
Syukur 165 Tahun HKBP, Buku Sejarah dan Perjanjian Baru Bahasa Akit Diluncurkan
7 Oktober 2026
HKBP memperingati 165 tahun pelayanannya melalui Ibadah Pengucapan Syukur di Seminarium Sipoholon, Rabu (7/10/2026). Dipimpin Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, perayaan dalam rangkaian Sinode Godang ke-68 itu ditandai dengan peluncuran buku sejarah 165 tahun HKBP dan Perjanjian Baru dalam bahasa Akit.
SIPOHOLON (7/10) - HKBP memperingati 165 tahun perjalanan pelayanannya melalui Ibadah Pengucapan Syukur di Auditorium Seminarium Sipoholon, Tapanuli Utara, Rabu (7/10/2026). Ibadah dipimpin Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, dengan Sekretaris Jenderal HKBP Pdt. Rikson M. Hutahaean, M.Th. sebagai liturgis, di tengah berlangsungnya Sinode Godang HKBP ke-68. Perayaan mendapat penanda khusus melalui peluncuran buku sejarah 165 tahun HKBP serta Perjanjian Baru dalam bahasa Akit. Pasted text(1)
Dalam khotbah berdasarkan Mazmur 107:1, Ephorus mengarahkan rasa syukur bukan terutama pada panjangnya usia HKBP, melainkan kepada Tuhan yang tetap memelihara gereja melalui berbagai keadaan. Ia menegaskan bahwa bersyukur bukan berarti kehidupan terbebas dari persoalan, tetapi kemampuan melihat kebaikan Tuhan di tengah pergumulan. Perjalanan 165 tahun HKBP pun dipandang sebagai perjalanan yang melewati berbagai tantangan, tetapi tetap berada dalam pemeliharaan Tuhan.
Pesan syukur itu kemudian diarahkan kepada tugas HKBP pada masa kini. Ephorus mengingatkan bahwa mengikut Kristus tidak cukup hanya sampai pada kehidupan beribadah di gereja. “Terlalu pendek jarak yang kita tempuh mengikut Tuhan hanya sampai di gereja saja. Kita harus mengikut Dia dalam pelayanan Kristus kepada orang-orang yang menderita,” tegasnya.
Karena itu, pelayanan HKBP di bidang kesehatan dan pendidikan kembali mendapat perhatian dalam refleksi ulang tahun tersebut. Ephorus menyinggung pembangunan rumah sakit serta pelayanan melalui sekolah dan universitas sebagai bagian dari kehadiran gereja di tengah masyarakat. Arah pelayanan itu melanjutkan semangat pemberitaan Injil yang sejak awal tidak hanya disampaikan melalui perkataan, tetapi juga melalui pelayanan yang menyentuh kehidupan manusia.
Perjalanan pelayanan tersebut juga tergambar dalam refleksi sejarah yang disampaikan dalam rangkaian ibadah. Pemberitaan Injil di Tanah Batak berkembang melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, penginjilan, diakonia, dan pembentukan para pelayan lokal, kemudian meluas ke berbagai wilayah Indonesia dan luar negeri. Pada usia 165 tahun, warisan yang hendak diteruskan bukan hanya organisasi dan perjalanan sejarah, melainkan panggilan untuk tetap hadir, melayani, dan menjadi berkat.
Sesudah ibadah, rangkaian syukur dilanjutkan dengan peniupan lilin dan pemotongan kue, kemudian peluncuran buku sejarah 165 tahun HKBP. Buku tersebut disusun oleh tim sejarah yang melibatkan Pdt. Morhan Doloksaribu, M.Th. bersama para penulis dan editor lainnya. Penyerahan buku dilakukan secara simbolis kepada perwakilan unsur pelayanan dan gereja yang hadir.
Buku sejarah tersebut disusun untuk mendokumentasikan perjalanan HKBP dalam rentang 165 tahun. Dari pemaparan pada saat peluncuran, penyusunannya menggunakan berbagai sumber dan membahas perjalanan HKBP dalam beberapa periode besar, termasuk konteks masyarakat Batak sebelum masuknya kekristenan dan perkembangan gereja sesudahnya. Peluncuran buku dalam perayaan hari jadi menempatkan sejarah sebagai bahan untuk mengenali perjalanan gereja sekaligus memahami tanggung jawab pelayanan pada masa kini.
Peluncuran kedua memiliki kaitan langsung dengan pelayanan pemberitaan Injil HKBP, yakni Perjanjian Baru dalam bahasa Akit. Bahasa Akit digunakan masyarakat Suku Akit di Pulau Rupat, Kepulauan Riau, salah satu wilayah yang telah mendapat pelayanan HKBP. Dalam pemaparan sebelum peluncuran disebutkan bahwa proses penerjemahan melibatkan pendeta, majelis, dan jemaat HKBP, dengan pendampingan dari Lembaga Pelayanan Bahraku.
Pdt. Kristop Manuhutu dari Lembaga Pelayanan Bahtraku menjelaskan bahwa seorang putra asli Suku Akit turut menjadi penggerak utama dalam proses penerjemahan bersama tim pelayanan. Pekerjaan tersebut dilalui selama bertahun-tahun melalui berbagai kesulitan hingga Perjanjian Baru dapat diselesaikan. Kehadiran firman Tuhan dalam bahasa ibu diharapkan memungkinkan masyarakat Akit membaca dan mendengar firman dalam bahasa mereka sendiri.
Peluncuran tersebut belum menjadi akhir dari proses penerjemahan. Dalam pemaparan ditegaskan bahwa Perjanjian Lama dalam bahasa Akit belum selesai dan masih membutuhkan dukungan serta doa agar keseluruhan Alkitab kelak tersedia dalam bahasa tersebut. Perjanjian Baru yang diluncurkan pada momentum 165 tahun HKBP dengan demikian menjadi satu tahapan dalam kelanjutan pelayanan kepada masyarakat Akit.
Perayaan turut dihadiri pimpinan gereja-gereja sahabat, antara lain Ephorus GKPA Pdt. Dr. Ramli S.N. Harahap, M.Th., Bishop GKPPD Pdt. Mangara Sinamo, M.Th., dan Bishop GPP Pdt. Makmur Simaremare, S.Th., M.M. Hadir pula para Praeses, peserta Sinode Godang ke-68, unsur lembaga HKBP, pemerintah, serta warga jemaat. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari persekutuan syukur atas perjalanan pelayanan HKBP
Ibadah di Seminarium Sipoholon menjadi peringatan tepat pada hari jadi HKBP, 7 Oktober 2026. Rangkaian syukur 165 tahun selanjutnya akan diteruskan melalui Ibadah Raya dan Perjamuan Kudus di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (18/10/2026). Namun, perayaan di Sipoholon telah menegaskan arah syukur 165 tahun HKBP: mengingat pemeliharaan Tuhan, merawat sejarah, memperluas pemberitaan firman, dan meneruskan pelayanan kepada sesama.