Logo HKBP

HKBP

Kembali ke Berita
Sekretaris Jenderal HKBP Resmikan Prasasti Elfriede Harder Pada Puncak Dies Natalis ke-92 STB HKBP
Berita

Sekretaris Jenderal HKBP Resmikan Prasasti Elfriede Harder Pada Puncak Dies Natalis ke-92 STB HKBP

1 Agustus 2026

Sekretaris Jenderal HKBP, Pdt. Rikson Hutahaean, menyoroti pentingnya peran perempuan dalam penginjilan dan kemajuan peradaban Batak saat menghadiri Dies Natalis ke-92 STB HKBP di Laguboti, Sabtu (1/8/2026). Perayaan ini ditandai dengan peluncuran buku "Jejak Perempuan Dalam Misi", peresmian Prasasti Elfriede Harder, dan Ibadah Syukur.

LAGUBOTI (1/8) - Kemajuan masyarakat Batak dan wilayah Tapanuli secara keseluruhan tidak dapat dilepaskan dari jejak langkah dan kontribusi besar kaum perempuan. Hal tersebut ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal HKBP, Pdt. Rikson Hutahaean, M.Th., saat membedah makna pelayanan dan eksistensi perempuan dalam perayaan Dies Natalis ke-92 Sekolah Tinggi Bibelvrouw (STB) HKBP di Laguboti, Kabupaten Toba, Sabtu (1/8/2026).

Hadir sebagai keynote speaker dalam peluncuran buku bunga rampai berjudul “Jejak Perempuan Dalam Misi”, Pdt. Rikson Hutahaean memaparkan sebuah pergeseran paradigma pelayanan yang fundamental di tengah gereja. Menurutnya, pemahaman yang ada harus bertransformasi dari sekadar parjamita ina (pengkhotbah untuk kaum ibu), menjadi ina parjamita (perempuan yang menjadi pengkhotbah tangguh).

Pdt. Rikson Hutahaean menyoroti sebuah pesan menarik bahwa jika laki-laki kerap identik dengan pewaris tanah, maka perempuan adalah pewaris intelektual. Melalui pendidikan dan pembekalan, perempuan dipersiapkan menjadi sosok yang kuat untuk mendidik anak-anaknya menjadi generasi masa depan yang baik. Pembentukan karakter melalui kaum ibu inilah yang disebut oleh Sekjen HKBP sebagai silent mission (misi senyap) dari tokoh zending Elfriede Harder.

Lebih lanjut, peluncuran buku yang diresmikan oleh Ketua STB HKBP, Pdt. Maruhum Simangunsong, M.Th., ini menghimpun tulisan kolaboratif dari para dosen, alumni, dan aktivis. Karya ini merefleksikan bahwa misi pekabaran Injil bukanlah sekadar pekerjaan laki-laki, melainkan juga panggilan perempuan sebagai ciptaan Tuhan yang mampu menjangkau anak, gereja, dan masyarakat.

Pdt. Rikson mengingatkan bahwa dinamika pelayanan saat ini sangat cepat berubah. Oleh karena itu, para pelayan perempuan harus jeli melihat tantangan konteks masa kini dan masa depan. Sejarah juga telah membuktikan luasnya perjalanan dan kemandirian perempuan Batak di tengah politik zending, yang bahkan telah terbentuk jauh sebelum Indonesia merdeka.

Selain peluncuran buku, momen peringatan hari lahir STB HKBP (1 Agustus 1934) ini juga ditandai dengan pengguntingan pita Peresmian Prasasti Elfriede Harder oleh Sekjen HKBP dan Ketua STB HKBP. Prasasti ini menjadi monumen penghormatan atas dedikasi Schw. Elfriede Harder yang telah meletakkan dasar pelayanan misi perempuan hingga melahirkan lembaga pendidikan Bibelvrouw di HKBP.

Seluruh rangkaian acara yang dihadiri oleh jajaran alumni, unsur lembaga pemerintahan, institusi pendidikan, serta mitra STB HKBP ini dibingkai dan diawali dengan Ibadah Syukur. Ibadah dipimpin oleh Pdt. Venesia Hutabarat, M.Th. sebagai liturgis, dan doa syafaat dibawakan oleh Praeses HKBP Distrik IV Toba, Pdt. Ebsan Hutabarat, M.Th. Sementara itu, khotbah disampaikan oleh Praeses HKBP Distrik XI Toba Hasundutan, Pdt. Marganda Lubis, S.Th., M.I.Kom. Melalui perayaan usia ke-92 ini, STB HKBP diharapkan terus melangkah dengan iman dan hikmat untuk mencetak pelayan-pelayan Tuhan yang berkompeten, berintegritas, dan senantiasa menjadi berkat bagi banyak orang.

Bagikan:WhatsApp FacebookX