"Jadi diboto saluhut halak Jahudi ma i ro di halak Gorik na maringanan di huta Epesus, gabe songgop ma biar tu rohanasida saluhut, jadi tongam ma goar ni Tuhan Jesus.

Hal itu diketahui oleh seluruh penduduk Efesus, baik orang Jahudi maupun orang Yunani, maka ketakutanlah mereka semua dan makin masyurlah nama Tuhan Yesus."

Ulaon ni apostel 19: 17

Ephorus Mengimbau Koresponden dan Distributor SP Immanuel Bukan Hanya Penghubung, tapi juga Penulis

Ephorus Pdt Darwin Lumbantobing memberikan arahan dan bimbingannya kepada peserta pertemuan koresponden SP Immanuel. Tampak pada gambar, Ephorus didampingi Kabiro Informasi Pdt Arthur Lumbantobing (kiri) dan Wakabiro Informasi Pdt Yudhi Simangunsong (kanan)

Koresponden itu bukan sekadar menghubungkan penerbit (Surat Parsaoran) Immanuel dengan pelanggan (Surat Parsaoran) Immanuel, atau sekadar distributor, atau menagih uang (Surat Parsaoran) Immanuel dari pelanggan, tetapi juga sebagai penulis. Demikian penggalan kalimat Ephorus Pdt Dr Darwin Lumbantobing dalam arahan dan bimbingannya di pertemuan koresponden SP Immanuel pada Kamis (27/2/2019). Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 26 – 27 Februari 2019 di Parapat.

Ephorus mengawali arahan dan bimbingannya dengan berterima kasih atas kedatangan koresponden dari berbagai daerah yang telah memberikan perhatiannya kepada SP Immanuel. Mengulas historisitas SP Immanuel, Ephorus menjelaskan awal mula terbitnya SP Immanuel yang dibidani seorang misionaris yang bernama JH Meerwaldt pada Januari 1890.

SP Immanuel termasuk majalah tertua di Indonesia, namun memiliki tantangan yang besar, terutama di persaingan media cetak lainnya yang membawa visi dan misi popular. Persaingan itu juga mencakup komunitas pasar yang dituju media cetak. Tapi, SP Immanuel sudah memiliki pasar komunitasnya sendiri yaitu warga dan pelayan HKBP, tutur Ephorus.

Terkait oplah, Ephorus mengimbau distributor dan koresponden dapat juga mengamankan oplah itu dan meningkatkannya. Bahkan, sekaligus bisa mengisi berita SP Immanuel.

Lebih lanjut, Ephorus memetakan segmen pembaca SP Immanuel, yakni dari warga jemaat, sintua, pendeta, dan pelayan tahbisan lainnya. “Banyak ruas (warga jemaat) yang merasa bangga memiliki Immanuel. Banyak parhalado (majelis jemaat) yang merasa bangga memiliki Immanuel. Banyak pendeta juga. Jadi, harus dipenuhi keinginan itu. Kita tidak boleh mengatakan bahwa pembaca Immanuel hanyalah pendeta, atau hanya sintua, atau hanya ruas,” papar Ephorus. Ada beberapa persen isi SP Immanuel memenuhi segmen-segmen yang bervariasi itu. Sesuai dengan namanya, parsaoran, SP Immanuel harus menjadi perekat kehidupan jemaat. SP Immanuel harus menjadi alat komunkasi antarjemaat, jemaat dengan pimpinan, dan pimpinan dengan jemaat, jelas Ephorus. Biro Informasi - DM

comments

Leave a Reply