Bayangkan kamu sedang nongkrong di cafe estetik di pinggiran Danau Toba, memegang segelas kopi Arabika Lintong yang hangat. Kamera handphone-mu fokus ke cangkir kopi, tapi latar belakang indahnya perbukitan hijau dan tenangnya air danau justru jadi blur dan gak kelihatan. Sering kali, hidup kita tuh persis kayak gitu. 90% orang Kristen gagal melihat berkat karena matanya terlalu zoom-in pada masalah kecil yang ada di depan mata, sampai lupa melihat lanskap kasih Tuhan yang begitu megah di hidup mereka. Kita sibuk mengeluh tentang hal-hal kecil, sementara ada anugerah raksasa yang menopang detak jantung kita setiap detik.
Di kitab Bilangan 14, bangsa Israel mengalami krisis fokus yang parah. Mereka melihat raksasa di Kanaan, lalu mereka panik, menangis, dan bahkan pengen balik jadi budak di Mesir. Mereka mengalami amnesia rohani yang akut! Padahal, Allah Tritunggal sudah membelah Laut Merah buat mereka dan memberi makan manna tiap pagi. Firman Tuhan sampai ke Musa, "Sampai kapan bangsa ini menolak percaya kepada-Ku, setelah semua tanda mukjizat yang Aku lakukan di tengah-tengah mereka?" Tapi lihat keindahan kasih karunia di sini: Musa gak membalas dengan moralitas atau menyuruh bangsa itu "ayo kalian harus lebih saleh dan berusaha lebih keras". Gak sama sekali! Musa berdiri sebagai pendoa syafaat, dia bersujud dan memohon ampunan berdasarkan karakter Allah sendiri: yaitu Hesed —kasih setia Tuhan yang besar, panjang sabar, dan berlimpah kasih karunia-Nya.
Dan berabad-abad kemudian, atmosfer kasih karunia yang sama ini berdenyut dalam Perjanjian Baru. Rasul Paulus menulis surat kepada Filemon dengan getaran visi dan antusiasme yang luar biasa. Paulus memuji Filemon bukan karena dia sempurna tanpa cela, tapi karena kasih dan imannya kepada Yesus berbuah nyata bagi jemaat. Kata asli yang dipakai Paulus untuk 'kegembiraan' atau 'penghiburan' di ayat 7 adalah paraklesis, sebuah kekuatan yang menyegarkan jiwa yang lelah. Filemon membagikan kasih yang menggembirakan ini karena dia tahu dia sudah lebih dulu dipelihara dan dibenarkan oleh iman kepada Kristus.
Ingat, kamu dibenarkan dan dipelihara Tuhan bukan karena kamu hebat mengatasi masalahmu, tapi karena iman percaya kamu pada kesetiaan Allah Tritunggal. Kristus adalah Pendoa Syafaat yang jauh lebih besar dari Musa. Dia telah mati di salib untuk menanggung seluruh kegagalanmu, menjamin bahwa hidupmu aman dalam pelukan-Nya. Jadi, berhentilah zooming-in pada kecemasanmu hari ini. Ubah fokusmu. Lihatlah betapa besarnya kasih Allah yang menjamin masa depanmu. Mulai hari Minggu ini dengan visi yang baru. Sadari bahwa kamu dikasihi tanpa syarat untuk kemudian mengalirkan kasih yang menguatkan itu kepada orang-orang di sekitarmu, persis seperti Filemon yang menyegarkan hati orang-orang kudus. Yuk, alihkan pandanganmu dari "raksasa" masalahmu, dan pandanglah salib-Nya yang meruntuhkan segala ketakutanmu.
Mari kita berdoa. Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus, kami memuji-Mu karena kasih setia-Mu yang megah, yang memelihara hidup kami melampaui segala badai dan keterbatasan kami. Terima kasih karena di dalam Kristus, kami telah dibenarkan dan diterima seutuhnya. Ampuni kami jika sering kali kami mengalami amnesia rohani dan terlalu fokus pada ketakutan kami sendiri. Biarlah Roh Kudus-Mu memperluas sudut pandang kami hari ini untuk melihat bentangan anugerah-Mu yang melimpah, sehingga iman kami semakin teguh dan hidup kami bisa menjadi saluran kasih yang menggembirakan bagi sesama. Ke dalam tangan-Mu kami serahkan seminggu ke depan. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.