Logo HKBP

HKBP

Renungan Harian HKBP

Sabtu, 11 April 2026

45Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus.

3 Musa 11 : 45· Terjemahan Baru

Renungan Harian

3 Musa 11 : 45

Bapak, ibu dan saudara/i yang terkasih dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, sebelum kita memulai segala kegiatan kita satu hari ini, marilah kita terlebih dahulu mempersiapkan diri kita untuk mendengarkan firman Tuhan. Kita berdoa! Doa Pembuka: Allah Bapa yang bertakhta di dalam Kerajaan Surga, kami mengucap syukur atas penyertaanMu yang memelihara kehidupan kami. Kami akan mendengarkan firmanMu, pimpinlah hati dan pikiran kami dengan terang Roh Kudus-Mu, agar kami dapat menerima dan memahami firmanMu. Dalam nama Kristus Yesus kami berdoa. Amin. Renungan Firman Tuhan yang menjadi renungan bagi kita, tertulis dalam Imamat 11:45 “Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus.” Demikianlah firman Tuhan. Hidup Kudus Bapak, ibu dan saudara/i, Imamat 11:1-47 berbicara tentang binatang yang boleh (halal) dan tidak boleh di makan (haram). Ada beberapa penjelasan yang mengatakan bahwa jenis binatang yang diharamkan kebanyakan membahayakan bagi kesehatan manusia karena kurang higienis. Penjelasan yang lain mengatakan bahwa binatang-binatang yang haram itu biasanya digunakan sebagai persembahan korban kepada berhala-berhala oleh bangsa-bangsa non-Israel. Selain itu, masalah haram dan halal ini berkaitan erat dengan menjaga diri murni dan tahir di hadapan TUHAN. Jadi, hukum ini bukan sekadar dimaksudkan sebagai daftar makanan yang boleh atau tidak boleh dimakan, tetapi dengan ini Allah hendak mengajar umat-Nya untuk menyucikan diri supaya menjadi kudus. Ritual-ritual, korban, dan aturan kemurnian dalam Imamat berfungsi sebagai sarana pedagogis untuk menanamkan kesadaran bahwa Allah hadir di tengah umat-Nya, dan bahwa kehidupan sehari-hari memiliki dimensi spiritual. Dalam Imamat 11:44-45 ditegaskan bahwa, “Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi. Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus.” Ketika Allah menuntut kekudusan, Ia sebenarnya mengundang manusia untuk masuk dalam persekutuan yang lebih intim. Maka, kekudusan bukanlah tekanan, melainkan undangan kasih. Perspektif ini penting, karena banyak orang melihat hukum-hukum Imamat sebagai beban, padahal justru di dalamnya tersimpan kasih Allah yang mengatur kehidupan agar manusia tetap hidup dalam kehendak Allah. Ya, oleh karena Allah itu kudus, Dia menghendaki kita untuk hidup kudus di hadapannya, dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam hal makanan yang kita konsumsi. Dalam perjanjian ini, disebutkan berbagai binatang yang dinajiskan Tuhan Allah untuk tidak dimakan, antara lain: • Pertama, binatang yang hidup di darat, yaitu binatang yang tidak memamah biak (contoh: babi hutan) atau binatang yang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah (contoh: pelanduk, kelinci, dan unta), atau berkuku belah tidak bersela panjang. • Kedua, binatang yang hidup di air (laut dan sungai), yaitu binatang yang tidak bersirip dan bersisik. • Ketiga, binatang jenis burung-burungan berikut: Burung rajawali, elang janggut, elang laut, elang merah, dan elang hitam menurut jenisnya; burung gagak menurut jenisnya; burung unta, burung hantu, camar; burung pungguk, burung dendang air, dan burung hantu besar; burung hantu putih, burung undan, burung erring; burung ranggung (sejenis burung bangau) menurut jenisnya, meragai dan kelelawar. • Keempat, binatang yang merayap, bersayap, berjalan