, sekaligus membekali calon pendeta agar tanggap beradaptasi menghadapi pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) di era digital.
PEMATANGSIANTAR (22/6) - Perjalanan menuju tahbisan sebagai Pendeta HKBP merupakan sebuah proses pemurnian yang sangat panjang. Setelah menempuh pendidikan teologi selama 4-5 tahun dan dinyatakan lulus ujian penerimaan, para calon pelayan harus mengikuti Latihan Kompetensi selama enam bulan. Menyadari pentingnya tahapan pembekalan awal ini, Ompu i Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, turun langsung memberikan pelatihan kepada para peserta di Sekolah Tinggi Teologi (STT) HKBP Pematangsiantar pada Senin (22/6).
Kehadiran pimpinan tertinggi HKBP ini disambut hangat oleh Ketua STT HKBP, Pdt. Dr. Sukanto Limbong, M.Th. Mewakili civitas akademika dan panitia, beliau mengungkapkan rasa syukurnya. “Kehadiran Ompu i Ephorus HKBP memberikan semangat dan sukacita tersendiri bagi kami. Di tengah berbagai kesibukan pelayanan, beliau berkenan hadir untuk memberikan arahan berharga dalam mempersiapkan peserta menghadapi tahapan pelayanan selanjutnya,” ujar Pdt. Sukanto.
Mengawali sesinya, Ephorus memaparkan materi bertajuk “Transformasi Pelayan HKBP” yang menjadi tema sentral pelayanan gereja periode ini. Beliau menekankan lima karakteristik utama yang wajib dimiliki setiap pelayan sesuai Buku Panduan Transformasi HKBP, yakni spiritualitas yang tangguh, karakter yang terpuji, kecerdasan cemerlang, keterampilan penggembalaan yang mumpuni, serta sukacita melayani yang terus menyala.
Lebih dalam, Ephorus merujuk pada nas Roma 12:2, di mana kata “berubah” diambil dari akar kata metamorphosis. Beliau menegaskan bahwa transformasi pelayanan menuntut pembaruan mendasar dan menyeluruh pada pola pikir serta karakter, bukan sebatas perubahan metode. Pembaruan ini sangat krusial, terlebih Ephorus menyoroti tantangan disrupsi teknologi, termasuk perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang mewajibkan pelayan gereja untuk lekas beradaptasi agar kecerdasannya mampu menjawab tantangan zaman.
Pemaparan visi gereja masa depan tersebut memicu antusiasme tinggi dari para peserta. Dipandu oleh Pdt. Dr. Rome Ronni Panjaitan Sinaga, M.Th., sesi tanya jawab berlangsung dinamis dan tajam, mengupas berbagai dinamika pelayanan di era digital.
Di penghujung acara, para peserta Latihan Kompetensi menyampaikan apresiasi atas pencerahan dari Ephorus HKBP. Rangkaian proses panjang ini, yang kelak akan dilanjutkan dengan praktik pelayanan tiga tahun dan ujian gerejawi, diharapkan dapat membentuk hamba-hamba Tuhan yang setia, bijaksana, dan tak sekadar kaya pengetahuan, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual yang mumpuni bagi kemuliaan nama-Nya.