Logo HKBP

HKBP

Kembali ke Berita
Sekretaris Jenderal HKBP Serukan Paradigma Kosmik dalam Pelatihan Eko-Spiritualitas dan Pemulihan Ekonomi Pasca Bencana di Jetun Silangit
Berita

Sekretaris Jenderal HKBP Serukan Paradigma Kosmik dalam Pelatihan Eko-Spiritualitas dan Pemulihan Ekonomi Pasca Bencana di Jetun Silangit

12 Mei 2026

Sekretaris Jenderal HKBP, Pdt. Rikson M. Hutahaean, membekali 17 utusan daerah terdampak bencana dalam Pelatihan Pemulihan Pasca Bencana di Jetun Silangit (12-13/5/2026). Bekerja sama dengan EKiR, kegiatan ini merespons krisis ekologi dengan memadukan teologi pemeliharaan ciptaan, mitigasi bencana, dan praktik pertanian terpadu untuk memulihkan ekonomi warga.

SILANGIT (12/5) – Menghadapi rentetan bencana ekologis yang melanda wilayah Sumatera Barat, Tapanuli Raya, dan sekitarnya di akhir tahun 2025, HKBP menunjukkan kepedulian nyata dengan menggelar pelatihan eko-spiritualitas dan pemulihan ekonomi pasca bencana. Kegiatan ini berlangsung pada 12-13 Mei 2026 di Perkampungan Pemuda Jetun Silangit, diikuti oleh 17 peserta utusan dari daerah-daerah terdampak bencana, termasuk Tapanuli Selatan, Humbang, Humbang Habinsaran, Silindung, Samosir, dan Sibolga.

Dalam kegiatan yang terselenggara atas kerja sama HKBP dengan Evangelische Kirche im Rheinland (EKiR) ini, Sekretaris Jenderal HKBP, Pdt. Rikson M. Hutahaean, M.Th, memberikan pemaparan mendalam bertajuk “Keselamatan Alam Semesta”. Pemaparan tersebut disampaikan melalui sambungan daring dari Kantor Distrik XIX Bekasi - Sopo Marpingkir. Pdt. Rikson menegaskan bahwa pemahaman keselamatan saat ini harus mengalami pergeseran dari paradigma yang berpusat pada manusia (antroposentris) menuju paradigma relasional dan kosmik.

Beliau menjelaskan bahwa krisis ekologi sering kali berakar pada cara pandang yang keliru, di mana manusia merasa menjadi penguasa alam yang bebas mengeksploitasi. Padahal, sebagai imago Dei (gambar Allah), manusia diberi mandat fungsional untuk mengelola, memelihara, dan bertanggung jawab atas ciptaan Tuhan. “Merusak ciptaan berarti merusak harmoni, sedangkan memeliharanya berarti ikut ambil bagian dalam karya keselamatan,” pesannya. Beliau juga mengingatkan bahwa alam bernilai intrinsik dan merupakan tempat relasi manusia dengan Allah.

Kepedulian HKBP tidak hanya berhenti pada refleksi teologis. Pada sesi tanya jawab, Pdt. Rikson mengarahkan agar setiap tindakan pengawalan isu lingkungan hidup, khususnya di daerah rawan bencana dan lingkar tambang, dilakukan secara terkoordinasi melalui organisasi agar dapat direspons secara cepat dan tepat sasaran. Ia mengungkap bahwa HKBP saat ini sedang menganalisa secara komprehensif dampak jangka panjang keberadaan tambang terhadap kelestarian alam, kondisi udara, mutasi buah, dan dampaknya bagi masyarakat sekitar.

Lebih lanjut, menyikapi sekitar 10.000 warga yang terdampak bencana, Sekjen HKBP menyampaikan pesan penguatan ekonomi bagi para korban dan penyintas. Kantor Pusat HKBP mendukung penuh pembentukan home industry guna menopang pemulihan ekonomi jemaat. Dukungan ini diwujudkan langsung dalam sesi praktik di Jetun Silangit, di mana para peserta dibekali keterampilan integrated farming (pertanian terpadu), budi daya ternak ayam bersistem fermentasi, pemeliharaan lele organik, hingga pengolahan limbah kotoran ternak menjadi kompos.

Melalui pembekalan teologis dan praktis ini, seluruh pelayan dan pemuda yang hadir diharapkan mampu menjadi peace maker (pembawa damai) bagi bumi. Para peserta didorong untuk memotivasi warga sekitar agar kembali bersahabat dengan alam, berani bersikap kritis terhadap kebijakan pihak-pihak yang merusak lingkungan, serta memiliki kecekatan dalam mitigasi bencana di daerah masing-masing. Sebagai wujud komitmen menjaga rumah bersama, para peserta juga melakukan aksi penanaman puluhan bibit pohon di kawasan Jetun dan pekarangan gereja.

Bagikan:WhatsApp FacebookX