dengan kaki empat, kecuali yang mempunyai paha di sebelah atas kakinya untuk melompat (contoh: belalang). Binatang ini tidak najis. • Kelima, binatang yang merayap dengan perutnya dan berkeriap, seperti: tikus, katak menurut jenisnya, landak, biawak, dan bengkarung (sejenis kadal atau cecak), siput, dan bunglon. Bangsa Israel harus terus-menerus memisahkan diri dari segala kenajisan ritual agar mereka dapat mempertahankan keadaan mereka yang menyerupai Allah (imitatio Dei). Keadaan kudus yang membuat mereka layak memasuki tabernakel dan memiliki akses ke hadirat Allah. Frasa “jadilah kudus, karena Aku kudus” menentukan alasan teologis untuk mematuhi hukum makanan, untuk menjadi seperti Allah. Sehingga orang Israel dapat menjadi saksi yang mencerminkan esensi kekudusan Ilahi di dunia. Identitas teologis ini semakin diperkuat dengan pernyataan, “Akulah TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari Mesir untuk menjadi Allahmu” (11:45). Hal ini membawa kita kepada Keluaran 19:4-5, di mana dalam konteks pembuatan perjanjian, Tuhan menyatakan kepada bangsa Israel bahwa mereka akan menjadi bangsa yang kudus, dan mereka akan menjadi milik Tuhan yang berharga di antara semua bangsa. Inilah identitas esensial bangsa Israel. Oleh karena itu, Imamat 11:45 menegaskan kembali penanda identitas ini untuk mengajarkan kepada orang Israel alasan teologis utama untuk meniru kekudusan Allah. Gereja kita harus mempersiapkan diri untuk menjadi bangsa yang kudus. Hukum makanan bangsa Israel bertujuan untuk memungkinkan seluruh komunitas menjadi seperti Allah ketika mereka berusaha memisahkan diri dari kenajisan. Orang Kristen di masa kini tidak perlu mengikuti peraturan ini secara harfiah. Sebab prinsip yang kita imani sekarang sesuai dengan Konfessi HKBP Pasal 14 tentang makanan bahwa: semua yang diciptakan Allah adalah baik dan kita tidak memantangkan setiap makanan yang diterima asal dengan hati yang penuh syukur dan terima kasih, sebab apa saja yang diterima menjadi suci oleh karena Firman Allah dan doa (1 Tim. 4:4-5). Hati yang penuh syukur ini mengingatkan kita untuk menjadi seperti Allah dalam gaya hidup-Nya. Manusia tidak menjadi kudus karena mengindahkan bermacam-macam pantangan terhadap makanan. Karena imanlah yang menerima kekudusan dari Allah. Kita mewarisi simbolisme bersih dan najis dalam gaya hidup kita sebagai pengingat terus-menerus akan keberadaan dasar kita untuk menjadi bangsa yang kudus. Amin. Doa Penutup: Ya Tuhan Allah Bapa kami yang di Surga, terima kasih atas sapaan firmanMu hari ini, yang telah mengingatkan kami untuk mencerminkan esensi kekudusan Ilahi di dunia dengan cara menyucikan diri. Supaya menjadi hidup kudus di hadapanMu serta kami pun bisa menyerupai Allah yang adalah kudus. Segala ritual, korban, dan aturan kemurnian yang telah engkau paparkan melalui firmanMu dalam kitab Imamat ini berfungsi sebagai sarana pedagogis bahwa kehidupan sehari-hari memiliki dimensi spiritual, serta menanamkan kesadaran bahwa Engkau selalu hadir di tengah-tengah kami umat pilihanMu. Ajarilah kami dengan tuntunan Roh KudusMu untuk semakin menyadari bahwa hidup dalam kekudusan adalah bukti kasih Allah, bantulah kami menata hari kami agar seluruh pikiran, kata dan tindakan kami sesuai dengan kehendak Allah, yang tampak melalui hati penuh syukur. Dalam nama Kristus Yesus, kami berdoa. Amin.
Senada Siallagan

Penulis Renungan

Senada Siallagan

Pelayan HKBP

Bacaan Alkitab

Pagi

Psalmen 115 : 1 - 8

Malam

Mateus 17 : 24 - 27

Nyanyian

BE. 766 : 1