Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.
Renungan:Saudara-saudari yang terkasih, mari kita duduk sejenak dan berbicara dari hati ke hati. Di dunia digital yang penuh dengan sekat-sekat ini, kita sadar atau gak sering banget terjebak dalam budaya kotak-kotak. Kita memilih berteman hanya dengan yang satu circle, yang setara status sosialnya, atau yang punya pemikiran yang sama aja. Bahkan di dalam gereja pun, klik-klik eksklusif sering kali tercipta, membuat orang baru merasa terasing. Tapi dengarlah tulisan rasul Petrus dalam Kisah Para Rasul: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang."
Kalimat ini lahir dari sebuah revolusi yang dahsyat. Petrus, seorang Yahudi tulen yang punya tembok pembatas budaya yang sangat tebal, akhirnya dipecahkan hatinya oleh Tuhan untuk merangkul Kornelius, seorang perwira Romawi yang dianggap kafir. Di dalam sejarah dan budaya kita sendiri, kita mengenal nilai luhur Dalihan Na Tolu—sebuah tatanan hubungan kekerabatan Batak yang mengajarkan rasa hormat, kebersamaan, dan keseimbangan sosial bagi semua orang tanpa ada yang ditinggikan secara egois. Namun, Kristus membawa tatanan ini ke level kosmis yang melampaui batas suku.
Tuhan memilihmu bukan karena kamu lebih suci, lebih pintar, atau berasal dari latar belakang keluarga yang terhormat. Allah memilihmu murni karena kasih karunia-Nya yang radikal. Jika Pencipta alam semesta saja meruntuhkan tembok pemisah untuk menjangkau kamu yang sebenarnya penuh cela, hak apa yang kita punya untuk membangun tembok penolakan bagi sesama manusia? Di atas kayu salib, Kristus mati untuk mengumpulkan umat pilihan-Nya dari setiap suku, bahasa, dan latar belakang sosial. Darah-Nya adalah semen yang menyatukan batu-batu hidup menjadi bait Allah yang kudus.
Kesadaran akan injil ini akan menghancurkan kesombongan rohanimu sekaligus menyembuhkan rasa rendah dirimu. Kamu gak perlu minder karena gak se-hitz orang lain, dan kamu gak boleh sombong karena merasa lebih benar. Mari kita buka hati kita minggu ini, hancurkan sekat circlemu, dan jadilah perpanjangan tangan kasih Kristus yang inklusif bagi mereka yang terabaikan.
Mari kita berdoa: Tuhan Yesus, ampuni kesombongan hati kami yang sering kali membeda-bedakan orang dan membuat sekat dalam bergaul. Terima kasih karena Engkau telah menerima diri kami apa adanya melalui kasih karunia-Mu. Lembutkan hati kami agar kami bisa mengasihi sesama kami tanpa syarat, mencerminkan kasih-Mu yang universal. Amin.