
Tekankan Transformasi Spiritual Sejak Dini, Kadep Koinonia Sapa Anak Sekolah Minggu di Parheheon Distrik XXVIII Deboskab
1 Juni 2026
Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt. Dr. Deonal Sinaga, memimpin ibadah Parheheon Anak Sekolah Minggu HKBP Distrik XXVIII Deboskab di Ronatama Hall, Depok, Senin (1/6/2026). Mengusung tema "Roh Allah Mengubah Hidupku", beliau menekankan pentingnya transformasi spiritual agar generasi muda tumbuh teguh dan menjadi persembahan yang berkenan bagi Tuhan.
DEPOK (1/6) – Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt. Dr. Deonal Sinaga, hadir langsung menyapa dan menguatkan anak-anak dalam perayaan Parheheon Sekolah Minggu (Kebangkitan Anak Sekolah Minggu) se-HKBP Distrik XXVIII Deboskab. Acara yang dipimpin oleh Praeses HKBP Distrik XXVIII Deboskab, Pdt. Ridoi Batubara, S.Th., M.Pd.K., ini berlangsung di Gedung Ronatama, Depok, pada Senin (1/6/2026) dan turut disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube HKBP Distrik28 Deboskab.
Bertindak sebagai pengkhotbah, Pdt. Deonal Sinaga menjelaskan tema kegiatan “Roh Allah Mengubah Hidupku” yang didasarkan pada nats Roma 12:2. Dalam pesannya, beliau menekankan bahwa kuasa Roh Allah mampu memperbarui dan mengubah kehidupan anak-anak sejak usia dini. Melalui transformasi spiritual tersebut, generasi muda Sekolah Minggu diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang beriman teguh, sehingga kelak hidup mereka menjadi persembahan yang indah dan berkenan di hadapan Tuhan. Anak-anak Sekolah Minggu ditegaskan sebagai masa sekarang sekaligus masa depan gereja.
Selain ibadah, Parheheon ini diisi dengan tiga cabang perlombaan yang disambut antusias oleh para peserta. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah perlombaan story telling yang menceritakan kisah Saulus yang berubah menjadi Paulus, sebuah kesaksian hidup yang selaras dengan tema “Roh Allah Mengubah Hidupku”.
Pelaksanaan berbagai perlombaan ini menunjukkan wajah pelayanan yang kolaboratif. Dinamika acara memperlihatkan keberanian anak-anak tampil berkreasi, dedikasi Guru Sekolah Minggu yang tak lelah mendampingi, kasih orang tua yang mendukung, serta kehadiran para pendeta, bibelvrouw, dan pelayan penuh waktu lainnya. Panitia pun melayani dengan sungguh-sungguh hingga seluruh rangkaian ditutup dengan doa bersama.
Keberlangsungan acara ini sekaligus menjadi refleksi bahwa pelayanan gereja tidak dibangun oleh satu individu, melainkan oleh banyak tangan yang bekerja sama dalam kasih. Momen perlombaan bukan sekadar tentang memberi atau mencari nilai, melainkan ruang bagi anak-anak untuk bertumbuh, mengasah pengetahuan, memperluas keterampilan, dan membentuk karakter. Bagi para pelayan dan dewan juri yang bertugas, perhelatan ini menjadi pengingat untuk terus memegang integritas, bersikap rendah hati, serta mensyukuri setiap kesempatan melayani sebagai anugerah untuk terus belajar dan bertransformasi.