Logo HKBP

HKBP

Renungan Harian HKBP

Minggu, 20 September 2026

HijauXVI DUNG TRINITATIS

SEGALA PERKARA DAPAT KUTANGGUNG DI DALAM TUHAN

10Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. 11Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 12Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 13Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. 14Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. 15Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. 16Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. 17Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. 18Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. 19Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Pilippi 4 : 10 - 19· Terjemahan Baru

Renungan Evangelium

Pilippi 4 : 10 - 19

Belajar Mengasihi Seperti Tuhan Pernah enggak kamu melihat ada orang yang dapat kesempatan kedua setelah bikin kesalahan, tapi orang-orang di sekitarnya malah sibuk bisik-bisik atau julid? Bukannya senang, beberapa orang justru merasa orang itu belum layak diampuni cuma karena standar mereka sendiri. Sikap seperti ini mirip banget sama kisah Nabi Yunus. Harusnya, sebagai nabi, Yunus senang waktu bangsa Niniwe bertobat dan diampuni Tuhan. Tapi Yunus malah kesal dan marah sama Tuhan cuma gara-gara Niniwe enggak jadi dihukum. Dia merasa bangsa itu enggak pantas dapat pengampunan. Untuk menyentil sikap Yunus, Tuhan memberi pelajaran lewat sebatang pohon jarak. Tuhan menumbuhkan pohon itu buat menaungi Yunus, lalu membiarkannya layu dan mati. Yunus sedih banget sampai marah karena pohon itu mati. Dari situ Tuhan menegur Yunus: kalau untuk pohon yang enggak dia tanam saja dia bisa begitu peduli, apalagi Tuhan terhadap jiwa-jiwa di Niniwe yang mau bertobat? Yunus ternyata lebih sayang sama kenyamanan dirinya sendiri daripada keselamatan orang lain. Refleksi buat Kita : Jangan sampai kita mirip Yunus yang gampang menghakimi dan pelit mengampuni. Kalau Tuhan yang Mahasuci saja mau menerima dan mengasihi setiap orang yang bertobat, siapa kita sampai berani menutup pintu buat mereka? Mari, kita belajar punya hati seperti Tuhan—hati yang mau mengasihi, merangkul, dan menyambut siapa saja tanpa memandang masa lalu mereka, supaya makin banyak orang yang bisa merasakan kasih Tuhan. Doa : Terima kasih ya Bapa telah memberi aku kekuatan dalam menghadapi segala perkara hidupku. Amin.

Bacaan Alkitab

Evangelium

Pilippi 4 : 10 - 19

Epistel

Jona 4 : 1 - 11